
Pov Author.
"By, sarapan dulu," panggil Diana.
"By males... Ngga tahu lah, pahit rasanya nengok makanan."
"Lah... Biasanya paling semangat. Mau dibuatin roti lagi?"
"Hmmm, mau. Tapi coklatnya yang banyak," pintanya.
"Iya... Tapi abis itu makan nasi," pinta Diana. Lalu membuat kan Rubby roti kesuka'anya.
Rubby melahapnya dengan nikmat, seraya menonton kartun di tv.
"By, kok ngga makan nasi?" tegur edra.
"Lagi males, Mas. Nanti aja kalau selera. Sekarang pengenya ngemil, cemilan mulu. Lihat jajanan ditv aja rasanya pengen semua. Aaaah, andai kan mereka semua ada disini, dalam satu kulkas yang berisi penuh semua cemilan itu. Nikmatnyaaaa," ujar By, sambil berkhayal.
"Ya.... Yang mulai berlebihan nafsu makanya." balas Diana.
"Cuma pengen aja kali, ngga dapet ya ngga papa." jawab Rubby.
Edra dan Diana saling berbalas senyum, entah apa yang mereka rencanakan. Tapi, Diana mengangguk-anggukan kepalanya tanda setuju.
"Apalah kalian nih, ada rahasia apa lagi, yang By ngga boleh tahu?" tegur Rubby.
"Ada lah... Mau tahu aja. Udah sarapan nasi sana, Kakak sama Mas udah selesai, tinggal By lagi makan." ucap Diana.
"Iiiih... Jahat sekali, By dikasih makanan sisa... Ooh, bayi ku," rengek Rubby dengan mengelus perutnya.
"Sisa pun, kalau sisanya banyak dan enak ya bahagia lah. Udah jangan lebay, sarapan sana. Biasa lihat By makan banyak, jadinya gregetan."
"Iya, Kakak. By makan, lihat lah nanti, ini habis semua."
"Jangan sekaligus, By... Nanti kekenyangan begah, ngga baik juga 'kan," tegur Edra.
"Oh, iya... Makasih Mas, suamiku, udah ngingetin," rayunya.
"Ada mau nya ya?" ledek edra.
"Aaaah... Ngga peka. Yasudah lah, By makan saja banyak-banyak, biar kenyang," ucap Rubby, menirukan suara CINTA membacakan puisi PENAT nya.
"Iiih... apalah anak ini." balas Diana.
"Tak apa...." jawab nya singkat.
Edra pamit, Rubby dan Diana bergantian mencium tangan nya.
"Kakak ngurusin taneman dulu, ya. Nanti abis makan beresin, cuci piringnya. Bibik lagi belanja kepasar."
"Hah? Okelah, begini nasib makan terakhir,"
"Udah ngga udah ngeluh mulu ngapa? Banyak gerak, buat kandungan sehat."
__ADS_1
"Iya, Kakaaaak." jawab Rubby dengan melanjutkan sarapanya.
Diteras belakang, Diana menelpon Edra sambil menyirami tanaman.
"Hallo, Mas... Mas aja yang pesan deh, kan sekalian berangkat. Carikan warna kesuka'anya, isi penuh-penuh. Minta sama winda bantuin,"
"Sayang, Bukanya lebih cepet pesan online aja tinggal anter."
"Kalau Mas yang cari, kesan nya spesial. Kan pilihan suami,"
"Yuaudah, Mas nurut. Nanti langsung Mas kirim seisinya penuh ya,"
"Oke, Mas... Dee menunggu," godanya.
"Nungguin apa, Kak?" tanya Rubby yang tiba-tiba dibelakang.
"Astaghfirullah... By, ngagetin aja. Udah nyuci piringnya?"
"Pas By beres-beres, pas Bik inah pulang. Dan akhirnya, terselamatkan deh. Hari ini adalah hari keberuntungan By, By rasa. Kakak nelpon siapa?"
"Ih kepo... Ada lah ya. Itu jajan darimana lagi?" tanya Diana menunjuk Jajanan Rubby.
"Ini Bibik beli'in. Baik ya, Bibik. Mau beliin Rubby jajan, bantuin By nyuci piring, perhatian banget gitu."
"By..."
"Hmmmm?"
"Lama-lama By ngeselin."
"Iya negeselin, sekarang makin banyak pengeluaran buat jajan By. Mau ini, mau itu, Makan ini, makan itu."
"Ngga boleh?"
"Siapa bilang?"
"Tuh tadi."
"Engga, Kakak ngga bilang ngga boleh."
"Lah terus... Kakak mau bilang, jangan jajan terus."
"Ya gimana... Kalau aja ada persedia'an dirumah. Pasti By ngga akan keluar. Udah ah, mau istirahat dulu. Abis makan hawanya ngantuk," ujar By, lalu meninggalkan Diana.
Rubby asyik dikamar membaca buku tentang persalinan. Hingga Diana menelponnya.
"Hallo Kak? Kenapa pakai nelpon? Tinggal panggil juga"
"Turun kebawah sekarang!"
"Kenapa? Lagi mager,"
"Sekarang, cepetan. Tapi jangan lari,"
__ADS_1
"Iya...." jawab Rubby dengan malas, lalu turun kebawah.
Tap... Tap... Tap... "Kenapa siiiih, paggilin By?"
"Ada kiriman buat By," jawab Diana.
Rubby menatap sebuah benda yang datang atas namanya, yang membuat matanya membulat bahagia, terlebih lagi, sa'at melihat isi didalamnya.
"Hah? Apa itu? Kulkas? Buat By?"
"Iya... Mau ditaruh dimana?"
"Ooh, syurgaku... Bawain kekamar ya, Mas. Ini khusus buat By kan? Iya 'kan?"
"Iya... Mas edra yang kasih. Langsung bawa aja kekamar ya, Mas." pinta Diana pada sang kurir.
"Kakak ku sayang... Terimakasih, karna telah menuruti keinginan adikmu ini. By tahu, meskipun Mas yang beli'in, tapi pasti Kakak pencetus nya 'kan?"
"Hmmm... Tau aja. Tapi setidaknya Mas udah berusaha nyari'in itu semua makananya. Terimakasih juga sama Mas, ya. Dan juga, tetep makanan yang sehat yang dipilih. Cemilah itu buat selingan aja."
"Iya, sayangkuuuh... Makin cinta aku tuh. Muuuuaaach." Rubby mengecup pipi Diana.
"Ish... Apa'an, bibir penuh coklat, jorok." ucap Diana mengelapi pipinya.
"Engga... Mana ada," sanggah Rubby.
Hari berganti, malam pun tiba. Edra pulang dan langsung menghampiri Rubby dikamarnya.
"Mas, udah ketemu Kakak?" tanya Rubby.
"Kakak udah tidur, sekarang sering tidur cepet kayaknya."
"He'emh... Setelah dapet obat baru, jadi sering tidur. Itu obat pereda nyeri diperutnya. Sebenernya dokter bilang Tiga kali sehari, tapi By pangkas jadi Dua kali aja. Kasihan lambungnya."
"Hmm, By lebih tahu tentang itu. Mas oke saja," balasnya, dengan membuka pakaian, dan By memeluknya dari belakang.
"Maaas,"
"Apa? Mau ketek lagi?" ledek Edra.
"Ih... Kok ketek, jahat lah." jawab Rubbby dengan menepuk lengan Edra.
"Iya, iya, bercanda... Jangan pakai nabok lah."
"Makasih kulkas baru, plus isinya. By suka, makin seneng makan. Tapi... Ngga papa kalau By gendut? By udah naik Sepuluh kilo sekarang."
"Gendut itu bisa kurus lagi sayang. Tapi kalau anak kita kekurangan gizi dan ileran, itu ngga baik. Ngga papa gendut, yang penting masih dalam kadar sehat,"
"Makasih, makin sayang By sama Mas." peluknya dengan mesra.
Pov Edra.
Rubby, istri kecilku yang menggemaskan. Yang sedang butuh banyak perhatian, dan butuh dimanja. Meskipun tak Ia nampak kan padaku. Justru Dee yang lebih peka tentang itu.
__ADS_1
Mereka sungguh memiliki ikatan batin yang kuat, tak tahu kenapa. Tapi yang jelas, mereka bagaikan saudara kembar yang tak terpisahkan, meski usianya terpaut jauh.
"Dee dan By, bidadari syurga yang harus sama-sama ku jaga hatinya. InsyaAllah,"