MADU PILIHAN ISTRIKU (RUBBY)

MADU PILIHAN ISTRIKU (RUBBY)
Membuka luka lama


__ADS_3

"Kak... Kakak kenapa harus seperti ini?" ujar Rubby, yang langsung menghampiri Diana, dan mengangkatnya kembali berdiri.


"By... Ma'af, harus melihat harga diri saya jatuh seperti ini," jawab Diana, dengan menyeka air matanya.


"Siapa dia, Dee?" tanya Pak hadi, yang  menatap Rubby.


"Dia... Istri Mas edra, Rubby."


"Dan pada akhirnya kamu di madu juga oleh nya. Siapa yang memintanya? Mama nya?"


"Dee, yang minta mereka menikah. Meskipun Mama dengan tegas menolaknya." jawab diana.


"Bagus... Selangkah kamu sudah melewati wanita itu. Saya mau istirahat, kalian pulang saja."


"Pak... Bagaimana dengan urusan kita?" teriak Dee lagi.


"Aku sudah tak mau berurusan dengan nya Dee... Aku sudah bahagia dan tenang disini, meskipun bersama mereka." ujar Pak hadi, lalu pergi meninggalkan Diana dan Rubby yang diam termenung disana.


"Dia... Siapa Kak?"


"Mantan supir Papa, sekaligus asisten pribadinya." jawab diana.


Pov Rubby.


Aku terbelalak mendengar perkata'an Kak Dee saat itu. Kenapa dia sampai mau menjenguk nya di Rumah Sakit jiwa, bahkan memohon, bersimpuh hingga menangis. Apa yang Ia rahasiakan sebenarnya.


"Dia pura-pura gila ya, Kak? By tahu, kelihatan dari sorot matanya." ucapku.


"Mungkin iya, By... Kakak juga bingung, kenapa Dia sampai seperti ini."


"Aaaahh... Ssst, keram..." lirihku, dengan memegangi perut.


"By kcape'an lagi... Ayo pulang aja, Kakak juga pusing." ajak Kak dee, dengan merangkul ku hingga keluar Rumah Sakit.


"Mas Bima... Kita pulang ya," pinta Kak dee.


Mas Bima lalu membukakan pintu, dan mulai menyetir mengantar kami pulang.


"Minum dulu By... Maaf, Kakak udah ngajak mampir. Padahal harusnya By istirahat dirumah."


"Ngga papa... Nanti By bisa tidur puas-puas dirumah."

__ADS_1


"He'emh... Yaudah, abisin minumnya. Kata dokter kan, kamu harus banyak minum."


Kelang Setengah jam, kami pun sampai dirumah. Aku masuk ke kamarku, dan Kak dee masuk ke kamarnya.


"By... Jangan bilang Mas, kita tadi kemana."


"Kenapa?"


"Pokoknya jangan, kalau kamu sayang sama Kakak."


"Iya, Iya... Kok ngancem sih, serem tau..."


Aku lantas merebahkan diri kekamarku, berusaha memejamkan mata namun tak bisa. Terlalu banyak yang ku fikirkan, meski itu sebenarnya bukan ranah ku untuk ikut memikirkan nya.


"Kenapa, Bapak tadi pura-pura gila dan bertahan diRumah Sakit Jiwa, dalam waktu yang lama, padahal dia waras. Kenapa juga Kak dee....."


Aku memutus gumaman ku. "Arrrrgh... By, sadar diri, kamu itu orang baru. Tugas my disini hanya ikut melayani suami, membahagiakan Kak dee dan dirimu sendiri. Jangan sampai terseret kedalam permasalahan lawas mereka."


Hp ku berbunyi, sa'at aku mulai memejam kan mata. Ku lihat dari layar, Mas edra memanggil.


"Hallo Mas..."


"Hallo By... Lagi apa? Udah periksanya?"


"Kok... Jam segini baru pulang? Mampir kemana?"


'Aduh... Keceplosan aku'


"Engga Mas... Ngga mampir-mampir, cuma tadi, antrianya panjang. Berangkat kesiangan, jadi paling belakang. Ma'af ya, ngga bisa antar bekal. Udah makan siang 'kan?"


"Udah By... Gimana Baby nya, sehat?"


"Aslhamdulillah sehat. Cuma suruh sering banyak istirahat aja. Mas udah telpon Kakak belum?"


"Mas udah coba telpon, tapi ngga diangkat. Mungkin lagi tidur juga. Udah ya By... Mas lanjut kerja, selamat istirahat sayang."


"Iya, Mas... Selamat kerja," balasku padanya.


Aku meletakan Hp ku dimeja, lalu kembali tidur dengan nyenyak.


Pov Diana.

__ADS_1


Aku duduk termenung sendiri disini, diteras belakang, bersama semua tanaman kesayangan ku yang hidup dengan sempurna.


Aku kadang merasa, hidup mereka lebih sempurna dari hidupku. Yang bahkan, tak tahu bagaimana kondisi tubuhku sendiri.


"Kamu cantik... Aku akan merawatmu dengan baik. Hingga masanya daun mu akan gugur perlahan dengan sendirinya. Dan tubuhmu lelah, hingga kamu ingin tertidur dan istirahat selamanya. Aku baik kan? Aku bisa merawatmu hingga seindah ini. Tapi aku tak bisa merawat tubuhku sendiri sekarang. Aku selalu merepotkan orang lain, terutama Madu dan suamiku. Tapi, aku tak boleh menyerah sekarang. Masih banyak tugas yang harus ku kerjakan. Salah satunya merawatnya, hingga kita akan lelah dan tidur bersama, " ujar Diana, dengan memandangi bonsay kesayangan yang diberikan Rubby padanya.


Tap... Tap... Tap...


Suara langkah kaki menghampiri Diana.


" Thom... Kamu sudah datang?"


"Dee... Kenapa tiba-tiba memanggilku, dan meminta berkas Lima tahun yang lalu?"


"Mau ku naik kan... Bantu aku ya Thom,"


"Dee... Kamu serius, itu kasus sudah lama. Bukanya akan membuka luka mu yang sudah lama kamu tutup rapat-rapat.?"


"Biarkan luka ku kembali menganga, asal tak menimbulkan luka baru pada orang lain nantinya Thom,"


"Dee... Fokus saja pada kesehatan mu."


"Thom... Aku sehat sekarang, benar-benar sehat. Lagian ada kamu, rara, dan yang lain. Kalian bantu aku, ya. Pak Rahadi sudah ditemukan,"


"Hah... Dimana dia? Dia saksi kunci kita. Dan satu lagi, Bik Inah... Apa, dia mau bicara?"


"Akan ku bujuk Bi Inah melalui Rubby... Toh, mereka dekat. Usia anak Bi inah, sama dengan Rubby. Jadi bisa lebih mudah membujuknya, Thom."


"Dee..."


"Tolong aku... Kali ini saja, waktu ku tak banyak lagi. Aku hanya ingin semua nya beres. Aku tak bisa membiarkan Mama mirna terus seperti ini. Setidaknya dia akan diam selamanya,"


"Baik lah Dee... Aku akan berusaha, mengumpulkan semua sisa bukti yang ada. Karna biar bagaimana pun, kasus ini sudah Lima tahun yang lalu. Jasad Papa Edra pun tak akan bisa di visum lagi 'kan, bagaimana semua bukti itu?"


"Aku mengerti... Aku paham. Maka dari itu, aku minta tolong padamu. Aku lelah terus diam dan mengalah dalam semua tekanan ini, yang membuat ku semakin sakit. Aku ingin melepaskan semua beban itu. Masalah bukti... Aku mempunyai sesuatu, yang sudah ku simpan sejak lama. Aku menemukan itu ketika aku akan pergi dari rumah itu."


"Baik lah Dee... Aku langsung permisi dulu. Setelah ini, kita hanya bisa bicara lewat telepon saja."


"Iya... Terimakasih," jawabku padanya, dan setelah itu, Thomas pergi lagi untuk memenuhi perintahku.


Dan lagi... Aku harus merepotkan orang lain karna masalah ini. Hanya karna ambisi satu orang, semua memiliki trauma nya sendiri. Dan harus aku buka kembali. Bukan hanya untuk melindungi Rubby, tapi juga untuk keadilan. Papa, Ayah, Bunda, bahkan anal Bi inah yang sudah menjadi korban nya.

__ADS_1


"Aku yang masih hidup pun belum bisa tenang, ketika ku tahu akan pergi, tapi masih begitu banyak masalah disini. Apalagi mereka, yang pergi dengan begitu banyak tanda tanya." gumamku, kembali menatap tanaman hijauku.


__ADS_2