MADU PILIHAN ISTRIKU (RUBBY)

MADU PILIHAN ISTRIKU (RUBBY)
Madu kesayangan


__ADS_3

"Loh, kenapa tersinggung? Emang bener kan?" ucap Bi Nunik lagi.


Kali ini, Aku hanya ingin diam, tanpa mau melawan perkataan nya padaku. Aku lelah.


Aku menarik nafasku dalam-dalam, dan berjalan kembali kekamar ku.


Terdengar, suara mengetuk pintu dari luar, dan ternyata Bi Inah menghampiri ku.


"Bi, kenapa?" tanya Ku.


"Bibi dengar, apa yang dikatakan Nunik barusan. Jangan diambil hati, ya."


"Iya, Bi. Makanya, By langsung pergi. By capek, tadi nemenin Kak Dee kemo, tapi ngga boleh masuk."


"Kenapa, By?"


"Kak Dee takut, reaksi kimia yang ditimbulkan obat kemo, bisa buat By susah hamil. Jadi, Kak Dee nyuruh By duduk diluar Bik."


"Ya, memang begitu Nyonya. Terlihat begitu sayangnya beliau sama Kamu, kamu harus bersyukur, By."


"Iya, Bik. By bersyukur banget punya Kak Dee, dan Mas Edra yang begitu perhatian sama By."


"Yaudah, By istirahat. Bibik siapin makan malam, ya," ucap Bi Inah, dna meninggalkan ku.


Bi Inah memang begitu baik padaku, selama dirumah ini, beliau yang selalu membimbingku dalam berbagai pekerjaan. Beliau seorang janda, dan Anaknya sudah meninggal, begitu pengakuanya. Sebenarnya, Bi Nunik adalah keponakan nya, yang Beliau bawa untuk membantu tugasnya disini. Tapi, berbeda 180 derajad sifatnya dengan Bi Inah.


Setelah pergi nya Bi inah dari kamarku, Aku membaringkan tubuhku sejenak, untuk istirahat.


"By... Bangun By," Mas Edra membangun kan Ku.


"Iya, Mas. Udah pulang?"


"Udah, daritadi. Bagaimana Diana?"


"Ya... Gitu lah, Mas. Seperti yang By ceritain ditelpon."


"Tapi, Diana baik-baik aja, kan?"


Aku menggeleng sedih.


"Obat kemo pun, dosisnya ditambah. Kak Dee kesakitan, sampai muntah tadi. Tapi, By ngga bisa nolongin. Maaf, Mas."


"Iya, ngga papa. Kamu cuma nurutin mau nya Dia. Sekarang mandi, kita kumpul diruang tengah, ya."


"Iya...."


Pov Aledra.


Aku menghampiri Diana, setelah berkunjung ke Rubby.

__ADS_1


"Dee... Bangun, sayang."


"Ehmmh... Iya, Mas. Kenapa?"


"Kenapa pucat sekali? Sudah makan, kan?"


"Udah, Mas. Rubby siapin tadi, dimana Rubby sekarang?"


"Dia, lagi mandi. Dia nangis, karna ngga temenin kamu tadi."


"Maaf, Mas. Ini, demi kebaikan Dia. Dee konsultasi kedokter tadi, dan ternyata, obat-obatan yang diracik untuk kemo itu, memiliki reaksi yang berbahaya, tidak hanya melemahkan yang dikemo. Tapi juga, yang menemani. Dee takut, jika berpengaruh ke Rubby."


"Terimakasih, kamu sudah begitu menyayanginya, Dee. Tapi, Rubby pun begitu sakit saat tak bisa menemanimu seperti biasanya. Apalagi, kamu sampai muntah-muntah 'kan?"


"Iya... Sangat mual tadi, dan sekarangpun lemas, berkunang-kunang, ngga bisa tidur."


"Baiklah, mau Mas mandiin?"


"Engga, Mas. Dee ngga berani mandi, dingin sekali. Nyentuh air aja rasanya ngilu disekujur tubuh."


"Oke... Nanti, By suruh ngelap aja, ya. Supaya seger, sekalian buat obatnya," ucap Ku, sambil berdiri dan menuju kamar mandi.


"Iya, Mas."


Kamu sudah mendapat pengobatan yang maksimal, Dee. Tapi kenapa, kondisimu terus memburuk? Apakah, tubuh mu menolah kemoterapy itu sayang?


Pov Rubby.


Setelah mandi, dan merasa tubuhku segar. Aku segera menuju ruang tengah, seperti yang diucap kan oleh Mas Edra.


Aku menunggu nya disana, sambil menonton drakor kesayanganku.


"By..." panggil Mas Edra, dari kamar Kak Dee.


"Iya, Mas," jawab Ku, langsung menghampirinya.


"Kenapa, Mas?"


"Dee, tolong lap badan Kakak ya. Kakak ngga berani mandi, By." pinta Kak Diana.


"Oh... Iya, Kak. Biar By siapin air anget nya, ya. Tunggu sebentar," ucap Ku, yang langsung menuju dapur, dan memasak air.


"Mau ngapain, Nona muda? Mau jadi pelayan, ya?" ucap Bi Nunik, dengan nada meledek.


"Bi... Saya ngga mau berantem."


"Saya kan, cuma nanya. Kok dibilang ngajak berantem. Oh... Udah punya kuasa sih sekarang. Jadinya, makin berani. Ngga inget dulu gimana." ucap Nya, dengan melipat kedua tangan di dada, dan menyenderkan tubuhnya ke dinding.


Ucapanya begitu tenang. Namun begitu menusuk sampai ke ulu hati.

__ADS_1


" Terserah mau ngomong apa, Bik. Saya banyak kerjaan disini, ngga minat, ngeladenin omongan begituan," balas Ku, dengan senyum getir.


Aku segera menyiapkan baskom berisi air hangat, dan membawa nya kekamar Kak Dee. Ternyata, Mas Edra sudah membantu ku, untuk membuka beberapa pakaian Kak Dee, dan mengikat rambutnya.


" Kak, udah siap? "


" Udah, By. " jawab Kak Dee.


Segera ku mulai tindakan ku. Aku mengelap tubuhnya yang ringkih itu dengan lembut, mulai dari wajah, hingga turun ke tangan, lalu kaki. Mas Edra pun dengan begitu sabar membantu ku, menukar posisi Istri tua nya itu.


Aku menatapnya, dan melemparkan senyum terimakasihku, dan Ia pun membalasnya dengan senyum manisnya, yang menggetarkan hati ku, hingga berdebar.


"Kak... By, tidur disini, ya temenin Kakak?" pinta Ku.


"Boleh... Mas, tidur dikamar Rubby, ya?"


"Kenapa?" tanya. Mas Edra.


"Ya... Masa kita tidur bertiga," jawab Kak Dee.


"Mas, By takut malam ini, Kak Dee merespon obat kemo tadi. Kalau waktu di kemo saja bisa muntah seperti itu, bisa-bisa malam ini Kak Dee menggigil." sahut Ku.


"Baiklah, Aku mengalah. Anggap saja, malam ini adalah malam kalian berdua... Oke,"


"Jangan marah sayang...." ucap Ku. Dan Kak Dee kompak.


Mas Edra keluar kamar. Aku menyusulnya, untuk menemani nya makan malam.


"By,"


"Iya, Mas."


"Bagaimana menurutmu, tentang pengobatan Diana?"


"Pengobatan berjalan Baik, Mas. Tapi, By menakutkan jika tubuh Kak Dee, kurang merespon nya dengan baik," jawab Ku, dengan memainkan nasi dalam piring ku.


"Apakah perlu, jika Diana kita bawa keluar negri?"


"Boleh saja, Mas. Tapi, tanya Kak Dee dulu. By takut jika Kak Dee menolaknya. Karna katanya, Dia sudah lelah."


"Seperti itukah?"


"He'em," angguk Ku.


"Apa caranya, agar Dia bersemangat lagi ya, By?"


"Kak Dee bilang, Dia ingin agar By cepat hamil, Mas. Dia ingin menemani By melahirkan, dan membantu By, mengurus Anak By nanti," jawab Ku datar.


Mas Edra tak menjawab lagi, hanya menatapku dengan penuh tanda tanya. Tapi entah apa yang Ia fikirkan, Aku pun tak tahu.

__ADS_1


__ADS_2