
"Mas... Kok malah ke kamar By?" tanya Rubby, yang membuyarkan lamunan ku.
"Mas... Ngga suka lihat By makan sedikit. Nih, Mas bawain makan lagi. Biar Mas suapin."
"Kak Dee nyuruh?"
"Emang Mas ngga ada punya inisiatif sendiri gitu. Harus apa-apa Kakak terus?"
"Hmmm... Biasanya gitu 'kan?" jawab Nya malas, dan justru membaring kan tubuhnya ditempat tidur.
"Eeeh... Sini makan dulu. Kasian Baby nya, nanti kelaperan. Kalau tengah malem nangis minta makan lagi, Mas males ngambilin." ancam Ku, dengan menarik tubuhnya, dan kembali menduduk kan nya.
"Iya, iya..." balas Rubby.
Suapan demi suapan masuk ke mulutnya. Sepertinya memang masih lapar, namun Ia menahan nya.
"By... Mama minta kita nginep dirumah nya. By mau?"
"Mau aja... Tapi jangan seminggu ini. Kan mau kepesta Bang Halim,"
"Iya... Nanti Mas bilang sama Mama."
Akhirnya suapan terakhir mendarat. Dan ku beri Ia segelas air, untuk melegakan tenggorokan.
"Mas... By boleh nanya ngga?"
"Tanya apa sayang?"
"Ehmmmm... By memang ngga tahu apa-apa. Tapi By penasaran, kenapa Mas itu nurut banget sama Mama mirna. Kita tahu sendiri Mama gimana, bahkan pernah ngejebak Mas saat itu, selalu mau misahin Mas sama Kakak juga. Kadang By ngerasa, Mas itu cemen."
"By bilang Mas cemen? Jahat By ternyata," ledekku.
Aku menghela nafas sebentar, lalu berfikir akan memulai cerita darimana.
"Ehm... By tahu kan, kalau Mama mirna itu, meskipun Ibu sambung, Beliau lah yang merawat Mas dari Balita. Meskipun hanya ibu sambung, Mas merasakan kasih sayangnya itu benar-benar tulus sama Mas. Ngga pernah Marahin Mas, ngga pernah kasarin Mas. Sudah seperti Mama kandung bagi Mas. Terlebih lagi... Mas berhutang satu ginjal sama Mama, "
"Hah.... Maksudnya, Mas sekarang pakai ginjal Mama mirna? Kok bisa?" tanya Rubby, yang semakin penasaran.
"Biasalah By, namanya anak muda. Dulu Mas suka balapan gitu sama geng motor. Pas suatu malem, Mas kecelakaan parah nabrak truk. Mas jatuh kekolong truk itu, motor ancur. Untung aja masih selamet, tapi Mas koma beberapa hari. Dan ginjal Mas pecah By. Sedangkan setelah kecelaka'an, Mas ngga bisa hidup hanya dengan Stau ginjal katanya. "
"Terus? Emang ngga ada keluarga lain?"
"Mereka semua jauh, dan ngga ada yang cocok. Mama mirna pun, mungkin cocok, karna ada ikatan darah dengan Ibu kandung Mas, mereka sepupuan sebenarnya."
__ADS_1
"Rumit ya, Mas. Jadi seperti itu, makanya Mas selalu ngalah sama Mama mirna."
"Iya... Kakakmu sangat faham itu, dan untung nya dia mengerti. Jadi maaf, kalau Mama mirna nyakitin kamu, dan Mas belum bisa tegas ya By."
"Ngga papa, Mas... By udah tahu sekarang."
Obrolan kami berakhir, By ku baringkan ditempat tidur, lalu lengan ku ku berikan sebagai bantalnya.
Begitu cepat Ia terlelap, mungkin karna aroma tubuhku yang begitu menjadi idolanya, berada begitu dekat sebagai penghantar tidur untuk nya.
"By... Mas gerah, boleh mandi ngga?" lirihku.
Rubby tak menjawab, hanya menggelengkan kepala, dan semakin erat memeluk tubuhku.
Pov Rubby.
Aroma itu benar-benar membuatku sering rindu. Aroma khas suami ku yang begitu merasuk hingga ke pembuluh darahku. Menyatu dalam setiap denyut nadi ku, hingga aku seolah tak ingin terpisah walau sebentar.
Aku begitu aneh sekarang. Bahkan seperti sedang terobsesi pada suamiku sendiri. Aku harus tetap menjaga kewarasan ku. Meskipun, antara hati dan fikiran ku selalu bergejolak.
Adzan subuh membangun kan ku. Aku masih tertidur dalam pelukan Mas edra.
"Iewh... Bau nya makin asyeeeem... Tapi aku suka. Bangunin ah, biar shalat berjama'ah sama Kak Dee.
Aku perlahan melepaskan pelukan nya, dan membangunkan nya dengan lembut.
"Hmmmh? Jama'ahan sama Kakak?" ucapnya sambil menggeliatkan tubuhnya.
"Iya... Dari kemarin, Kakak udah mulai shalat lagi."
"Alhamdulillah... Yaudah, Mas mandi dulu, udah lengket banget badan nya."
"Oke... By tunggu dikamar Kakak, ya."
Aku segera berlari kecil, menuju kamar Kak dee. Dan rupanya, Ia pun sudah bangun lebih dulu.
"Kakak udah bangun?" sapa ku.
"Udah... By shalat disini?"
"Iya... Tunggu Mas mandi, ya. Kita berjama'ah,"
"Kamu ngga nyuruh Mas mandi ya semalem?" ledek Kak dee.
__ADS_1
"Hehe... Engga, By suka bau nya. Jadi ngga boleh mandi,"
"Ish...kasihan tau, kan gerah,"
"Ngga papa lah... Pengorbanan dikit, buat anaknya." tawa Ku.
Tak lama kemudian, Mas edra datang. Ia terperanga dengan penampilan Kak dee yang telah memakai mukenahnya.
"Subhanallah, By... Kakakmu cantik sekali," ujar Mas edra.
"Ya iya dong..." sahutku.
Kami menyudahi pembicara'an, dan memulai shalat.
Takbir dikumandangkan dari bibir Mas edra, ayat demi ayat dilantun kan nya dengan fasih. Raka'at demi raka'at dilaksanakan, hingga salam. Kami berdo'a dalam hati masing-masing. Tak tahu persis apa isi do'a kami, yang jelas salah satu isi dari Do'a kami Ialah meminta kebahagia'an bagi keluarga kami, dan kesembuhan Kak dee. Meskipun itu tipis.
Selesai dengan semuanya, Aku mencium tangan Mas edra, begitu juga Kak dee. Meskipun sedikit sulit, karna posisinya yang berada diatas kursi.
"Mas... By mau bantuin Bik inah masak, ya," pamitku.
Mas edra hanya mengangguk, dan menghampiri Kak dee, untuk mulai berbincang.
Pov Edra.
"Dee... Mas semakin bahagia sekarang. Melihat kamu menjadi semakin giat beribadah. Siapa yang mendorongmu seperti ini?" tanya ku pada Diana.
"Mas... Dee juga bersyukur. Setelah sekian lama hidup dalam rasa kecewa terhadap takdir, akhirnya kita dipertemukan dengan sebuah keluarga yang bisa membuat kita tetap saling mendukung, saling mrlindungi, dan saling memberi kekuatan," jawab Diana.
"Hmm... Keluarga yang mana?"
"Keluarga baru kita, Ibu dan Bapak Rubby. Mereka semua tulus, mau memberi nasehat dikala kita melakukan kesalahan, mau memberi nasehat, saat kita sedang merasa gundah. Dee benar-benar bersyukur,"
"Iya... Mas juga, Istiqamah ya sayang. Belajar sama By kalau ada yang lupa."
"Iya... By yang paling pertama Dee panggil." ucapnya dengan antusias.
Aku mengecup keningnya, dan membelai kepalanya, dan sedikit meminta.
"Dee... Mau kah kamu menuruti kemauan Mas?"
"Apa?"
"Aaah... Engga, besok aja Mas bilang. Sekarang, Mas bantu mandi yuk. Pelan-pelan aja, soalnya Mas udah mandi tadi."
__ADS_1
Diana kembali mengangguk, dan mulai ku ajak untuk membersihkan dirinya. Bekas lebam dan ruam ditubuhnya mulai berangsur memudar, dan tak ada lagi lebam yang lain.
"Semoga saja, ini pertanda yang baik untuk kita semua Dee," batinku.