
Kaki ku gemetar, jantungku berdebar begitu kencang. Aku segera melangkah dan berlari kembali kekamar.
BRUGH..!
Ku lemparkan tubuhku diatas tempat tidur, dan mengejutkan Mas Edra.
"Dee... Kenapa? Mana minumnya?"
"Mas ambil sendiri aja... Dee tiba-tiba pusing," jawabku, lalu menutup tubuh dengan selimut.
Ia tak bertanya lebih banyak lagi, hanya mendiamkan ku, dan meneruskan pekerja'anya.
Semalaman, hatiku gelisah dan tak bisa tidur. Aku memikirkan perkata'an Mama yang bergejolak dalam hatiku.
"Dee... Bangun. Hari ini mau pertemuan kan?" ucap Mas edra.
"Tapi badan ku ngga enak, Mas. Meriang rasanya."
"Demam? Mau ke dokter, Mas temenin ya,"
"Ngga usah lah... Biar sendiri aja nanti, Mas kalau mau berangkat ngga papa. Nanti aku kekantor sendiri aja dianter Rahmat."
"Oke... Mas berangkat dulu ya," pamitmya dengan mengecup keningaku.
Aku mandi, dan segera bersiap kekantor. Ku hampir Rahmat, anak Bi Inah yang ku jadikan sebagai supir pribadiku. Agar Ia bisa bekerja sambil kuliah.
"Mat... Nanti antar kekantor ya. Kamu ngga ada kuliah kan?"
"Iya, Bu... Hari ini ngga ada kelas."
"Oke... Tunggu bentar ya, saya ambil tas dulu." ujarku.
Ku ambil tas didalam kamar, dan aku keluar dengan mengunci pintunya.
"Mau kemana?" tanya Mama mirna mengagetkan ku.
"Kekantor, Ma. Ada pertemuan dewan direksi hari ini." jawabku.
"Kamu ngga usah ngurusin kantor. Fokus ke diri mu sendiri, gimana caranya bisa hamil, dan ngasih keluarga ini keturunan."
"Ma... Kami sudah berusaha mengenai keturunan. Tapi, sisanya Allah yang mengatur, kita hanya mengikuti takdir." jawabku, lalu pergi meninggalkanya.
Aku memasuki mobil, dan segera menuju kekantor bersama Rahmat.
"Tuan besar sudah berangkat bersama Ayahmu kan Mat?"
"Sudah daritadi, Bu."
"Oke... Cepetan ya, saya takut telat."
*
__ADS_1
*
*
Akhirnya aku tiba dikantor itu, dan segera menuju ruang rapat, sesuai jadwal dan agenda. Mereka semua memintaku sebagai pengganti Papa yang ingin pensiun dini. Dan akan meresmikan nya esok lusa.
Aku dan Papa bekerja mengurus semua proposal dan semua file penting hingga sore hari.
"Papa ngga jadi keluar kota?" tanya ku.
"Tunda besok aja. Ini semua lebih penting Dee." jawabnya.
Aku hanya bisa tersenyum dan mengangguk, mendengar ucapanya, dan melanjutkan pekerja'an itu.
Pov Author.
"Assalamualaikum, Ma...." ucap Edra memasuki rumah nya, setelah pulang dari kantor.
"Hey sayang, udah pulang... Mandi dulu sana," jawab Mama mirna.
"Dee sama Papa belum pulang?"
"Belum sayang, sepertinya lembur." Dianamu mungkin tak akan pulang malam ini sayang.
"Hmm, yaudah... Edra mandi dulu ya, Ma."
"Abis mandi langsung makan malam, ya. Ngga usah nungguin Diana..." teriak Mama mirna dari ruang makan.
Edra meng'iyakanya, dan tak lama kemudian, Ia menghampiri Mama nya untuk makan bersama.
"Pa... Dee pulang dulu ya, kasihan Mas edra." pamit Diana.
"Yaudah sana. Papa dikit lagi, tanggung."
"Oke..."
Diana lalu cepat-cepat bersiap dan pergi.
"Hey... Dee, kamu sama Pak Hadi aja. Papa mau sama Rahmat, karna ada yang perlu diobrolkan." teriak Papa.
"Oke..." jawab Diana, seraya meninggalkan nya.
Aku segere manuju mobil, dan memasuki mobil dengan Pak hadi didalamnya.
"Jalan, Pak."
"Loh... Non, kok naik sama saya ngga sama Rahmat?"
"Papa mau ngobrol sama rahmat katanya, yaudah yuk jalan." pintaku.
Pak hadi menuruti ku, dan berjalan sedikit cepat menuju kerumah.
__ADS_1
Aku pulang, dan masuk disusul Pak hadi dibelakangku.
"Assalamualaikum," ucapku.
"Waalaikum salam, sayang, kok sama Pak hadi? Biasanya sama Rahmat?" tanya Mas edra terkejut.
"Papapa nyuruh,"
"Kamu pulang sama Dia... Naik mobil siapa?" tanya Mama dengan wajah panik.
"Pakai... Mobil Papa lah. Papa pakai mobilku, kenapa?" tanyaku heran.
Mama membulatkan matanya, tersirat sesuatu disana, namu Ia tetap menahan sesuatu itu.
Aku menemani Mas edra makan malam, lalu menbereskan semua piring, membantu Bi Inah.
Satu jam berlalu, Mama terlihat semakin cemas. Aku berusaha menegurnya, tapi Ia berkata baik-baik saja. Hingga sebuah telepon memanggil.
Bi Inah datang mengangkat telpon itu, dan mendengarkan dengan seksama, lalu raut wajahnya mulai berubah.
"Tidaaaak! Tidak mungkin... Anak saya tidak mungkin meninggal. Kalian pasti salah orang!" teriak Bi inah, dengan menangis tersedu.
Aku menghampirinya, meskipun melihat Mama yang juga panik.
"Bibik kenapa?" tanya ku.
"Tuan sama Rahmat kecelaka'an, Rahmat meninggal Non.... Anak saya meninggal...." tangisnya histeris.
"Bagaimana suami saya Inah?" tanya Mama.
"Tuan sedang ditangani... Katanya cidera kepala,"
Mama berlari memanggil Pak hadi, Aku memanggil Mas edra, dan kami kesana bersama sama.
Dijalan, aku melihat sesuatu yang ganjal pada Mama dan Pak hadi. Pak Hadi seperti sedang mempertanyakan sesuatu dimatanya terhadap Mama, namun aku tak tahu apa itu.
Sesampainya dirumah sakit, kami berpencar. Mama mengamhampiri Papa, dan aku menemani Bik Inah dan Pak hadi menuju jenazah Rahmat.
Bik Inah menangis Histeris dihadapan jenazah putra semata wayangnya. Begitu juga Pak hadi, terlihat begitu hancur, meskipun berusaha tegar.
Aku menyabarkan Bik inah, hingga tangisnya berhenti. Dan mulai mengurus jenazah Rahmat untuk dibawa pulang. Sedangkan Papa, harus dirawat karna Cidera kepala yang cukup berat. Beliau butuh donor darah yang cukup banyak saat itu.
Aku dan Mas edra sama-sama memerikaskan darah kami ke Lab. Darahku cocok sebenarnya. Tapi, kata petugas Lab itu. "Ibu cocok.... Tapi Ibu ngga bisa donor karna hamil,"
"Apa? Hamil?" ucap kami bersama'an.
Rona bahagia menyelimuti kami berdua, meskipun sebenarnya aku resah, karna aku tak bisa mendonorkan darahku karna keada'an ini.
Kami membicarakanya pada Mama saat itu. Tapi, bukanya senang, Mama malah berbicara tak enak.
"Kenapa harus sekarang hamilnya? Papa butuh darahmu sekarang. Perusaha'an sudah diberikan, kenapa darah sedikit saja tak bisa kamu donorkan Dee...." Padahal, seharusnya kamu yang kecelaka'an disini.
__ADS_1
"Ma... Diana itu hamil, kami pun tak menyadarinya. Soal darah, nanti biar edra cari solusinya," bela Mas edra padaku.
Mama mendengus kesal, dan menghentikan bicaranya. Raut wajahnya semakin kesal sa'at menatapku. Aku hanya diam, antara bersyukur dan menyesal. Tapi aku bahagia.