
Kami memulai perjalanan kami berdua. Mas edra lebih memilih menyetir sendiri meskipun lengannya masih sakit. Sebenarnya sudah ku bujuk, namun Ia bersikeras karna Ia lebih nyaman menyetir mobilnya sendiri.
Aku hanya diam, pikiranku melayang entah kemana. Ada Kak Diana, ada Bang ramlan, dan lebih parah lagi, ada Bu lurah terselip dalam otak ku.
"Astaghfirullah... Bagaimana jika Ia tahu, bahwa anak kesayanganya ada dipenjara sekarang? Terlebih lagi, Ia dipenjara gara-gara aku," batin ku.
"By mikirin apa?" tegur Mas edra, yang mengagetkan ku.
"Hehh... Ngga papa Mas. Kenapa?" jawab ku gugup.
"Jangan bohong... Mas tahu loh, By lagi mikir sesuatu,"
"Mas mulai peka sama By, ya?" goda ku.
"Iya... Terus By mikir apa sekarang? Mikirin Kakak?"
"Mikir Kakak, mikir Bang ramlan...."
"Kenapa By mikirin dia?"
"Mas... Bang ramlan itu, sebenernya orang baik, baik banget. Dari dulu dia yang selalu nolong By, kapan pun By butuh. Tapi, By heran kenapa sekarang jadi jahat."
"Tidak ada orang yang terlahir jahat sayang. Lingkungan dan kehidupan yang pahit, yang bisa membuat nya seperti itu. By tahu 'kan?"
"Iya, Mas... By tahu benar, kehidupan Bang ramlan yang begitu banyak tekanan dari Ibunya."
"Apalagi yang By takutkan? Bu lurah?"
"Iya... Salah satunya itu,"
"Kan ada Mas disamping By. Dia ngga akan berani, tenang aja, banyak yang ngelindungin By disana nanti,"
"Siapa? Bang Halim? Dia kan jadi pengantin, mana bisa?"
"Yang lain lah sayang... Kata Kakak, By itu banyak yang sayang disana, betul?"
"Insya Allah Mas... Semoga mereka bisa ikut melindungi By, seperti sa'at Kakak yang melakukannya."
Kami menghentikan percakapan kami sejenak, dan melanjutkan perjalanan. Aku mengantuk, sehingga lebih memilih tidur, daripada menemani Mas Edra mengobrol.
Dua jam lebih perjalanan, Mas edra membangun kan ku. Dan mengajak ku beristirahat sejenak.
"By... Bangun, istirahat dulu ya. Mas capek." ucapnya, dengan menurun kan jok mobil, dan merebahkan tubuhnya.
"Mas... By laper,"
"Hadeeeh... Untung Kakak tadi bawain roti, By." balasnya, lalu meraih tempat bekal yang berada tepat dibelakangnya, lalu memberikan padaku.
"Uwuuu.... Makasih, Kakak emang pengertian banget." ucapku bahagia, lalu melahap roti isi itu."Mas mau?"
"Engga... By aja abisin. Itu ada sekotak lagi buat nanti. Lihat kan, Kakak itu begitu perhatian sama By, sampai-sampai bawain bekel banyak. Karna khawatir By kelaperan dijalan," ucap Mas edra.
__ADS_1
"Iya... By tahu, By paham dan sangat mengerti. Kakak emang the best," puji ku.
Sekitar setengah jam kami beristirahat. Setepah dirasa cukup, Mas edra kembali menjalan kan mobilnya, dengan kecepatan sedang.
Aku kembali tertidur setelah itu. Dan Mas edra, memutar musik untuk menemani perjalanannya sendiri.
*
*
*
" By... Bangun sayang, bentar lagi sampai." bujuk Mas edra.
Aku menggeliatkan badan, dan menatap sekitar.
"Oh... Iya, bentar lagi sampai, nanti ada pertiga'an, Mas belok kiri ya,"
"Iya... By mau istirahat dulu ngga?"
"Engga... By mau nya langsung ketemu Ibu, By udah kangen." balasku.
"Oke... Sabar ya, sebentar lagi." bujuk. Mas edra.
"Mas... Kok rasanya perjalanan cepet banget? Mas ngebut ya?"
"Mas ngga ngebut... By kan daritadi tidur, jadi ngga kerasa."
"Iya bener ngebut... Biasanya perjalanan Lima jam, ini cuma Tiga setengah jam. Ya ampun Mas..."
"Kalo ada apa-apa gimana?"
"Ya nyatanya ngga ada apa-apa 'kan?"
"Hewwwh... Yaudah deh. Yang penting bentar lagi nyampe. Roti dari Kakak mana?"
"Laper lagi?"
"Iya... Mana?" rengek ku.
Mas edra kembali mengambil kan roti nya, dibelakang.
"Nih... Abisin. Dikit lagi nyampe," ujarnya.
Dengan bahagianya, ku ambil makanan pavoritku itu, dan segera melahapnya kembali.
Terlihat dari kejauhan rumah Ibu. Disana sudah berdiri tenda pesta yang megah, dan para tetangga sudah mulai ramai berdatangan untuk membantu jalanya acara kami.
Mas edra memarkirkan mobilnya, Ibu dan Bapak yang melihat kami datang, langsung menyambut dengan suka cita.
"Rubby... Anak Ibu... Gimana kabarnya sayang, sehat kan?" tany Ibu.
__ADS_1
"Alhamdulillah sehat Bu, Ibu bagaimana?"
"Ibu sehat sekali... Ayo masuk nak, Edra juga. Biar nanti anak buah Halim yang menurunkan kopernya." ujar Ibu.
Aku masuk perlahan, menatap semua dekorasi didalam tenda itu. Semakin ku perhatikan, nafasku semakin sesak. Pandangan ku pudar, jantungku berdebar kencang, dan kaki ku lemas.
Pov Author.
Bruuugh!!
Rubby Ambruk seketika, disebelah Sang Ibu.
"Astaghfirullah, Rubby." teriak Edra, dan langsung menghampiri istrinya yang tiba-tiba pingsan.
Bu Lilis memangku Rubby dsn berusaha membangunkan nya, namun tak berhasil. Edra datang, lalu mrnggendongnya masuk kedalam Kamar, dan segera menidurkan nya.
Semua orang menatap dengan panik, dan penuh tanya, ada apa dengan Rubby.
"By... Bangun sayang. By kenapa tiba-tiba pingsan, Ayo sayang bangun." bujuk edra, dengan menciumi tangan Rubby, dan mengusap rambutnya dengan minyak telon.
"Nak... Bangun sayang. By belum makan kah, sampai lemas seperti ini?"
"By udah makan kok Bu. Ehmmm, Bu tenda sama dekorasinya_...."
"Astaghfirullah... Apa By trauma?"
"Mungkin..." jawab Edra.
Mereka masih berusaha membangun kan Rubby yang masih pingsan dengan berbagai cara, hingga akhirnya, Rubby terbangun.
"Mas...." lirih nya.
"By... By udah bangun? Ayo, minum dulu sayang," bujuk edra. "By kenapa, kecape'an?"
Rubby hanya menggeleng, dan kembali memperhatikan tenda yang ada diluar.
"Tenda itu... Persis sekali, Ma'af, seperti nya trauma By belum hilang sepenuhnya," jawab Rubby.
"Ya Allah Nak... Memang tenda itu dipesan dari tempat yang kemarin. Kata Pak tarno, karna kemarin ngga dipakai, jadi yang sekarang dapat diskon besar. Ma'af, jika By justru lemas melihatnya." ucap Bu Lastri.
"Tapi By harus kuat. Tenda itu ngga mungkin dibongkar hanya karna By tak kuat melihatnya. Acara tinggal besok," sahut Bapak dari luar.
"Pak... Dekorasinya saja," bujuk Ibu.
Mereka sempat berdebat sebentar, hingga akhirnya Rubby membuka mulutnya.
"Pak... Bu... Biar saja. By hanya terkejut tadi. Tak apa, By kuat." jawab Rubby.
"Ya... Memang harus seperti itu By. Kamu tidak harus mengingat masa itu lagi, kamu punya edra sekarang. Tak pantas mengingat kesakitan itu,"
"Iya Pak... Ma'af," jawab Rubby dengan sedih.
__ADS_1
"Sudah Pak... Tak apa, wajar saja jika By terkejut. Kenangan itu bukan lah seuatu hal yang dengan mudan dilupakan. Edra tahu benar, bagaimana trauma By sa'at itu." balas edra, menengahi mereka semua.
Rubby kembali istirahat setelah perdebatan itu selesai, dan Edra kembali menemui mertua dan para kerabat dekat By disana. Ini awal pertemuan mereka, karna memang saat By dan edra menikah, mereka tak ada yang hadir. Hingga baru sekarang mereka bisa bertemu dan berbincang saling memperkenalkan diri.