MADU PILIHAN ISTRIKU (RUBBY)

MADU PILIHAN ISTRIKU (RUBBY)
Menginap dirumah Mama.


__ADS_3

Satu persatu warga, dan tetangga yang ada dirumah kami hampiri. Kami memberikan mereka satu persatu sesuai apa yang ingin diberikan Mas edra sa'at itu, tanpa terkecuali.


"Terimakasih, Pak... Ternyata Bapak begitu royal pada kami," ucap salah seorang warga.


"Tak apa, Bu... Ini sebagai ucapan terimakasih kami, karna kalian telah membantu kami disini, dari awal hingga acara usai." jawab Mas edra.


Hanya saja, disela semua yang bahagia ada pula yang masih bisa mencela.


"Mas... Katanya kaya, ngasi cuma segini. Nanggung ya kayanya?" celetuk salah seorang dibelakang.


"Iya... Kekaya'an saya memang belum seberapa dibanding anda. Mungkin anda bisa memberi lebih dari saya, silahkan," jawab Mas edra, yang cukup membuat orang itu terkejut dan diam.


"Cuma bisa nerima aja banyak omong. Kalau udah bisa ngasih, baru bicara." sahut Bu indah dari belakang.


Orang tersebut hanya diam, dan tak mampu menjawab lagi, dan yang lain mentertawakan nya.


"Setelah ini, kami pamit pulang kekota. Do'akan saja, nanti kalau ada waktu lapang kami akan datang kesini lagi." ujar Mas edra, berpamitan.


Kami segera pergi, dan kembali kekamar untuk berkemas, dan juga berpamitan pada orang dirumah.


"Kenapa ngga semalam lagi?" rayu Ibu padaku.


"By 'kan mau ngurusin Kak dee, kasihan kalau ditinggal lama." jawab ku.


"Hmmmh... Iya. Andai saja disini tak sibuk, Ibu ikut kesana. Ibu rindu Diana,"


"Besok saja, kalau Ibu sudah longgar. Ikut Abang sambil ngantar penumpang, sekalian Kak fit diajak." bujuk Ku.


"Iya, Bu... Fit juga pengen main kerumah By, penasaran sama Kak Diana. Pengen ketemu dan ngobrol," sahut Kak fitri, yang membantu ku melipati pakaian.


Beberapa lama setelahnya, sa'at semua sudah usai dikemas. Kami pun pamit pulang, dan menuju ke mobil.


"Ini apa, Bang? Kenapa banyak sekali kardus yang dimasukan kedalam mobil?" tanya ku pada Bang halim. Saat Ia memasukan beberapa barang kedalam mobil.


"Titipan Ibu mu untuk Kak dee dan mertuamu. Tahu sendiri Ibu bagaimana," jawabnya.


"Oh... Iya lah, terimakasih ya Bang. By pamit dulu. Titip Ibu dan Bapak baik-baik." ucap ku pada Bang halim.


"Iya... Tak usah khawatir, Ibu mu, Ibu ku juga." jawabnya.


Aku segera memasuki mobil, dan memulai perjalanan ku setelah itu, dan kembali pulang, menunu rumah mertuaku.


"Kita... Langsung pulang kerumah mama, Mas?"


"Iya... Mama minta begitu,"


"Hmmm, belikan By hp dulu ya. Biar nanti bisa telponan sama Kak dee," sebenarnya aku cemas, dan sedikit takut jika aku menginap disana tanpa bisa menghubungi Kak dee.


"Iya... Nanti Mas belikan yang bagus. Sebagai hadiah, karna By udah mau berhijab sekarang." jawab Mas edra, dengan mengusap kepalaku.

__ADS_1


Perjalanan begitu jauh kembali kami lewati, aku tertidur seperti biasa karna Mas edra memintanya.


*


*


*


"By... Bangun sebentar sayang, Kakak menelpon."


"Hmm, iya Mas."


Aku bangung dan mengangkat telpon tersebut. "Hallo, Kak?"


"Hallo, By... Udah dimana? Masih lama?"


"Hmmm... Engga, tinggal sekitar Dua jam lagi, kenapa?"


"Ngga papa, tanya aja. Nomor Hp By ngga bisa dihubungi?" omelnya.


"Hp By rusak... Nanti mau beli. Oh iya, By langsung kerumah Mama mirna ya,"


"Ngga pulang kerumah dulu?"


"Ngga sempet, Mama udah nungguin katanya."


"By... Beli hp dulu, terus save nomor Kakak di layar utama. Jangan sampai kamu disana ngga pegang hp."


Kamu ngga tahu, Mama mirna seperti apa, By. "Baiklah... Kakak mau lihat, seberapa bisa kamu menjaga diri. Tapi ingat, kalau ada apa-apa, hubungi Kakak segera."


"Iya... Udah ya, By mau lanjut tidur lagi. Badan By pegel banget." pamitku.


"Oke... Hati-hati ya,"


Aku hanya bedehem, dan segera menutup telpon ku.


"Mas..."


"Iya... Kenapa?"


"Sebenarnya... Apa konflik mereka?"


"Siapa?"


"Mama sama Kakak, siapa lagi?"


"Maaf By, sebenarnya Mas kurang faham. Posisi Mas pun seperti buah simalakama disini, antara istri dan Mama."


"Mas... Menurut By, Mas terlalu lembek."

__ADS_1


"Hah... By kok ngomong gitu sama Mas."


"Ya... Harusnya, Mas bisa jadi penengah antara mereka. Bukan mebiarkan semua ini berlarut-larut." jawabku.


"By... Kamu ngga ngerti posisi Mas,"


"Kalau Mas ngga bisa... Biar By yang buat mereka akur. By mau jadi penengah antara mereka." balasku dengan antusias.


"Jangan macam-macam... By fokus saja pada kehamilan By, nanti By terllau fokus ngurusin mereka, malah ada apa-apa."


"Ya, kita ngga akan tahu, kalau kita belum nyoba." jawabku.


"Cobalah... Tapi jika terasa sulit, kamu angkat tangan saja. Jangan memaksakan,"


"Oke... Kita lihat saja nanti," tantangku, dan kembali tidur.


Pov edra.


"Niat baikmu, semoga bersambut By. Mas hanya bisa mendo'akan. Mas bukan tak mau menjadi penengah diantara mereka, tapi... Nanti By akan tahu sendiri bagaimana," gumam ku dalam hati.


Aku menatapnya yang tertidur lelap, terlihat begitu lelah. Wajahnya semakin cantuk, dibalut dengan hijab pasmina yang diikatkan dikepalanya itu.


Aku tahu, sekembali nya kami kerumah, kami tak akan bisa semesra saat dikampung. Kami terjaga jarak dengan semua nya. Rubby terlalu menjaga perasa'an Diana, dan aku berusaha menjaga perasa'an keduanya. Meskipun sebenarnya, Diana selalu memberi ruang pada kami.


*


*


*


Dua jam berlalu, kami tiba dirumah Utama yang ditinggali Mama.


Dirumah ini, semua kenangan bersama Papa dan Diana. Sebelum Papa meninggal, dan Diana belum sesakit sekarang.


Kami ceria dan bahagia disini. Hingga sa'at kematian Papa yang masih menjadi tanda tanya besar, terutama bagi Diana, yang merupakan menantu kesayangan Papa sa'at itu.


"Akhirnya... Edra pulang dan membawa Rubby kemari Pa. Maaf, Edra baru mengajaknya berkunjung sekarang. Dan Ma'af, bukan karna Edra tak setia pada Diana. Tapi, ini semua perminta'an nya. Meski edra tahu, jika sa'at ini Papa masih ada, Papa pun akan menentang semua keputusan ini. " ujar ku, yang terdiam menatap rumah besar nan megah itu.


"By... Bangun sayang. Udah sampai dirumah Mama," bujuk ku padanya.


Ia segera membuka mata, dan menggeliatkan tubuhnya.


"Mas... Ini rumah Mama mirna? Besar sekali, sepertinya lebih besar dari rumah kita disana." ucapnya, yang mengagumi kemegahah rumah itu.


Kami masuk, dan langsung menemui Mama diruangan pavoritnya.


"Ma... Edra sama Rubby udah datang nih," panggilku.


Mama mirna menghampiri kami, dan langsung memeluk ku. Dan Rubby, mencium tangan Mama dengan ramah.

__ADS_1


"By... Silahkan masuk kekamar, dan istirahat. Mamam sudah bereskan kamar buat kamu. Mama sendiri yang bereskan, karna disini tidak ada pembantu. Mama paling tidak suka, ada yang mengotak atik rumah ini. Mama benci itu." ucapnya, dengan nada datar khas kepribadian Mama.


__ADS_2