MADU PILIHAN ISTRIKU (RUBBY)

MADU PILIHAN ISTRIKU (RUBBY)
Rindu Mas edra


__ADS_3

Delapan bulan sudah kehamilan ku. Perasa'an kesal itu perlahan memudar, meski terkadang masih begitu enggan untuk terlalu dekat.


Tapi, aku begitu bersyukur, Ia adalah suami yang begitu mengerti dengan keada'anku. Sudah terbiasa, ucapnya padaku, ketika aku meminta ma'af atas semua tingkah yang menyebalkan ini.


"Apa yang Mas rasakan, tak sebanding dengan yang By rasakan. Mas tahu, By lebih tersiksa dengan keada'an ini, bukan? Justru, rasa cinta kita akan semakin dalam, karna ini pertama kali nya kita terpisah jauh, meski sebenarnya dekat." ucapnya padaku, ketika aku menangis sendirian dikamar.


Setelah kejadian itu, Mas edra meminta anak-anak untuk bergantian menemani ku tidur dikamar. Karna takut, karna tekanan dalam hatiku yang berlawanan, dan terlalu lama sendirian, aku akan menjadi stres, dan tak baik untuk kandunganku.


Sore itu, kami baru saja merayakan Ulang tahun Brama Kumbara pesta sederhana saja, untuk membahagiakan puta kecilku dipertambahan usianya yang ke Tujuh tahun. Ia mendapat begitu banyak kado, yang tak lupa Ia bagikan pada Mas dan adik kembarnya.


"Pilih sendiri, mau yang mana. Bram pokonya robotan ini, jangan diganggu." ucapnya pada yang lain.


"Mas mau mobilan aja, Bram. Mobil remote nya keren, bisa nanti balapan sama kamu." balas Maliq.


"Bayu mau robotan juga, kayak Mas Bram," rengeknya.


"Itu kan masih ada robotnya satu, ambil lah, ini kan punya Mas." tunjuk Bram.


"Itu tadi Adi mau, Bayu ngga boleh rebut." jawab Bayu, menunjuk Adi yang ketiduran di sofa.


Bram menghela nafas panjang, lalu meminjamkan robotnya pada Bayu.


"Nih, jangan dirusakin. Tak cubit nanti kalau rusak," ancamnya, pada adiknya itu.


Aku hanya diam memandang mereka, dengan rasa haru dan bangga.


"Bram... Sini, sayang." panggilku dengan lembut.


Ia menghampiri, lalu duduk disebelahku, dan mengelus perutku sebentar.


"Adek, bentar lagi keluar?" tanya nya.


"Iya, Bram kenapa, kasih robotnya ke Bayu?"


"Bayu udah ngalah sama Adi, masa Bram ngga mau ngalah sama Bayu. Kan... Kasihan,"


"Terus... Bram main apa?"


"Bram ambil mobilan remote deh, mau balapan sama Mas Maliq," ucapnya dengan penuh semangat, lalu meninggalkan ku pergi.


"Nanti, mainya jangan kejauhan!"

__ADS_1


"Iya, Bu,"


Aku melangkahkan kaki keteras depan, dan duduk menatap bunga-bunga itu. Hanya menatap, tak ingin melakukan apapun.


"Kak... By rindu, entah kenapa semakin rindu ketika melihat tanaman kesayanganmu. Tak tahu kenapa, rindu semakin lama semakin menjadi, meskipun ku alihkan dengan yang lain. Dengan berdzikir, bermain bersama anak-anak, dan semuanya untuk memberiku kesibukan.


Kak... Sekarang By mengerti, kenapa Kakak memberi Mas edra buat By, dan tak ingin memberikanya pada orang lain. Itu karna Mas begitu berharga, begitu sabar ketika kita perlakukan kurang menyenangkan, karna memang suatu keada'an yang memaksa. Bahkan, By pun sekarang tersiksa dengan keada'an ini.


Seperti Maliq yang pernah bermimpi tentang Kakak, boleh kah, By bertemu sebentar saja.


Ah... Sudah lah, alangkah berdosanya By mengatakan hal ini sekarang. Kalau ada Ibu, pasti By sudah dijewernya sekarang. "


Tak terasa aku mentikan air mata ketika itu, dan langsung ku seka, karna tak ingin anak-anak mengetahuinya.


"By... Makan dulu, daritadi belum makan. Udah pucet, tuh mukanya." panggil Bik inah.


"Hah... By pucet? Kelihatan banget ya, Bik?"


"By kenapa? Sakit?"


"Kayaknya kurang darah, deh. Besok periksa, lah. Tunggu Mas pulang."


"Kenapa harus besok, Bibik kan ada."


"Udah ngga kesel lagi?" tanya Bik inah yang meledek ku.


"Ngga tahu lah, rindu saja." balasku, lalu memakan makananku.


Tak beberapa lama, Hp ku berbunyi karna Mas edra menelponku.


"Hallo, Mas..."


"Sayang... Katanya sakit?"


"Ish... Pasti Bibik udah ngadu, ya? Bikin panik orang aja." omelku.


"By... Bibik baik ngasih tahu, Mas. Biar cepet ditangani. Kenapa harus nunggu Mas buat cek? Sama Bibik aja, ya?"


"Ngga mau, maunya sama Mas." ucapku, yang entah kenapa hingga meneteskan air mata.


"Lah... Kenapa nangis? Anak-anak ngga nakal kan?"

__ADS_1


"Engga... Mas masih lama pulangnya? Cepetan, ya. Jangan lama-lama, meskipun dikamar diusir, tapi dihati tetap tempat istimewa,"


"Iya... Mas akan berusaha untuk cepet pulang, dan besok kita periksa, ya."


"Iya... Yaudah, By makan dulu, sambil mau ngecek anak-anak." pamitku padanya.


"Ibuuuuu! Tengoklah, robot Bram ini. Kakinya dipatahkan Bayu." teriak Bram, yang menghampiriku setengah menangis.


"Hey... Jangan nangis, nanti kalau Bram nangis, Bayu juga ikut nangis loh."


"Bayu sama adi, udah nangis duluan, sama Bik ratih tuh." tunjuknya.


Aku menghela nafas, memegang pundaknya dan memberi senyum.


"Sini... Ibu bantu benarkan. Besok, ngga usah nangis lagi, adek nya ngga usah dimarahin, ya."


"Bram itu, tadi, ngga marah. Tapi, tau-tau, kembarnya nangis. Bram tanya, malah nangisnya makin kenceng" jawabnya, tersedu.


"Yaudah... Nih, udah bener. Main lagi, ya. Ibu mau nenangin adeknya dulu.


Ku tinggalkan Bram bermain diteras belakang, dan aku menenangkan kembar yang menangis bersautan.


"Bayu, Adi... Jangan nangis," rayuku.


"Adi ngerebut mainan Mas Bram, kakinya patah, Bayu takut dimarahin sama Mas, malah Adi nangis." lapornya padaku.


Adi tak menjawab apapun, justru menangis lebih keras, dipelukan Mba ratih. Lalu Mba ratih membawanya pergi sebentar.


"Ngga boleh gitu, ya. Ngga papa kok, Mas ngga marah. Main lagi sana, terus minta ma'af sama Masnya." bujuk ku pada Bayu.


Ia mengangguk, dan berlari kembali menghanpiri Bram, dan bermain bersama. Aku, hanya terduduk, dengan nafas tersengal-sengal, lalu merebahkan tubuhku dilantai ruang bermain.


"By... Bangun, Nak. Pamali tidur maghrib begini, mana hamil besar." tegur Bik inah.


"Hah... Iya, Bik. Mas, belum pulang?"


"Belum, katanya sebentar lagi. Nanyain tadi, mau pesan apa?"


"Ngga ada, cuma pengen Mas cepet pulang aja. Kangen," jawabku.


"Iya, nanti pulang. By mandi dulu, shalat magrib, ya. Kita makan malam sama-sama."

__ADS_1


Aku menuruti perintah Bik inah, dan dengan lemas, aku naik keatas dan mandi, berdzikir dan beristighfar hingga menangis. Lalu, setelah dirasa puas, aku turun kebawah, menghampiri semua yang telah menungguku dimeja makan.


__ADS_2