MADU PILIHAN ISTRIKU (RUBBY)

MADU PILIHAN ISTRIKU (RUBBY)
Ma'afin Bayu


__ADS_3

"Astaga... Maliq, Maliq tidak apa-apa?" tanya Pak bima, yang terkejut melihat Maliq yang menangis.


"Bapak.... Maliq takut ayah marah. Maliq takut jika dikirim kepesantren." ucap Maliq.


"Kita pulang dulu, Nak. Nanti Bapak bantu bicara dengan ayahmu." pinta Pak bima, dengan menggandeng Maliq.


Mereka masuk kemobil, Nana menggenggam tangan Maliq dengan erat. Meskipun tanganya pedih, namun sakitnya tak seberapa dibandingkan ketakutanya dengan Sang ayah.


"Mas, ma'afin Bayu." ucap bocah itu, menyesali keada'an yang terjadi.


"Bayu ngga salah. Mas ngga bisa nahan emosi, paling nanti Mas dihukum." ucap Maliq, berusaha tenang.


Nana menyandarkan kepalanya didada Maliq, terdengar degup jantungnya begitu cepat, dengan irama tak beraturan. Nana mengusap dan mengelusnya agar kembali ke ritme normal.


Berita tadi begitu cepat menyebar hingga ke telinga Edra. Ia yang sedang rapat dikantor, mendadak meninggalkan ruangan tanpa permisi, dan berlari menuju mobilnya. Winda mengejarnya juga dengan tergesa-gesa.


"Bapak mau kemana? Rapatnya bagaimana?" tanya Winda.


"Saya mau pulang, Maliq buat masalah. Kamu ambil alih rapat atas perintah saya." ucap Edra, lalu pergi dengan cepat.


Anak-anak terlebih dulu tiba dirumah. Rubby menyambut mereka, namun heran dengan tingkah sulungnya yang murung. Ia melirik ke Pak bima.


"Nanti saya ceritakan." bisiknya.


Anak-anak yang lain, bergegas kekamar masing-masing untuk betganti pakaian, lain halnya dengan Maliq yanh justru duduk disofa denga wajah takutnya. Terlebih lagi, ketika Ia mendengar suara mobil Ayahnya datang.


"Mana maliq?" tanya Edra.


Rubby menunjuknya, dengan wajah sedikit takut, karena Edra seperti dalam keada'an emosi, namun Rubby pun belum tahu kejadian yang sebenarnya.


Edra menghampiri Maliq, dan duduk disampingnya. Menggenggam tangan maliq yang terluka.


"Sakit" tanya Edra.


"Tidak... Maliq tidak merasakan sakit. Tapi anak tadi pasti sakit, kareba hidungnya berdarah." jawab Maliq.

__ADS_1


"Maliq sadar telah menyakiti orang lain dengab tangan ini? Kenapa Maliq lakukan?"


"Maliq belain Bayu sama Adi, apa itu salah? Mereka yang jahat." ucap Maliq.


"Kejahatan, tak harus dibalas kejahatan. Mengalah buka karena lemah Maliq. Tahu kelemahan Maliq yang paling Ayah khawatirkan?" tanya Edra, yang dibalas gelengan Maliq.


"Engga," jawabnya.


"Maliq belum bisa mengontrol emosi dengan baik. Maliq sering menahan emosi itu, tapi seperti Bom waktu yang bisa meledak dengan dahsyat. Itu bisa merugikan diri sendiri dan orang lain. Seperti ini contohnya." jawab Edra.


"Maliq, akan tetap Ayah masukan kepesantren, meskipun Maliq mendapat nilai tinggi? Ayah ingkar?"


"Ayah punya alasan buat Maliq. Maliq ngga perlu khawatirkan Nana dan Bram. Mereka aman." jawan Edra meyakinkan.


"Ayah jahat... Ayah jahat sama Maliq." teriaknya lalu masuk kekamar.


Rubby yang baru saja mendengar penjelasan dari Pak bima, lalu mendekati Edra perlahan.


"Mas... Ngga perlu sekeras itu." bujuk. Rubby.


"Kerasnya Mas itu demi kebaikan Dia, By. Setidaknya disana dia akan mendapat pelajaran berharga mengenai kontrol jiwanya."


"Maka dari itu, Mas mau dia ke pesantren. Mas mau, dia tak salah langkah. Mas mau kerumah anak yang Ia pukul tadi. Mau minta ma'af, dan membayar biaya pengobatan. Meskipun kita tak salah, posisinya tetap Maliq yang memukul mereka." ucap Edra, lalu pergi dengan mengode bima untuk ikut bersamanya.


Rubby beranjak, lalu pergi masuk kekamar Maliq, setelah meminta Mba ratih menyiapkan makan siang mereka.


"Mas... Nangis?" tanya Rubby.


"Pengenya nangis. Tapi malu, nanti Nana lihat." jawab Maliq, yang sudah mengganti pakaianya.


Rubby memeluknya, dan Maliq akhirnya menangis sejadi-jadinya dalam pelukan itu.


"Nangis aja, ngga papa. Pura-pura kuat, ketika kita sedang lemah itu menyakitkan. Luapkan saja tangis itu, jika sudah lega. Maka usap air matanya. Takut dilihat Nana kan?" ucap Rubby, dengan menepuk-nepuk bahu Maliq.


Setelah beberapa lama diam, Maliq beranjak dan mengusap air matanya.

__ADS_1


"Sudah? Ayo, makan siang sama yang lain?" ajak Rubby.


"Maliq, ngga lapar, Bu. Mereka duluan aja." ucap Maliq. Rubby mengangguk, lalu kelhar dari kamar itu.


"Mas mana, Bu?" tanya Nana.


"Mas belum lapar katanya, Nana makan aja dulu."


"Nana mau makan sama Mas. Kekamarnya, Ah..." ucap Nana, dengan membawa piring penuh makananya kekamar Maliq.


"Mas..." panggil Nana dengan lembut.


"Iya, kenapa dek?" tanya Maliq.


"Suapin." pinta Nana.


Maliq beranjak lagi dari tidurnya. Sebenarnya Ia lelah, tapi Ia tak pernah bisa menolak Nana. Maka dari itu, Ia berat ketika harus meninggalkan Nana dirumah dalam waktu yang lama.


Meninggalkan kemanisan Maliq dan Nana. Ayah mereka sekarang sedang berdiskusi dengan wali murid dari anak yang dipukul Maliq barusan. Diskusi berlangsung alot, karena mereka tak didampingi pihak sekolah, dan keluarga itu justru ingin memeras edra, karena tahu akan kekaya'anya.


"Jadi, bagaimana Pak? Anak saya luka loh digebukin sama anak Bapak. Anak ngga tahu didikan itu brutal, beraninya gebukin orang. Padahal cuma bercanda sama adeknya. Begitlah anak orang kaya, selalu ditinggal kerja, jadi kayak ngga punya moral." ejek orang itu.


Edra mengepalkan tanganya, dan menahan emosinya agar tak tersulut. Bima mengambil alih pembicara'an dan diskusi itu.


"Anak bapak yang membuly anak majikan saya. Maliq yang mrlihat adiknya diperlakukan tidak baik, hanya ingin membela." jawab Pak bima.


"Yang jelas... Sekarang anak saya yang babak belur. Kalau say foto dan saya posting di medsos. Orang taunya, anak bapak yang salah, dan nama bapak akan tercemar. Mau?" ancamya lagi.


"Apa mau kalian?" tanya edra dengan pelan.


"Lima puluh Juta, buat pengobatan. Dan anak saya akan pindah sekolah." jawabnya.


"Kalian memeras kami?" bentak Pak Bima.


"Kalau tidak mau, yasudah. Lihat saja fotonya akan saya sebarluaskan. Anak saya kehilangan Dua giginya sekarang. Parah sekali itu, kalau ngga brutal, ngga akan seperti itu." ancamnya.

__ADS_1


"Tangan maliq tak terluka separah itu, bagaimana bisa Dua giginya patah." gumam Edra.


"Kalau mau sebarkan, sebarkan saja. Selanjutnya, kita bertemu dipengadilan. Malu, sama-sama malu. Hancur, sama-sama hancur. Perusaha'an saya banyak. Jadi saya tak akan rugi besar. Sedangkan anak anda, tak akan lagi diterima disekolah manapun setelah ini." ucap Edra, lalu pergi.


__ADS_2