MADU PILIHAN ISTRIKU (RUBBY)

MADU PILIHAN ISTRIKU (RUBBY)
Rubby jatuh


__ADS_3

"Bu... Kaki robotnya lepas lagi," lapor Bram padaku ketika makan malam bersama.


"Bayu ngga patahin lagi, loh." sahut Bayu dimeja sebelah.


"Adi juga engga,"


"Udah, robot memang gitu. Kalau udah lepas sekali, pasti bakal gampang lepas lagi." balas Maliq.


"Tuh... Denger 'kan, yang Mas bilang. Yaudah, nanti kita cari sama-sama, terus kita pasang lagi. Mulai besok, simpen aja dilemari mainan. Nanti kalau lepas, keinjek yang lain kan bahaya, bisa jatuh." pesan ku, pada Bram.


"Iya, deh. Nanti, Bram tidur sama Ibu, ya. Mau nemenin adek bayi." pintanya padaku.


"Iya, boleh....."


Kami melanjutkan makan malam, dengan hati ku yang terus gelisah tak menentu menunggu Mas edra pulang kerumah. Perasa'an yang begitu sulit untuk dijelaskan sekarang. Antara khawatir, kesal, jengkel, dan rindu. Hingga, membuat aku gelisah.


Hingga pukul Sembilan malam, aku menunggunya disofa kamar, dan terus menatap jendela, menunggu, hingga rasanya aku ingin menangis, lalu ku telpon Mas edra.


"Hallo, sayang, belum tidur?"


"Mas... Kapan pulang?"


"Lagi ada meeting sebentar sayang, satu jam lagi Mas pulang, ya. Ngga usah ditunggu." bujuk nya padaku.


Aku melangkahkan kaki menuju rangjang, dan memeluk Bram yang sudah tertidur lelap, mengucapkan istighfar berkali-kali untuk menenangkan hatiku, hingga mata ku terpejam, dan tidur untuk beberapa sa'at.


Pov Author.


"Sayang, Mas udah pulang." bisik edra pada Istrinya.


Rubby membuka mata, lalu mencium tanganya dengan hangat.


"Kenapa lama? By, udah nunggu daritadi." tanya Rubby.


"Ma'af, tadi pertemuan, terus Mas diajak makan-makan sebentar. By masih sakit?"


"Ngga sakit, cuma lemes, gliyeng dikit."


"Terus, gimana maunya sekarang? Mas olesin minyak telon, ya perutnya?" tawar edra.


Rubby mengangguk, dan mulai membuka bajunya dibagian perut. Edra meraih minyak telon, dan mulai membaluri tanganya dengan minyak itu, lalu mengusapkan ke perut rubby, seraya menikmati setiap gerakan dari janin yang ada didalamnya.

__ADS_1


" By... Kangen Kakak."


"Udah, ngga usah ucap itu lagi. By lagi hamil gede, pamali."


"Sampai sakit mikirnya,"


"By... Kalau masih ngomong gitu, Mas tinggal nih," ancam edra.


Rubby langsung terdiam sejenak, namun matanya berkaca-kaca, menahan sesuatu yang benar-benar sesak di dadanya.


"Udah shalat belum?" tanya edra, mengalihkan perhatian.


"Udah, Shalat Isya, Tahajud, sekalian dzikir sama baca yasin buat Kakak. Mas, Shalat tahajud, ya. Mumpung belum telat." pinta Rubby.


Edra menyudahi aktifitasnya, lalu mencium kening Rubby, untuk berpamitan turun dan shalat dibawah. Menghela nafas panjang menuruni setiap anak tangga dirumah besarnya.


"Kenapa lagi, Dia? Sensitif sekali. Aku tahu, itu hanya rindu, tapi kenapa sampai menangis. Begitu tertekan sepertinya. Haruskah ku bawa ke psikiater besok?" lirihnya.


Edra memasuki kamar Bram, yang berada disebelah kamar Maliq, mandi dan mengambil air Wudhu, untuk melaksanakan Shalat Tahajud sesuai perminta'an Rubby. Ia begitu khusyu dalam shalatnya, dan melantunkan beberapa Do'a untuk sang Diana tercinta, dan keluarga yang masih bersamanya


Ya Allah, kenapa membuat hati Rubby gelisah lagi? Engkau lah yang maha membolak balikan hati umatmu, kembalikan Rubby ku seperti semula, meski Ia masih menyimpan kekesalan, setidaknya Ia tak selemah ini.


Aku rindu omelanya padaku, aku rindu wajah masamnya ketika menatapku. Sekarang, hanya lemah dan seolah tak berdaya.


Disa'at edra berdo'a, Rubby gelisah dan tak bisa tidur didalam kamarnya. Ia meraih air minum nya yang ada dimeja, namun ternyata kosong.


"Aaah... Airnya udah habis lagi. Mau panggil Mas, takutnya masih shalat. Ambil sendiri aja, deh." ucapnya, lalu bangun dari tempat tidurnya.


"Ibu, mau kemana?" tanya Bram.


"Ambil minum sebentar, ya. Bram tidur aja."


Ia berjalan perlahan kebawah, dengan memegangi pinggangnya yang terasa begitu pegal dikehamilan kali ini. Entah, sungguh luar biasa yang Ia rasakan sekarang.


Berjalan dikeheningan malam, dengan rasa kantuk, bercampur dengan insomnia yang diderita, membuatnya tak fokus, hingga menginjak sesuatu yang membuatnya terpeleset diketiga tangga terakhirnya.


"Astgahfirullah,..."


BRUUUGH!! Ia terjatuh kebawah, dengan posisi duduk, lalu terpental kedepan dan tengkurap.


"Auuuwwwh... Sakit." lirihnya, sambil memegangi perutnya yang nyeri. Berusaha tegak, tapi mengangkat kepala saja tak mampu.

__ADS_1


"Mass... Mas, tolong Mas, By jatuh." panggilnya disisa tenaga yang ada.


Edra yang samar-samar mendengarnya, langsung berlari keluar dalam keada'an panik.


"Ya Allah, By! By kenapa sayang?"


Edra mengangkat kepala Rubby dan meletakan dipangkuanya.


"Ma'af, By kepeleset tadi. Sakit, Mas... Tolong bawa By ke Rumah Sakit, kasihan, Bayi kita." lirihnya.


"Ya Allah, darahnya banyak banget, By. Bima....! Bik Inah! Ratih....!" teriak edra.


Mereka berhamburab keluar mecari sumber suara, dan begitu terkejut melihat lantai yang penuh darah, dan Rubby yang sekarat.


"Bima panasin mobil, Bik inah jagain anak-anak, Ratih, bersihkan ini." perintah edra pada mereka, lalu mereka dengan sigap ke pos masing masing.


Edra menggendong Rubby yang telah dibalut kain oleh Bik inah, agar pendarahannya tak begitu parah, lalu membawanya kemobil yang sudah dipersiapkan Mas bima.


Mereka berjalan dengan cepat, dan lancar karna jalanan memang sedang lengang.


Tiba di IGD, Rubby langsung disambut dan dibawa dengan Brankar keruang observasi. Ia segera dikonsulkan dengan Dokter Spesialisnya, dan harus segera dibawa keruang operasi.


"Pak... Pendarahanya cukup parah, kami harus segera melakukan tindakan." ucap salah seorang Perawat.


"Lakukan yang terbaik, selamatkan keduanya." mohon edra.


Perawat itu hanya mengangguk, lalu membawa Rubby keruang Operasi untuk ditindak.


Dirumah.


"Ya Allah, By, kenapa jadi begini?" gumam Bik inah, yang membantu Ratih mengepel lantai.


"Udah jalanya, Bik. Kita ngga tahu bagaimana takdir Allah." jawab Ratih.


"Nek inah, Ibu mana?" tanya Bram yang terbangun, dan duduk di anak tangga.


"Ibu... Dibawa ke Rumah Sakit karna jatuh Bram. Bram tidur sama Nenek saja, ya?" bujuknya.


"Iya..." jawab Bram.


Bik inah mengembalikan alat pel ke dapur, dan Bik ratih membersihkan yang lainya.

__ADS_1


"Ini 'kan, Kaki robot Bram. Kok, ada ditangga?" tanya Pria kecil itu, dengan mengambil kaki robot tersebut, dan membawanya kekamar.


__ADS_2