
Pov Rubby.
Hamil anak kembar? Aku bahkan tak pernah bermimpi tentang itu. Sebuah kejutan yang begitu mengejutkanku dan Mas edra hari ini.
Kami berjalan pulang, sebuah notifikasi berdering di ponselku.
"Mas...."
"Ya, sayang?"
"Ini... Tanggal lahir Kakak?"
"Oh ya? Mas lupa? Karna terlalu sibuk dengan By, beberapa minggu ini. Ma'af, sayang." ucapnya padaku.
"Mampir ke makam, ya?"
"Kata Ibu, pamali lagi hamil kemakam,"
"Ngga papa, sebentar aja." rengek ku padanya.
"By... Minta apapun, akan Mas turuti. Tapi, jangan yang ini. Biar Mas nanti sore yang kesana."
Aku duduk memanyunkan bibirku dihadapanya. Kesal, itu pasti, tapi berbagai pengalaman mengajarkan ku banyak hal, hingga mau tak mau, aku harus menurutinya.
Sesampainya dirumah, aku meminta Mas edra agar segera mewakiliku ke makam, dan menyampaikan rindu ku padanya. Rindu yang tak akan pernah terlampiaskan, dan hanya do'a, yang bisa menyampaikan rasaku padanya.
Mas edra segera pergi, namun langsung berpamitan kekantor, sedang aku harus bedrest dirumah.
"Bagaimana, By...?" tanya Bik inah.
"Bik... Ngga jadi kosong kehamilan By yang sekarang. Justru, ada Dua bayi didalam perut By."
Bik inah begitu bahagia mendengarnya, hingga tak terasa air mata jatuh ke pipinya.
"Tapi... By harus bedrest total, karna sedikit bermasalah."
"Yaudah, apapun yang dikatakan dokter, By harus ikuti. Demi kebaikan semuanya. Biar, Bibik yang ngasuk anak-anak."
"Cari pengasuh bantuan, ya Bik. Bibik pasti capek."
__ADS_1
"Iya, boleh..." jawab Bik inah.
Dikaamar, aku menelpon Yayasan yang dulu mengirimku kemari menjadi perawat.
Tiba-tiba, teringat olehku, pertemuan pertama ku dengan Mas edra. Aku sudah kagum padanya sejak awal Bertemu, dan tak kusangka, kami dipertemukan kembali menjadi perawat dan Tuanya, hingga sekarang menjadi suamiku. Aku tersenyum sendiri ketika itu.
Seorang pengasuh, sudah ku pesan, dan sore nanti akan tiba. Seorang wanita, janda anak satu dari sebuah Desa, yang lumayan jauh dari kota ini.
Pov edra.
Sekali lagi, aku datang membawa kabar bahagia dari pernikahan ku dan Rubby. Aku bersimpuh dipusaranya, dan tertunduk menatap tepat dimana Dee berada.
"Sayang... Mas bawa kabar bahagia lagi, By hamil anak kembar. Dee pasti bahagia mendengarnya. Kadang, Mas sempat berkhayal, jika saja Dee masih ada pasti kita akan bahagia bersama-sama. Mengasuh anak-anak kita, dan bermain bersama mereka. Tapi yang sekarang, kandungan By bermasalah. Ia harus bedrast total untuk menjaga kandungan tersebut. Tak apa, asal mereka sehat, apapun akan Mas lakukan. Semakin tenang, ya Dee.... Ma'f, Mas tak bawa bunga kali ini, karna Mas pun harus buru-buru kekantor. Mas pamit, " ucapku, lalu mencium batu nisan nya.
Aku berjalan menjauh dari makam itu, menaiki mobilku, dan menuju kantor, memulai segudang pekerja'anku.
*
*
*
"Win... Hari ini, saya mendapatkan kejutan, yang terlampau membahagiakan bagi saya." ucapku padanya, dengan begitu bahagia.
"Loh, bukanya....."
"Tidak... Kandungan Ibu, tidak jadi kosong. Melainkan, ada dua bayi kembar didalam rahimnya sekarang, Win. Saya akan punya Empat orang anak,"
Winda begitu bahagia mendengarnya, begitu juga karyawan lain yang ikut mendengarkan. Semua memberiku selamat, dan mendo'akan kesehatan Bayi kami, yang masih rentan itu.
"Karna saya sedang bahagia hari ini, saya akan mentraktir kalian semua. Kita borong semua makanan pedagang kecil yang ada dipinggir jalan. Saya senang, orang disekitar saya juga harus bahagia. Gusti.... Ajak. Beberapa orang memborong makanan, ambil uang dibrankas, karna saya hanya bawa credit card hari ini. "
Gusti menurutiku, dan membawa setidaknya sepuluh pegawai Pria untuk ikut denganya. Dan, ternyata bukan makananya saja yang Ia borong, melainkan, pedagang dan gerobaknya, mereka bawa kekantor.
"Kantorku, seperti pasar kaget hari ini," gumamku, seraya menatap mereka bahagia.
Sepuluh Bulan sudah, kehamilan Rubby. Aku begitu bersyukur, karna semua nya sehat, meski harus bolak balik ke Rumah Sakit, mengontrol dan merawat Rubby disana.
"Mas... Kok belum ada tanda-tanda kelahiran, ya?"
__ADS_1
"Kita cek, ya? Sebelumnya, selalu maju. Tapi, yang ini kenapa mundur?"
Aku menggandeng Rubby menuju Rumah Sakit, sedang Maliq dan Bram, dirumah bersama Bik Inah dan Mba ratih, pengasuh mereka.
Dirumah sakit, dokter menyarankan, agar harus segera diperasi, karna banyak resiko, jika harus menunggu persalinan normal.
Rubby begitu bingung, dan takut ketika itu. Ia tak pernah membayangkan, jika akhirnya akan masuk ke meja operasi, demi melahirkan Bayi kami.
Pov Rubby.
Cemas, takut, itu pasti. Selama ini, aku hanya menemani pasienku keruangan ini, dan sekarang harus aku yang ada disana.
Aku diobservasi selama Empat jam, sebelum operasi dimulai. Mereka melakukan berbagai pemeriksa'an padaku, dari cek darah, urin, jantung, dan berbagai macam pengecekan, untuk menunjang semua proses itu.
Waktunya tiba, aku sudah dipersiapkan dengan semua alat diruangan itu. Bersama beberapa dokter dan perawat berseragam lengkap disana. Dokter anastesi, mulai menyuntikan obatnya dipunggungku, dan aku perlahan mulai merasakan efeknya, tanganku terlentang, dikedua sisi meja operasi. Satu lengan dengan infus, dan satu lengan dengan tensi darah. Sementara, ada pembatas dibagian leherku, agar tak melihat semua prosesnya. Lampu terang dihidupkan, tepat diatas kedua mataku, begitu menyilaukan. Itu, tanda semua proses akan segera dimulai.
Mereka semua mengajak aku mengobrol dengan santai, menanyakan, apa yang aku rasakan ketika itu. Dan aku hanya tersenyum membalasnya.
Beberapa menit kemudian, aku merasa sedikit sesak, namun ku tahan. Aku terus berdo'a dalam hati,. Menoleh kekanan, dan kiri ruangan itu, agar tak fokus dengan ketakutanku.
Ada sosok yang kurindukan, hanya sekilas pandag, sedang menatapku disudut ruangan. Berbaju putih, begitu anggun dan cantik. Ia tersenyum, seolah memberiku semangat dan selamat. Aku terus menatapnya sepanjang waktu, himgga terdengar, suara Dua bayi kembarku yang sudah datang kedunia barunya, menangis dengan sekuat tenaga. Tapi, sosok itu pun menghilang dari pandanganku.
"Kak... Jangan pergi dulu," gumamku. Lalu, aku seolah tertidur, dan tak sadarkan diri.
"By... Bangun sayang," suara Ibu, terdengar memanggilku.
"Kak... Kakak, jangan pergi dulu,"
"Astaghfirullah... Sadar, nak... Ini Ibu."
Aku mencoba membuka mata, kulihat, mereka yang mencintaiku, berdiri tepat, disamping brankarku.
"Kak Dee, sudah lebih dulu tadi,"
Aku dibawa kembali keruangan, dan disana, sudah ada Kak fitri, dan Maba maya, yang menggendong Bayi kembarku masing-masing satu.
Kami sepakat memberi nama, sesuai dengan yang ku niatkan. BAYU KUMBARA, DAN ADYAKSA KUMBARA. Seperti kedua Kakaknya. Mereka akan tumbuh besar bersama, seperti anak kembar ketika sedang lucu-lucunya.
Empat Ksatriaku telah lahir, menyempurnakan hidupku. Mereka adalah pewaris tahta kami berikutnya, yang akan mewarisi semua yang ditinggalkan Bunda dan Ayahnya.
__ADS_1