MADU PILIHAN ISTRIKU (RUBBY)

MADU PILIHAN ISTRIKU (RUBBY)
Menanti restu


__ADS_3

Pov Author.


"Dee, itu benar-benar kamu?" Tanya Edra.


"Iya Mas kenapa?"


"Kamu kenapa tiba-tiba bisa sekuat itu, padahal tadi dari rumah sakit aja harus dipapah?"


"Wanita memang sperti itu Mas, bisa menjadi begitu kuat melebihi kekuatan asli nya, jika Ia berusaha melindungi sesuatu, atau saat orang yang Ia sayangi tersakiti. Begitu lah saat saku ingin melindungi Rubby." Ucap Diana yang kembali duduk dan lemah.


"Kak, makasih." Ucap Rubby.


"Jadi bagaimana Mas? kapan Orang tua Rubby datang?" Tanya diana pada edra.


"Dari kampung Rubby kemari itu jauh, kasiham jika Dodi yang menjemputnya harus bolak balik, jadi besok siang mereka sampai kemari." Jawab Edra.


"Oke... Yaudah aku mau istirahat dulu. By bantu kakak ke kamar ya, mas kalau mau kekantor ya nggapapa berangkat aja."


"Oke, Aku kekantor bentar ya ada rapat dadakan soalnya. By, jaga Diana baik-baik." Pesan Edra seraya meninggalkan rumahnya.


Rubby menggandeng Diana masuk kekamar dan membaringkan nya di ranjang.


"By..."


"Iya Kak kenapa?"


"By ikhlas kan?"


"Insya allah ikhlas Kak, tinggal nunggu keputusan Bapak sama Ibu. "


"Baik lah, Kakak tenang jika seprti itu. Yaudah, kakak istirahat dulu ya By. Kamu juga istirahat, kakak tahu kamu lelah."


"Iya kak, By pamit kekamar ya, kalau ada apa-apa Kakak panggil aja."


"Iya."


Pov Rubby.


Aku kembali kekamar dan meninggalkan Kak dee sendirian.


Ku ambil Foto bang bagas dan ku peluk erat  didekapanku. Terasa belum ikhlas aku melupakan nya dan menikah dengan orang lain, apalagi orang itu belum ku kenal apalagi ku cintai.


"Bang, Abang jangan marah ya, By nikah sama Pak erdra demi kesehatan Kak diana bukan karna ingin melupakan abang. Maafin By ya Bang."


Tak terasa aku tertidur lelap dengan masih memeluk Foto itu dan memimpi kan Bang Bagas dalam tidurku.


Aku berdiri di danau tempat biasa Aku dan bang bagas bertemu saat masih pacaran dulu. Bang bagas duduk dipinggiran danau dan menatap indahnya hamparan air dengan bayangan matahari yang mulai tenggelam.


"Assalamualaikum Bang." sapaku.


"Waalaikum salam By." Jawab nya dengan mengarahkan pandangan nya padaku.

__ADS_1


Wajahnya begitu bersih tanpa noda sedikitpun, tak seperti terakhir kali kali bertemu saat wajahnya penuh luka dan darah.


"By, bagaimana kabarmu?"


"By sehat Bang, Abang bagaimana?"


"Seperti yang By lihat, Abang baik saja. By, sudah waktu nya untuk By melupakan Abang agar By bisa bahagia menjalani kehidupan By sendiri."


"Tapi Bang..."


"Abang tahu itu berat By, tapi By punya kehidupan By sendiri. Jangan buat  diri By terpenjara dalam kenangan bersama Abang By."


"By akan berusaha Bang, meskipun itu butuh waktu yang lama. By akan mencoba demi Abang."


"Iya By, By baik-baik ya jangan sedih lagi mikirin Abang, Abang baik aja kok."


Aku mengangguk dan tubuhnya perlahan memudar dari pandangan ku. 


Perlahan ku buka mata ku agar tak terjebak dalam dunia mimpi yang indah itu. Tak terasa air mata ku meengalir, ku rasakan hati ku begitu pedih dan jantung ku terasa sakit.


" Astaghfirullah. Udah mau malem, lama banget tidurnya." Gumam ku.


Ku seka air mata yang mengalir itu dan ku ambil air wudhu. Segera ku gelar sajaddah ku dan shalat dengan mendo'akan Bang bagas di dalam nya.


Setelah shalat, kembali ku datangi Kak diana kekamarnya untuk memberi nya obat.


" Assalamualaikum Kak."


"He'eh Kak, By siapkan dulu ya obatnya."


"Iya By, Kakak mandi dulu ya sebentar."


"Iya Kak..."


Tak lama kemudian, Kak diana keluar dari kamar mandi dengan rambut dililitkan ke handuknya. Perlahan Ia buka handuk tersebut dan terlihat beberapa helai rambutnya mulai rontok.


"By..."


"Iya kak, kenapa?"


Ku hampiri Ia dan Ia pun memperlihatkan isi dalam handuknya.


"Bentar lagi saya botak By, ini efek dari kemo ya?"


"Iya kak, memang efek kemo seperti itu dikarenakan pengaruh obat yang kuat." Jawabku.


"By, kalau sehari begini sebulan aja udah bisa botak By."


"Sabar ya Kak, nanti kita cari rambut palsu. By yang pilihkan." Bujuk ku.


"Iya deh, mau gimana lagi. Sedih pun percuma, Kakak hanya harus menerima takdir sekarang."

__ADS_1


"Yaudah Kakak minum obat nya sekarang." Aku memberikan beberapa butir obat padanya dan membantu nya minum.


"By kenapa?"


"Kenapa gimana kak?"


"By abis nangis ?"


"Hah... Anu tadi ketiduran terus mimpiin Abang, eeh bangun nya kok nangis."


"Almarhum calon suami mu?"


"Iya Kak, tapi yaudah ngga usah dibahas. Cuma mimpi kok."


"Baiklah, makasih lagi ya By... Eh iya, Kak punya sesuatu buat kamu."


"Apa Kak?" Tanya ku.


Kak diana membuka laci lemarinya dan mengambil sebuah kalung berlian yang begitu indah.


"Ini kado pernikahan dari Kakak buat kamu, terima ya."


"Tapi ini kan mahal sekali Kak, By ngga pantes nerima nya. Lagian By juga uda punya kalung."


"By, tak perduli seberapa mahal ini. Yang Kakak ingin sekarang adalah kamu memakainya dan kalung itu yang kamu pakai, bukan nya tak cantik. Tapi itu justru akan membuat kamu terjebak dalam kenangan itu selamanya."


"By belum siap melepasnya Kak."


"Lepaskan saat kamu siap. dan kalung yang Kakak beri ini, kamu bawa dan simpan. Pakai suatu saat kamu inginkan."


"Iya Kak, By pamit dulu."


Segera aku keluar dari kamarnya dan kembali ke kamarku. Ku ambi Gawai ku dan mengecek isi nya.


"Hah... Bapak nelpon, ada apa ya?" 


Segera ku pencet nomornya dan ku telpon kembali.


"Hallo, assalamualaikum Pak."


"Waalaikum salam By. Apa-apaan ini By?"


"Pak, Maaf By tidak bisa menjelaskannya ditelepon."


"Lalu, haruskah Bapak ikut dengan orang-orang ini?"


"Iya Pak, maaf sudah buat bapak bingung. Tapi By mohon untuk kali ini, Bapak turuti By ya Pak."


"Baik lah... Kalau begitu, besok pagi Bapak dan Ibu beserta Bang Halim. Akan kesana."


"Iya pak, terimakasih."

__ADS_1


Aku menutup telepon ku, dan tak sabar menanti hari esok saat Bapak, Ibu dan Bang Halim datang, untuk menikahkan ku.


__ADS_2