MADU PILIHAN ISTRIKU (RUBBY)

MADU PILIHAN ISTRIKU (RUBBY)
Semua baik-baik saja


__ADS_3

"By... Bangun By... By kenapa?"


Suara Kak Dee samar-samar ku demgar ditelingaku. Belaian lembutnya pun ku rasakan dengan penuh kasih sayang. Aku mencoba membuka mata ku meski berat.


"Kak... By jatuh ngga tadi?" tanya Ku perlahan.


"Alhamdulillah, By ngga nyampe jatuh. Tapi, By katanya sakit perut. Kenapa? Siapa yang nelpon barusan?" Kak dee mencecar pertanyaan pada ku.


"Bang Ramlam nelpon. Katanya mau tetep ngejar By, kemanapun By pergi, Kak. By takut, sangking takutnya perut By keram." jawab Ku.


"Ramlan...? Lama-lama dia bisa gila. Kalau ngejar kamu terus begitu. Kamu harus hati-hati, By."


"Kak... Jangan bilang sama Mas ya, nanti Mas cemas." bujuk Ku.


"Bagaimana ngga bilang, dia udah mengusik kehidupan mu. Ataukah... Ada ancaman lain yang lebih mengerikan?"


Kak Dee ngga boleh tahu, tentang ancaman tadi. Karna bisa lebih membuatnya khawatir. "Eng... Engga Kak, hanya bilang jika. Akan terus memgejar By. Mungkin bawa'an hamil saja, makanya By gampang cemas." balasku.


"Oke... Kakak nurut sekarang. Tapi nanti, kalau ada lagi yang seperti ini, Kakak akan usut, dan sewa orang memberi pelajaran padanya. By dengar itu?"


"Iya Kak... By dengar,"


"Sebentar lagi, Mas pulang. Hapus air mata, pasang wajah ceria. Kalo engga, tahu sendiri ntar," ucap Kak Dee pada ku, dengan nada tegas.


"Iya..." jawab ku singkat.


Aku memperhatikan nya yang berjalan perlahan tanpa tongkat. Meskipun masih tertatih, namun Ia nampak kuat saat ini.


"Assalamualaikum..." ucap Mas Edra yang masuk kerumah, dan langsung disambut Kak Dee. Aku pun segera keluar, dan ikut menyambutnya.


"Mas..." panggil Ku, seraya mencium tangan nya.


"By... Kok pucet?" tanya Mas Edra.


Aku diam tertunduk. Sejatinya, aku tak bisa berbohong pada suami ku. Namun, Kak Dee kemudian keluar dari dapur dan menjawab pertanyaan itu.


"By kecape'an. Pulang dari kantor, ngasi obat aku, bantuin ngurus taneman. Untung aja waktu Mama mirna dateng, ngga diapa-apain," sahut Kak Dee. Sedang aku, hanya mengangguk meng'iyakan semua perkataanya.

__ADS_1


"Dee... Kok kamu, jalan nya lancar? Ada kejadian apa dirumah ini?" sambung Mas Edra.


"Mas... Emang ngga boleh aku cepet sembuh, yaudah... Besok pake kursi roda aja deh," ucap Kak Dee, dengan nada sedikit kesal.


"Aaah... Engga sayang, hanya terkejut. Biasanya, perlu pancingan tersendiri agar memunculkan kekuatan supermu." ledek Mas edra.


"Mas... Emang Kakak pahlawan super?" tanya Ku dengan meliriknya.


"Pahlawan buat kita semua..." jawab Nya singkat. "Udah... Mas mau mandi dulu, kalian tunggu disini terus kita makan bareng. Laper soalnya,"


Pov Author.


Mereka bertiga makan berdampingan dalam suasana penuh canda tawa. Namun, terlihat kondisi Rubby yang sedikit murung karna telpon dari Ramlan petang tadi.


"By kenapa?" tanya Edra.


"Ngga papa Mas, kenapa?"


"Kok murung? Makanan nya ngga selera? Mau apa coba, biar Mas cari'in," buju Edra.


"Mulai pilih-pilih makanan ya By? Biasa kalo gitu, besok Kakak temenin belanja. Cari aja yang By selera. By harus rajin ngemil karna ngga selera makan, tapi cemilan nya yang sehat." sahut Diana.


"Iya... Bawaan Baby itu, dulu Rara juga gitu. Malahan ngga doyan makan nasi, jadi makanan nya tiap hari cuma roti. Itu aja kalo lagi mau makan," jawab Diana, dengan mengoleskan selai kedalam sebuah roti tawat, dan memberikan nya pada Rubby. "Nih... Makan. Lumayan buat ganjel perut, daripada mag nya kumat."


"Iya... By coba makan. Tapi kalau ngga selera ngga papa 'ya. Jangan marah,"


Dengan perlahan namun pasti, Rubby menikmati roti yang diberikan Diana dan menghabiskan nya.


"Enak' kak.... Mau lagi, boleh? Tapi Kakak yang buatin." rengek Rubby.


Diana tersenyum gemas, melihat kelakuan madu nya itu. Dan menuruti semua yang diminta nya.


"By... Udah Tiga kali nambah belum kenyang?" tanya Edra keheranan.


"Belom... Enak loh, Mas mau?" tanya Rubby memberikan rotinya.


"Engga... Mas udah kenyang. Jangan kebanyakan, ntar muntah,"

__ADS_1


"Mas... Biarin ah, By lagi hamil wajar kalau makan banyak. Dia dua perut sekarang," tegur Diana.


"Iya Dee... Mas juga tahu, Mas cuma khawatir kalau dia muntah nanti. Mending sekarang By berhenti dulu makan nya, nanti malem kalau laper, By makan lagi, ya...." bujuk Edra.


"Iya, Iya... Ini yang terakhir kok, By udah kenyang," sahut Rubby, yang masih menikmati Roti isi nya.


Begitulah hari demi hari, minggu demi minggu, hingga tak terasa, kandungan Rubby sudah menginjak usia Empat Bulan. Mereka sangat antusias menyambut kelahiran Baby Rubby, meskipun waktunya masih lama. Terutama Diana, yang begitu ingin melihat kelahiran anak Rubby.


Diana seperti kehilangan penyakitnya saat itu. Ia besemangat, ceria, dan tak lemah lagi seperti biasa. Meski tak dipungkiri jika sebenarnya, tubuhnya semakin dan semakin melemah. Sering tanpa sadar terdapat lebam dibagian tubuh tertentu, mimisan yang tak terkendali, pedarahan pada gusi, bahkan Diana benar-benar botak sekarang hingga harus memakai penutup kepala dan rambut palsu kemana-mana.


"Kak... Perut By udah mulai kelihatan bulet," ucap Rubby yang sedang memamerkan perutnya.


"Iya... Udah kelihatan. Pergerakan nya gimana? Aktif kan?" tanya Diana, seraya menyusun tanaman kesayangan nya.


"Lumayan... Tapi, By sering keram ya,"


"Hmm...? Nanti sore kita periksa ya, jangan nolak. Demi kebaikan mu,"


"Iya... Sekalian USG yuk, By pengen lihat Baby nya cewek apa cowok." rayu Rubby.


"Jangan aaah. Biar menjadi kejutan nanti, cewek atau cowok yang penting sehat. Kita harus merawatnya dengan baik, terlebih lagi... Dia adalah pewaris dari Pratama'd group nanti nya." jawab Diana, datar.


"Kak... Kakak ngga papa 'kan?"


"Ngga papa... Kenapa emangnya? Kamu takut Kakak cemburu?"


"Jujur Iya... Terlebih lagi, jika Mama mirna kemari, dan terang-terangan membandingkan kita berdua saat itu. By ngga enak,"


"Ngga perlu ngga enak sama Kakak. Kakak ngga papa, hanya saja. Kamu jangan terlena dengan semua pujian itu. Ingat... Dia hanya mencintai anak. Mu, bukan kamu, By. Untuk sekarang, Mama mirna tak akan berani menyentuhmu karna anak dalam kandungan mu itu berharga. "


"Kak... Apa, Mama mirna bisa sejahat itu? By takut."


"Berdo'a saja By... Berodo'a agar keajaiban bisa meluluhkan hati nya. Oh iya... Bukan nya hari ini, Mama mirna ngajak belanja, kamu mau?"


"By berusaha nolak... Tapi, Mama maksa. Gimana?"


"Turuti saja, Mama ngga akan berani macam-macam dengan kamu, Kakak paham, kemana Mama akan membawa kamu By."

__ADS_1


Diana meyakin kan Rubby, agar tetap tenang menghadapi mertua nya itu. Namun, Diana meminta Rubby agar tetap waspada dan bisa mencerna dengan baik setiap perkata'an yang diucapkan Mama mirna padanya. Karna Diana benar-benar tahu dan faham, ucapan mertua anggun nya yang santai, namun penuh arti.


__ADS_2