MADU PILIHAN ISTRIKU (RUBBY)

MADU PILIHAN ISTRIKU (RUBBY)
Kenyata'an sebenarnya


__ADS_3

Bu Lilis melelamah, tubuhnya ambruk, meskipun Ia masih dalam keada'an sadar. Edra dengan sigap menangkapnya, dan menopang tubub mertuanya itu.


"Bu... Ibu kenapa? Kenapa kalian membicarakan Ginjal? Ginjal siapa?" tanya Edra.


"Jangan dengerin dia sayang! Dia itu wanita kampung, yang suka cari perhatian." sahut Mama mirna.


"Ma... Tolong, diam dulu. Biar kan Ibu bicara!" tegur Edra dengan lantang.


Rubby hanya bisa memperhatikan, tanpa bisa melerai. Tubuhnya sendiri lemah, namun Ia tahan agar tak jatuh. Rubby menghampiri Ibu nya, dan menggantikan posisi edra. Sedang Diana, hanya memperhatikan argumen Mama mirna.


"Alasan apa lagi, yang akan Mama haturkan kali ini. Ternyata keajaiban masih berpihak kepadaku," batin Diana.


Edra melangkah menghampiri Mamanya, dengan wajah penuh tanya. "Apa ini, Ma? Jelasin ke Edra!"


"Dra... Ngga ada apa-apa. Mungkin dia cuma kelelahan, jadi ngelantur. Mama ngga pernah ketemu sama dia." sela Mama mirna.


"Jangan membohongi diri sendiri Suster Mirna. Saya kenal dengan anda, Anda yang selalu merawat adik saya selama koma, hingga meninggal. Sayangnya, terlalu saya percaya pada anda, hingga tak menyadari operasi yang lalu itu adalah operasi pencangkokan Ginjal dari tubuh adik saya. Ayahnya Halim!" balas Bu Lilis, dengan perlahan bangkit dari jatuhnya.


Halim terbelalak dengan perkata'an Bu lilis."Bu... Apakah benar yang Ibu katakan?" tanya Halim, dengan mata Nanar.


"Engga...! Dia bohong. Dia berbohong demi meraih simpati kalian. Dia gilaaaa!" teriak Mama mirna, lalu berlari pergi meninggalkan mereka semua.


"Pak... Jalan." ucap Mama mirna pada supir Pribadinya. "Berengsek... Harusnya aku yang memberi kejutan padanya. Kenapa aku yang terkejut. Bagaimana bisa mereka disini, dan Dia adalah Ibu Rubby. Astaga.... Semua ini menyebalkan. Bagaimana nanti dengan edra." gumam nya.


Sementara dirumah itu. Edra dan Halim memapah Bu lilis untuk beristirahat dikamarnya.


"Dra... Mama mu itu mantan perawat 'kan?" tanya Bu lilis.

__ADS_1


"Iya, Bu... Mama mantan perawat dsebuah Rumah Sakit Swasta. Sebagai kepala perawat."


"Iya... Berarti, Ibu memang tak salah." jawab Bu lilis.


"Bagaimana sebenarnya, Bu. Apa yang terjadi sama Ibu dan Bapak ku sa'at itu?" tanya Halim.


Bu lilis menarik nafas panjang. Dan memulai ceritanya.


"Dulu... Saat ada gempa besar yang melanda kampung dan sekitarnya. Bapakmu, demi melindungimu rela tertimpa reruntuhan batu bata. Dan beberapa diantaranya mengenai kepalanya. Hingga Ia harus dirawat intensif dan koma. Sedangkan Ibu mu, meninggal sa'at dibawa kerumah sakit."


"Iya.. Halim ingat, sa'at itu, Halim berusia Delapan tahun." jawab Halim.


"Iya.... Kamu dirawat Bu Rina, Bu lurah yang sekarang, karna Ibu harus membawa Bapakmu ke Rumah Sakit dikota ini. Saat itu, perlengkapan di Rumah Sakit sana belum memadai, makanya harus dirujuk."


"Lalu... Apa hubunganya dengan Mama saya?" sambung Edra.


"Mungkinkah... Sa'at aku kecelaka'an dan membutuhkan donor ginjal?" gumam edra.


"Mungkin, Mas... Cerita ini saling berkaitan. Ibu bisa lanjutkan lagi?" tanya Diana.


"Satu minggu dirawat, katanya kondisi semakin kritis. Kepalanya harus harus dioperasi, karna terdapat banyak gumpalan darah. Jadi kami menyetujuinya, karna mungkin itu yang tebaik. Jadwal operasi tiba, mereka yang menyiapkan semuanya. Ibu yang cemas dan khawatir hanya bisa pasrah, dan mempercayai semua tindakan yang dilakukan Tim medis sa'at itu. Begitu juga Suster mirna sa'at itu, Dra. Tapi, sa'at diruang operasi, mereka bilang Bapak Halim kritis dan tak tertolong. Ibu pasrah, dan hanya bisa menangisi semua keada'an dan menerimanya. Hingga sa'at jenazah dibawa pulang, dan kami mandikan. Kami baru tersadar, jika ada luka dibagian perutnya. Kami memanggil para medis untuk memeriksanya. Dan ternyata, ginjal nya sebelah tidak ada. Kami hanya bisa meraung menangisi itu. Kami tak punya dana untuk meminta pertanggung jawaban, bahkan menuntut. Hanya wajah Mirna, yang Ibu ingat hingga sekarang." jelas Bu lilis.


Edra seketika jatuh bersimpuh dihadapan mertuanya, Ia menangis tersedu memohon pengampunan, atas sikap Mamanya.


"Bu... Ma'afin Edra. Edra ngga tahu ini semua. Yang edra tahu selama ini, sebelah ginjal milik edra ini adalah ginjal Mama, sehingga edra pun menganggap Mama bagaikan malaikat penyambung nyawa edra. Bahkan, karna Mama, edra mengabaikan istri edra sendiri, demi menjaga perasa'anya."


Semua orang diruangan itu beerderai air mata, termasuk Rubby."Jadi... Sebelah ginjal Mas edra itu, adalah ginjal Pakde Rubby? Bapaknya Bang Halim?"

__ADS_1


"Kemungkinan Iya, By... Karna, Cerita ini bersangkutan. Persis dengan yang Kakak curigai selama ini. Jika Mama, bukan pendonor ginjal sebenarnya." sahut Diana.


Edra menghampiri Halim, dan memeluknya Erat. "Halim... Ma'afkan aku, ma'afkan semua kesalahan Mama ku. Aku akan memberi hukuman padanya, karna semua perbuatanya."


"Mas... Sudahlah, itu sudah belasan tahun yang lalu. Mau memberi hukuman Mama mu yang bagaimana? Aku ingin menuntut pun sudah tak bisa. Terlalu jauh untuk mencari barang bukti. Sekarang, kami ikhlas. Kita memang ditakdirkan untuk bertemu dengan cara seperti ini." balas Halim.


Edra memeluknya semakin erat. Pantas saja, Ia merasa begitu dekat dengan keluarga Rubby, meskipun hanya dengan beberapa kali bertemu. Serasa, mereka adalah bagian keluarga yang sudah terpisah begitu lama.


"Aku... Aku akan menemui Mama sekarang. Dan meminta penjelasan padanya!" ujar edra, dengan mata nanar.


"Mas... Jangan emosi," sahut Rubby.


"Bagaimana Mas tak emosi, By. Begitu banyak yang ingin Mas tanyakan. Jangan halangi Mas sekarang. Diana... Titip Ibu dan Rubby. Mas pergi dulu."


Edra bergegas mengambil kunci mobilnya, lalu menghampiri Nunik yang sedang didapur.


"Nunik... Ikut saya, kembali kerumah Nyonya mu."


"Hah... Kenapa, Tuan?"


"Jangan banyak bicara. Setelah ini, lakukan pengabdianmu disana. Jangan jadi mata-mata lagi untuk keluargaku. Kemasi barangmu sekarang juga. Aku tunggu dimobil!"


Nunik berdecak bingung, namun menuruti perintah itu. Segera Ia membereskan pakaianya, dan menghampiri Edra dimobilnya.


Edra masih dalam keada'an marah. Dengan tatapan kosong, Ia memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi.


"Rahasia sebesar ini, Ma. Bersangkutan dengan nyawa orang lain. Kenapa bisa Mama berbohong? Adakah lagi, rahasia lainya? Kenapa Mama seperti ini? Hilang sudah simpati Edra untuk Mama."

__ADS_1


__ADS_2