
Aku terdiam dan duduk menunduk dipinggir tempat tidurku. Samar-samar pun ku dengar Mas Edra dan Kak Dee memperdebatkan Ku didepan.
"Kamu kenapa lagi, Dee?"
"Ngga papa... Kesel aja,"
"Kamu ngga boleh memaksakan kehendak Kamu sama Rubby. Baru kali ini 'kan Dia ngga nurut? Biasanya kayak apa Dia,"
"Aku ngg papa... Udah sih, Aku pengen istirahat. Sesak nafasku," ujar Kak Dee, yang lalu melangkah ke kamarnya.
Mas Edra perlahan menghampiri Ku kekamar, dan membujuk ku agar tenang.
"By..."
"Iya, Mas?"
"Sabar, ya. Kakak Mu mungkin sedang sensitif,"
"Iya... By tahu. Bagaimana dengan Kemo tadi,?
" Seperti biasa... Seperti yang sering dihadapi. "
" Kondisi kesehatan Kak Dee bagaimana? By sering lihat, kalau Kak Dee gampang lelah, dan pucat. By takut, jika jantungnya mulai bermasalah. "
Pov Edra
Kenapa peka sekali kamu, By. Tapi. Mas sudah terlnjut berjanji, agar merahasiakan ini pada Mu. Takut kamu makin stres.
" Mas... By, nanya. "
" Hah... Iya, Kak Dee ngga papa. Jantung nya normal, mungkin memang bawaan sakitnya, makanya cepat lelah. Oh, iya... Ini catatan dari dokter, terus ini obatnya. Nanti sore mulai diminum kan, ya."
"Iya, Mas. Mas mau kekantor?"
"He'em... Baik-baik dirumah, kata-kata Kak Dee tadi jangan diambil hati, ya."
Rubby mengangguk dan mulai mengembangkan senyum manis berlesung pipitnya. Aku mencium kening nya, dan segera melangkah pergi kekantor.
Pov Rubby.
Aku mengecek semua obat yang diberikan Mas Edra pada ku. Tak ada masalah, obatnya seperti biasa.
" Berarti aman," gumam Ku.
Aku sebenarnya ingin menemui Kak Dee dikamarnya, dan mengobrol. Tapi, Aku takut jika Ia masih sensitif. Hingga akhirnya, Aku tetap berdiam diri dikamar hingga waktu makan malam tiba, dan suami kami pulang agar bisa menjadi penengah.
" Kak Dee biasanya abis Kemo tidurnya lama. Yaudah deh, dikamar aja." aku membuka Fb, dan scrol beranda. Melihat semua kabar sahabat, Abang, dan semua dari beranda itu.
"Bang Halim... Tumben upload foto sama cewek? Haha, jangan-jangan calon istrinya. Nanti telpon ah, mau ngeledekin Dia." gumam Ku.
Tapi, semakin aku bersikeras, maka semakin aku tak bisa memejam kan mata ku. Naluri ku ingin segera kekamar kak Dee, dan mengobrol dengan nya.
__ADS_1
Akhirnya, aku pun membulat kan tekad untuk ke kamar Nya, dan bersiap mental untuk mendengar omelan nya lagi.
Cekrek! Aku membuka pintu kamar.
Aku masuk, dan mulai meracik obat tanpa mau menegur Kak Dee.
"By..."
"Hmmm...."
"Ngambek?"
"Engga...."
"Kamu udah dewasa, By. Ngga usah sok ngambek sama Kakak."
"Kalo By ngambek, By males ketemu Kakak. Mending By tidur dikamar," jawab Ku.
"By..."
"Apa...?"
"Besok pagi berangkat, ya. Kakak udha siapin tiketnya,"
"Kalau By pergi, Kakak sama siapa?"
"Kakak aman, By. Kondisi Kakak baik 'kok. Selama By pergi, Rara dan Thomas akan menginap disini untuk mengurus Kakak. Obatnya, tinggal kamu racik aja dan simpan rapat-rapat," bujuk Nya.
"Ke Jogja, disana sekalian nanti bertandang kerumah keluarga Mas Edra yang lain,"
"Iya... Yaudah, By mau packing dulu. Nanti ketemu dimeja makan, Kak." ucap Ku lalu pergi.
Pov Diana.
Untungnya, Obat jantung ini sudah lu sembunyikan daritadi. Jika tidak, Rubby akan semakin cemas nantinya. Jujur, Aku sangat tak ingin melihat Nya stres hanya karna memikirkan ku. Rubby juga harus bahagia dengan hidupnya sendiri. Tidak hanya berpatokan untuk menjaga kesehatab ku saja, sedang jiwa nya tertekan.
"Maafin Kakak By... Demi kalian," gumam Ku.
Aku menelpon Rara, untuk menanyakan tiket Mas Edra dan By besok.
Pov Rubby.
Akhirnya Aku mengalah lagi, tanpa bis membantah. Tapi, itu lah hidupku sekarang. Sesuai dengan niat awal, yaitu untuk membahagiakan Kak Dee.
Aku kembali ke kamar, dan memulai packing ku. Terasa banyak sekali, karna pakaian dan barang Mas Edra juga ku gabungkan dalam satu koper besar.
"Dah lah... Segini aja cukup, ngga lama juga 'kan." ucap Ku.
Tak terasa setelah packing beres, hari pun sudah menjelang malam. Mas Edra sebentar lagi pulang, dan Aku akan mempersiapkan makan malam.
"By... Mas pulang," ucap Mas Edra saat masuk kerumah.
__ADS_1
Aku segera menghampiri dan mencium tangan nya.
"Kakak mana, By?"
"Masih dikamar, belum By panggil. Tolong ya, Mas" pinta Ku.
"Iya... Tunggu ya,"
Setelah memanggil Kak Dee untuk makan bersama. Aku menyiapkan lalu sendiri untuk Nya dan langsung ku berikan.
"Mas... Besok pagi berangkat, ya." ucap Kak Dee pada Mas Edra.
"Jadi?"
"Ya jadi, dong. Kan udah siap semua, By juga udah packing."
Mas Edra menatap Ku, dan Aku hanya mengangguk.
Makan malam selesai. Aku membereskan meja makan, dan kembali kekamar setelah itu. Ku biarkan Mas Edra bersama Kak Dee malam ini, karna besok mereka akan berpisah lama.
Aku tertidur sangat lelap, hingga pagi menjelang, dan Kak Dee membangun kan Ku.
"By... Bangun, udah pagi. Cepetan siap-siap, sarapan, dan berangkat." ucap Kak Dee, lalu pergi dari kamarku.
"Aku yang mau Honeymoon sama suaminya, kenapa Dia yang semangat," gumam Ku, dengan mengambil handuk dan segera mandi.
Setelah sarapan. Tak lupa ku persiapkan semua obat untuk Kak Dee selama beberapa hari.
"Dee... Mas pergi, ya."
"By juga, Kak. Kakak baik-baik dirumah, jangan kemana-mana, obat jangan lupa diminum. Makan teratur," pesan Ku.
"Kamu, By. Udah melebihi dokter jaga aja. Iya... Kakak tahu kok. Yaudah, Kalian happy 'ya." pesan Nya balik pada Ku.
Aku dan Mas Edra menaiki mobil, dan segera berangkat ke bandara.
Pov Author.
Diana kembali kekamarnya untuk istirahat, setelah melepas Rubby dan Aledra pergi. Perasaan nya sedikit tenang, meskipun ada rasa sesak di dadanya.
"Ehmmm... Kok sakit gini, ya. Padahal obat jantung juga udah diminum. Bawa istirahat aja deh, sekalian nunggu Rara dateng." ucap Diana.
Namun, semakin lama semakin terasa sakit, hingga Ia sulit bernafas.
Diana memegangi jantungnya, dan berusaha keluar dari kamar dengan langkah gontai. Ia berusaha memanggil Bik Inah, dan Bik Nunik. Namun, suaranya tak mampu menjangkau mereka, hingga akhirnya , Ia ambruk didekat tangga bawah ruang tamu.
"Ya Allah... Diana!" teriak Rara yang baru saja datang kerumah itu.
Rara langsung menghampiri Diana, dan berteriak memanggil yang lain untuk membantunya membawa Diana ke Rumah Sakit.
"Ra... Jangan beritahu Mas Edra dan Rubby. Biarkan mereka berangkat dengan tenang," ujar Diana, yang sedang dalam perjalanan.
__ADS_1
"Iya, Dee... Kamu yang kuat, bentar lagi kita sampai di Rumah Sakit,"