MADU PILIHAN ISTRIKU (RUBBY)

MADU PILIHAN ISTRIKU (RUBBY)
Berangkatlah sayang.


__ADS_3

Malamnya, Edra menemani Rubby belajar diruang kerjanya. Rubby bertekad kuat, untuk belajar dengan giat, agar bisa menjadi seperti Diana, dan bisa memajukan perusaha'an yang dikelolanya sekarang.


Edra mengajari dengan telaten, dan penuh kasih sayang, dan Rubby pun cepat belajar, dan menangkap semua yang edra ajarkan padanya.


"By, belum ngantuk?"


"Belum, Mas. Baru jam Delapan malem. Bentar lagi, mupung Maliq tidur nya anteng," balas Rubby.


Ia berjalan, menyusuri semua buku yang tersusun rapi di rak ruangan itu. Begitu banyak, tersusun sesuai abjad, dan menurut kategori bukunya.


"Ya... Bukunya diatas," lirih Rubby, ketika melihat buku incaranya ada di rak atas.


Ia melihat edra yang sedang sibuk, berniat tak ingin mengganggunya, dan berinisiatif, mengangkat sebuah kursi, untuk Ia naiki meraih buku tersebut.


"Eh.... Ngapain?" tegur edra, yang terkejut melihat Rubby menaiki kursi.


"Ambil buku," jawabnya polos.


"Turun!" bentak edra.


Rubby menurunkan tubuhnya, lalu menundukan kepala menghadap edra, yang menghampirinya.


"Nanti jatuh gimana? Itu kursinya tinggi. Mau, buat Mas jantungan? Kenapa ngga minta tolong? "


"Engga, Ma'af, tadi, By lihat Mas lagi sibuk. Makanya By inisiatif, buat ambil sendiri."


Tuk!! Edra menyentil kepala Rubby.


"Terkadang, meskipun seperti anak kecil, tapi Mas ngga bisa marah sama By. Mau ambil buku yang mana?" tanya edra dengan lembut.


"Itu, yang tentang cara mengembangkan bisnis," tunjuk Rubby. "Tuh, kan. Ngga nyampe,"


Edra yang gemas, lalu mengangkat tubuh Rubby yang mungil, dan menyuruhnya untuk mengambil buku itu sendiri.


"Udah, Mas." ucap Rubby, setelah berhasil mendapatkan bukunya. Dan edra kembali menurunkanya.


Ia membalik tubuh Rubby, hingga tepat didepan matanya, menekanya sedikit menghimpit rak buku.


"Lain kali, kalau ada apa-apa, ngomong sama Mas. Jangan inisiatif sendiri terus. Cukup Kakakmu yang terlalu mandiri, hingga membuat Mas menyesal, karna telah membiarkan nya seperti itu. Mas ngga mau menyesal Dua kali," tatapnya tajam.

__ADS_1


"Iya... Ma'af," jawab Rubby, dengan gugup.


Pov Rubby.


Tatapan itu, kenapa masih membuatku gugup. Bahkan setelah sekian lama menikah denganya, dan hampir memiliki Dua anak? Kenapa masih begitu berdebar. Ketika saling bertatap tajam, tatapan yang masih tetap membuatku terdiam mematung. Tatapan tajamnya yang membuatku tak mampu berucap apapun, bahkan, untuk menggerakan bibir saja, aku tak mampu.


"Mas..." lirihku.


"Hmm?" jawabnya, tanpa memalingkan tatapanya dari ku.


Cup...!! Aku mengecup bibirnya, dan membalik keada'an, menjadi Ia yang mematung dihadapan ku.


"Mas kenapa diem?"


"Nakal kamu sekarang?"


"Kan... Nakalnya sama Mas, ngga sama...."


"Siapa? Mau nyebut nama siapa?" omelnya.


"Engga... Ngga ada siapapun dihati Rubby, hanya Mas edra seorang." godaku, dengan memainkan jadiku didadanya.


Ia yang gemas dengan goda'anku, lalu menarik tanganku, dan mendekatkan bibirku kebibirnya, tapi seketika itu juga Maliq menangis.


"Baru anak satu, udah protes. Ntar kalo anaknya jadi Lima, makin banyak yang ganggu." ledek ku, lalu meninggalkanya pergi.


Aku menuju kamarku, berniat mendiamkan Maliq, yang ternyata sudah digendong oleh Bik inah.


"Belajar nya siang aja, By. Jangan kemaleman. Atau, kuliah aja sekalian." ucap Bik inah padaku.


"Engga ah, Bik... Kuliah capek, mana  Maliq masih kecil, mana mau lahiran adeknya. Yang ngasuh siapa?"


"Mupung Bibik masih muda, dan masih bisa bantuin ngasuh, By."


"Hmmm, By fikir-fikir lagi, ya. Lagian, perusaha'an aman kok, selama dipegang Mas Thomas. By tinggal datang, ketika bener-bener diperlukan," jawabku.


Bik inah pergi, setelah Maliq tidur, dan aku berbaring disampingnya. Menatap wajah polosnya, dan mengusap rambutnya yang semakin lebat.


"Apa... Memang harus kuliah, ya? Kalau belajar bagini memang agak sulit," gumamku, lalu tertidur desebelah Maliq.

__ADS_1


*


*


*


Pagi nya.


"By, Mas ada pertemuan diluar negri besok, Mas boleh pergi?"tanya Mas edra.


"Kenapa ngga pergi? Itu kan urusan bisnis."


"Mas takut, ketika Mas pergi, Anak kita lahir. Sehingga Mas ngga bisa nemenin persalinan anak kita." ucapnya dengan mengelus perutku yang sudah membesar.


"Ngga papa, kalau mau pergi, ya pergi aja. Toh, itu urusan bisnis, demi keluarga kita juga. Prediksi nya kan masih Dua minggu lagi,"


"Iya... Tapi takut seperti Maliq kemarin, lahir jauh sebelum jadwal. Mas minta Ibu kesini, ya?"


"Coba aja, asal jangan ngerepotin Ibu nantinya. Kan dirumah juga ada Bibik, dan Nunik bisa By panggil kesini." rayu ku padanya.


"Baiklah... Nanti, Mas telpon Ibu."


Aku merapikan dasi nya, lalu Ia mencium Maliq yang sedang bermain didepan tv, dan berangkat kekantor.


Pov edra.


"Bagaimana bisa aku pergi, ketika Ia sudah mendekati waktu lahiran? Aku bisa tak tenang selama bekerja." gumamku dalam mobil.


Sesampainya dikantor, aku menelpon Ibu, dan Beliaupun menyanggupinya, dan berjanji datang esok hari. Sedikit ada ketenangan dalam hatiku, tapi masih ragu untuk pergi meninggalkanya.


"Pak... Ini berkas, dan tiket pesawat untuk besok." ucap Gusti, Sekretaris baru ku.


"Harus benar-benar saya yang berangkat?" tanyaku.


"Mba Winda bilang, ketika Perusaha'an itu meminta Bapak yang datang, maka harus Bapak yang datang. Karna ketika orang lain yang datang, tanpa melalui perundingan, maka mereka akan membatalkan kontrak dengan sepihak." jawab Gusti.


"Iya, benar... Benar katamu, padahal, Mereka adalah salah satu colega terbaik kita, yang sudah puluhan tahun bekerja sama." jawabku, dengan memijit kepala.


Ketika aku merenung, kembali ku ingat kata-kata Rubby yang selalu menguatkanku, meskipun itu diadaptasi dari perkata'an Diana yang sering Ia ucapkan untukku.

__ADS_1


Laksanakan tugasmu, aku pun akan melaksanakan tugasku. Kita tak berpisah, tapi hanya sementara waktu tak bersama. Demi kita, dan demi buah hati kita, demi masa depan kita semua.


"Baiklah, sayang. Mas akan berangkat esok, jaga diri baik-baik. Mas titipkan, By bersama Ibu nanti." gumamku, lalu melanjutkan pekerja'anku yang menumpuk.


__ADS_2