
"Ibu... Ibu kenapa?" tegur Winda, yang kebetulan melihatku.
"Eng, engga Win... Tadi ada orang salah negur, tapi ngga papa." jawabku padanya.
Winda lalu meninggalkanku, dan aku kembali berjalan keruangan Mas edra, menanti pelukan hangat, yang rutin Ia berikan untuk ku.
"Assalamualaikum,"
"Wa'alaikum salam... Sayang, sudah datang." ucap Mas edra, dengan kebiasa'anya.
"Iya, ternyata, berkas yang harus ditandantangani banyak, Mas. Harus diteliti satu persatu. Untung Mba rara dikantor tadi." jawabku.
Kuberikan makan siangnya, yang ku beli dikantin dekat kantor tadi. Dan Mas edra segera melahapnya.
"By, sayang...."
"Iya, Mas?"
"By kenapa pakai baju Kakak terus?"
"Ehmm... Ngga papa, kan daripada mubazir, enak By yang pakai. Mas suka?"
"Suka, tapi make up nya, Mas lebih suka make up By sendiri. Bukan make up Kakak, Jujur, Mas sedikit ngga nyaman." ucapnya padaku.
Maliq kuletakan di lantai dengan mainanya, ku hampiri Mas edra dan memeluknya dari belakang.
"Kenapa ngga nyaman? Berasa ada Kakak disini, ya?" ucapku, yang membuatnya terbatuk.
"By ngomong apa'an? Ngga boleh gitu."
"Hmmm? Kok marah?" tanyaku.
"Engga... Mas ngga marah. Lakukan senyaman By, asal masih dalam batas wajar. Ambil pakaian yang masih layak pakai untuk By, Sisanya berikan pada yang lain. Bawa ke yayasan, akan lebih bermanfa'at sepertinya."
Aku hanya mengangguk, dan mencium rambutnya. Wangi khas nya yang begitu ku sukai, bukan hanya sa'at hamil Maliq, tapi terbawa hingga kini.
"Mas... By pulang dulu, ya, Maliq udah ngantuk kayaknya. Dia ngga bisa tidur disembarang tempat." ujarku.
"Ya, By hati-hati dijalan ya sayang," kecup, dan peluknya padaku.
Pov Edra.
__ADS_1
"Kenapa semakin kesini semakin menyerupai Diana? Atau ini hanya perasa'anku saja. Yang masih hidup dalam bayang-bayangnya?" gumamku.
Aku berusaha tak ambil pusing dengan semua itu. Aku berfikir jika itu hanya keinginan Rubby saja, agar semua pakaian dan accesoris Diana terpakai, dan tak mubazir didalam lemari. Bukankan, semua benda kita didunia memiliki hisabnya masing-masing, sehingga jika peninggalan Diana dimanfa'atkan oleh Rubby, akan menjadi lebih baik untuk Diana nantinya.
"Winda... Segera kemari," telpon ku padanya.
"Iya, Pak... Ada apa?"
"Hmmm... Kamu kan usianya tidak beda jauh dengan Ibu. Saya mau tanya, di usia seperti Ibu itu, apa yang Ia sukai? Ya, kamu tahu sendiri, usia kami terpaut Sepuluh tahun. Saya terbiasa dengan Nyonya yang seumuran,"
"Iya, Pak... Kalau menurut saya, Ibu itu adalah sosok yang sederhana, baik, dan anggun. Bagaimana dengan bunga?"
"Ah... Bunga sudah banyak, hampir setiap hari saya berikan."
"Apa... Ada sesuatu, yang Ibu pernah minta beberapa hari ini?" tanya Winda lagi.
"Ibu tidak banyak meminta, atau memang sukar mengatakan? Tapi, Ia sempat mengherankan penampilan saya akan mobil yang saya kendarai. Sempat Ia bandingkan dengan beberapa Colega."
"Hmmmm, Bagaimana jika... Membelikan sebuah mobil untuk Ibu? Bukanya, selama ini Ibu kemana-mana pakai mobil yang dipakai Nyonya dulu?"
"Ah... Iya, benar. Bantu saya memikirkan Win. Apa yang pantas buat Dia, kira-kira nyaman untuk dipakai bersama?"
"Nanti, akan saya kirim rekomendasinya pada Bapak. Saya akan mencari infonya terlebih dahulu," pamitnya.
Setengah jam berselang. Sesuai janjinya, Ia kirimkan beberapa foto mobil yang bagus untuk ku.
"Ini... Alphard, bukanya bagus? Sebenarnya Diana dulu ingin kubelikan, tapi Ia menolaknya dengan berbagai alasan. Dan sekarang, By tak akan menolaknya, karna memang kami butuh. Terutama, ketika kami pulang kampung nanti, dengan segala keriwehan semua barang si kecil." gumamku, dengan tersenyum lebar.
"Winda... Urus pembelian Alphard ini. Langsung kirim ke Ibu dirumah." perintahku padanya.
"Siap, pak... Saya izin ke showroom dulu," balas Winda.
"Kamu memang pantas mendapat kompensasi lebih, untuk semua kerja kerasmu, Win." gumamku.
Aku lega, lalu melanjutkan semua pekerjaan ku dengan tenang.
Mungkin, memang Seperti ini, memberi perhatian lebih pada istri yang masih begitu muda untuk ku. Dia yang tak terlalu banyak bicara, dan banyak mau, tapi sebenarnya menyimpan keinginan besar dalam hatinya.
*
*
__ADS_1
*
Pov Rubby.
Aku memandang disekelilingku, mencari sosok anak yang ku tolong beberapa hari lalu, agar aku bisa membawanya ke yayasan. Namun, sepanjang jalan tak kunjung ku temukan.
Aku melamun, mengingat kejadian tadi, sewaktu dikantor Mas edra. Ketika seseorang yang sekilas menatapku sebagai Kak Dee, sebegitu miripkah sekarang?.
"Mas Bima? Apa ada yang aneh dengan dandanan saya?"
"Kalau boleh jujur, iya, Bu. Ibu terlihat seperti Nyonya sekarang. Itu... Aneh bagi saya."
"Apa saya salah?"
"Wah... Saya tidak tahu, Bu. Bukan ranah saya, membicarakan semua ini."
"Baiklah... Terimakasih," Jawabku datar.
Melamun sejenak, melihat kearah luat jendela. Memandangi semua yang ada disekitarku. Kadang, aku berfikir, namun sepertinya, aku seperti memiliki konflik batinku sendiri sekarang. Terjebak dalam. Rasa bersalah ku terhadap Kakak. Dan terasa terlalu berat, ketika harus dengan tiba-tiba, berada disemua posisi Kakak sekarang. Yang sebenarnya aku belum siap.
Sesampainya dirumah, kurebahkan tubuhku, bersama Maliq yang sudah tertidur pulas daritadi. Ku belai rambutnya yang ikal, begitu mirip dengan Ayahnya.
"By... Udah pulang?" sapa Bik inah.
"Baru aja, Bik. Kenapa?"
"Kata edra, suruh beresin pakaian Diana. Ayo, Bibik bantu." ajaknya.
"Biarkan saja dulu disana. Biarkan pada tempatnya, By belum siap."
"Kenapa By yang tidak siap? Itu hanya pakaian. Kan lebih bisa bermanfa'at untuk yang lain."
"Bik... By ngga mau debat. Tolong, By capek." jawabku, tanpa menoleh kearah nya.
Bik inah meninggalkan ku, dan tak ada lagi sanggahan dari nya.
Aku terlelap sebentar, dengan Maliq dalam pelukanku. Aku memimpikan Kakak yang duduk diteras belakang, dengan teh manis kesuka'anya. Raut wajahnya muram, hingga mendorongku untuk menegurnya.
"Kak... Kakak kenapa sedih?" tanya ku.
Dia hanya diam tak bergeming, menatapi tanaman kesayanganya.
__ADS_1
"Kak... Kakak kenapa? Kalo Kakak ngga bilang sama By, By ngga tahu Kakak mau nya apa?"
Ia hanya menangis dalam diam. Membuatku bingung, hingga kemudian terdengar suara tangisan Maliq yang begitu kencang mengejutkanku.