MADU PILIHAN ISTRIKU (RUBBY)

MADU PILIHAN ISTRIKU (RUBBY)
Keputusan yang berat


__ADS_3

"Kak... Bagaimana bisa kakak mempunyai pemikiran seperti itu?" Tanya ku.


"Kita membicarakan nya tadi, kamu ingat?" Ucap Kak diana.


"Tapi Kak... by bahkan belum memberi keputusan apapun."


"By... Bisa kamu keluar sebentar?" pinta Pak Edra padaku.


Aku melangkah kan kaki ku dan keluar dari kamar, meninggalkan mereka berdua.


"Bagaimana bisa semua jadi begini? Apa yang harus ku katakan selanjutnya. Ya allah, By bingung." Gumam ku dalam hati.


Pov author.


Aledra duduk disamping istrinya, membelai rambutnya, dan menciumi tangan nya.


"Kanker naik jadi stadium tiga mas."


"Iya, aku tahu."


"Semakin kecil harapan ku untuk memberi mu anak."


"Dee... tolong, jangan bahas ini."


"Ngga bisa. Ini harus segera diselesaikan."


"Lantas, bagaimana maumu? Kenapa harus Rubby?"


"Karna aku cuma ingin Dia yang jadi maduku, bukan yang lain. Aku yakin, Dia bisa memberi mu keturunan. Dia juga masih muda, cantik, dan menggairahkan. Tak seperti aku, yang untuk  melayani mu pun sudah tak mampu."


"Dee, dengar aku. Kita tidak bisa membawa Rubby dalam masalah kita. Dia pun punya masalahnya sendiri. Jika pun nanti aku akan menikah dengan nya, maka Rubby akan menjadi bulan-bulanan Mama. Kamu ngga kasihan sama dia?"


"Mas... Aku tak akan ikhlas jika kamu bersama yang lain, ngga akan. Meskipun Dia itu sepupu tirimu. Tapi Rubby, Aku merasakan jika nanti Dia yang akan bisa menjagamu dengan baik terutama jika aku sudah tiada nanti."


"Dee!!!!" Bentak Edra spontan, lalu memijat keningnya untuk menahan amarah.


"Istirahatlah Dee... Nanti kita bicara lagi." Ucap Edra lalu meninggalkan Diana pergi.


Aledra keluar untuk mencari udara segar, agar fikiran nya sedikit tenang. Rubby menghampiri nya, untuk mengatakan sesuatu.


"Pak... Boleh saya bicara?"


"Mau bicara apa By?"


" Sebelumnya saya minta maaf, tadi pagi memang Ibu menanyakan tentang perjodohan. Saya bilang jika akan memikirkan nya. Tapi, saya benar-benar tidak tahu jika yang akan dijodohkan dengan saya itu adala Bapak. Maaf pak...."

__ADS_1


" Tak apa By, saya faham. Semoga ini hanya pemikiran sementara Diana. Biarkan Ia istirahat sekarang. Setelah itu, jangan bahas hal ini lagi padanya."


" Baik Pak... Saya janji, saya ngga akan bahas itu lagi," Balas Rubby lalu pergi.


Suasana dalam rumah itu seketika menjadi hening, terutama saat kondisi diana yang terlihat semakin melemah dan butuh perhatian ekstra dari aledra dan Rubby.


Beberapa hari ini, Diana seolah tak mampu bangun dari tempat tidurnya, dan hanya berbaring diranjangnya itu.


"Kak, Hari ini waktu nya kemo, Mandi dulu yuk." Bujuk Rubby.


"Iya By, gandeng saya ya, saya lemes." Pinta Diana.


Rubby memegangi Diana dengan erat dan memapahnya kekamar mandi. Dibimbingnya Diana untuk membasuh muka dan menggosok giginya dengan pelan.


"By... By gusi saya berdarah By, banyak banget. Gimana ini By?" Tanya Diana denagn panik.


"Ya ampun Kak, tenang dulu jangan panik. Ayo kumur-kumur biar bersih." Ucap Rubby.


Tapi, semakin  Diana berkumur, darah yang mengalir justru semakin deras hingga membuat Diana jatuh pingsan dan semakin lemah.


Rubby memanggil Aledra yang sedang sarapan. Aledra pun langsung menhampiri mereka dan membawa Diana kerumah sakit.


.


.


.


"Bagaimana Bu diana dok.?" Tanya ku.


"Kondisi nya sedang sangat lemah sekarang. Saya saran kan, agar tidak memberi beban fikiran lebih pada pasien, agar pasien tidak semakin stres." Jawab dokter.


"Beban fikiran. Beban fikiran seperti apa? Apa kah Dia masih memikirkan tentang rencana nya menikahkan ku dengan Pak Edra?" Gumam ku.


Dokter kemudian kembali keruangan nya, dan aku segera masuk menemui Pak edra dan Kak diana yang sedang terbaring lemah.


" By... "Panggil nya padaku.


" Iya kak, kenapa? Ada yang sakit? " Tanyaku seraya mendekati nya.


" Bukan tubuhku yang sakit, tapi hatiku By. "


" Dokter bilang, Kakak jangan banyak fikiran. Kakak mikirin apa? "


" Aku mikirin kalian By. Kalian berdua yang menolak keinginan ku."

__ADS_1


"Dee... Kenapa,"


"Pak... Biarkan saja saya bicara." Sela ku.


Pak edra mengangguk dan keluar ruangan.


"By... Kakak mohon By, hanya kamu yang Kakak percaya sekarang."


"Kenapa harus By kak?"


"Jujur By, Kakak. Sebenarnya ngga ikhlas untuk membagi hati Mas edra dengan yang lain. Tapi, sama kamu kakak seperti mendapat sebuah harapan baru By."


"Tapi Bapak ngga mau."


"Itu urusan saya... Kamu tunggu aja By, itu urusan saya."


"Tapi By ngga mau di cap perebut suami orang kak."


"By ngga ngerebut, By cuma bantu kakak dan Mas edra. Kakak yang minta, dan kita akan hidup bersama bertiga."


Aku hanya diam dan mengusap tangan nya. Hanya demi membahagiakan Kak diana yang mungkin waktu nya tak akan lama lagi.


"Oke By, sekarang kita pulang yuk. Kakak ngga betah dirumah sakit ini, kakak kangen nasi goreng buatan mu." Ucap Kak diana.


"By tanya dokter dulu ya kak." Ucap dan berlalu pergi meninggal kan nya.


"Kenapa harus aku. Kenapa bukan yang lain? Jikalau iya nanti nya aku dan pak edra akan menikah, bagaimana nanti nya jika sebuah pernikahan dilaksanakan tanpa adanya cinta. Dan bahkan, fikiran ku pun belum lepas dari bayangan Bang bagad setelah setahun kepergian nya. Bapak, bagaimana meminta restunya nanti, apalagi dengan kondisi pak edra yang sudah menikah. Aku akan jadi istri kedua. Ya Allah, kenapa semua jadi begini? " Batinku.


Aku berjalan menyusuri lorong rumah sakit, mencari ruangan dokter yang menangani Kak diana saat itu.


Mendekati pintu masuk ruangan, samar-samar ku dengar dokter dan Pak edra sedang bebicara.


" Pak... Saya tahu ini sulit. Tapi jujur, Leukimia yang diderita Bu diana semakin hari semakin parah. Saat ini masih stadium tiga, tapi bisa jadi esok hari naik lagi ke stadium empat, atau bahkan."


"Tolong dok, bagaimana pun caranya, berapapun biayanya. Bahkan kemanapun akan saya tempuh demi pengobatan nya."


"Ini bukan lagi masalah uang Pak, saran saya sekarang buat lah Bu diana bahagia dihari-hari terakhirnya. Beri dia energi positif dalam hidupnya agar semangat hidupnya kembali terpacu. Hanya itu saran saya."


"Baiklah, saya permisi dulu dok." Pamit pak edra dan keluar dari ruangan.


Kami hampir bertabrakan saat itu. Dan sama-sama terkejut.


"Ma, maaf Pak ngga sengaja. Saya mau panggil dokter karna Ibu minta pulang." Ucap ku gugup.


"Kamu dengar semuanya By?" Tanya nya padaku dengan tatapan tajam.

__ADS_1


__ADS_2