
Nana telah kembali ceria sekarang, meskipun masih sering merindukan Maliq secara tiba-tiba, tapi Bram, Bayu dan Adi bekerja sama meredam rindu itu dengan selalu menghibur Lara.
Bayu yang merasa bersalah dengan Maliq pun kini bertekad menjadi ganti maliq untuk Nana. Ia terus menjadi pengawas Nana, pemerhati Nana, dan selalu mengontrolnya. Seperti yang sering Maliq lakan ketika itu. Hingga Nana merasa tak terlalu kehilangan lagi.
Hari itu Edra kembali kerumah Orang tua murid itu dengan pengacaranya. Dengan berbekal semua bukti yang ada. Karena waktu itu, Pak bima diam-diam merekam pemicara'an mereka di Handphonenya.
"Jadi bagaimana, Pak?" tanya Edra.
"Kalian orang kaya memang selalu merendahkan orang miskin. Selalu bisa menjebak, padahal anak kami korban disini."
"Tidak... Anak anda bukan korban. Anak-anak saya lah korbanya. Gigi anak bapak yang lepas, bukan gata-gara Maliq, tapi karena perbuatan kalian sendiri bukan? Itu kalian pergunakan untuk memeras kami." ujar Edra.
"Ka... Kalian kenapa bicara sepertu itu, kalian mau bilang saya yang nonjok anak saya sendiri?"
"Kenyata'anya? Ketika saya mendengat berita itu, saya langsung pulang kerumah dan melihat kondisi tangan anak saya. Hanya memar, dan tak sampai berdarah. Itu tandanya, pukulan yang diberikan tak terlalu kuat. Maka dari itu, tak mungkin jika gigi sampai patah, bukan? " ucap Edra, dengan begitu percaya diri.
"Apa mau kalian dari saya? Apakah mau memenjarakan saya? Saya ini orang miskin, tak punya apa-apa kenapa menindas saya seperti ini?"
"Bapak bukan orang miskin, tapi mental Bapak yang miskin. Saya akan jemput anak saya, dan kalian harus minta ma'af padanya."
"Kenapa saya harus minta ma'af pada anak kecil, anda tidak mengajari anak anda untuk menghormati orang yang sudah tua?"
"Saya mengajari anak saya, untuk hormat dengan yang patut dihormati. Jika anda ingin dihargai dan dihormati oleh orang lain, maka bersikaplah pantas sebagai orang yang bisa dihormati. Untung saja, saya tak memiliki keinginan untuk menuntut kepengadilan, karena saya masih memikirkan anda dan kuluarga." ucap edra, lalu pamit pergu dari rumah itu. Meninggalkan mereka yang hanya duduk dengan diamnya.
"Bagaimana, Pak?" tanya Bima, dikursi setirnya.
"Sudah Tiga bulan kan? Sudah bisa dijenguk. Dan bisa dibawa pulang." ujar edra, yang tanpa sadar menitikan air matanya.
"Lantas, kenapa Bapak memasukan kesana." tanya Bima.
__ADS_1
"Agar Ia tahu, beratnya kehilangan, dan beratnya jauh dengan yang lain. Sama dengan yang lain. Agar semua tahu, jika tidak semuanya bisa dipegang Maliq, dan tak akan bisa selalu menggantungkan harapan pada Kakak tertuanya. Sudah ada perubahan bukan, terlebih pada diri Bayu, Adi, dan Bram?" tanya Edra.
"Iya, ada perubahan. Bram tak lagi sering menagis, justru sudah bisa melindungi Nana disekolah mereka. Dan Bayu, seolah ingin menggantikan Maliq untuk memperhatikan Nana, dan Adi, lebih mandiri sekarang."
"Iya... Ayolah, saya akan beri kejutan untuk mereka semua." ajak edra.
Pak bima lalu menyetir mobilnya untuk pulang. Karena hari ini tanggal merah, edra memiliki rencana untuk mengajak semuanya menemui Maliq dipesantren. Sekaligus menarik Maliq pulang.
Edra dan Ustadz mustafa adalah sahabat lama. Mereka sudah bekerjasama untuk semua ini. Hanya untuk melatih mental, itu saja.
Sesampainya dirumah, edra disambut anak-anak dengan bahagianya. Disusul Rubby dibelakang yang menyuapi Nana.
"Mas, jadi hari ini?" tanya nya.
"Jadi dong... Anak-anak udah disiapin? Soalnya perjalanan lumayan jauh, Mba ratih juga ngga bisa ikut kan?"
"Siap... Bahkan By bawakan baju ganti untuk berjaga-jaga." jawab Rubby.
"Kemana, Yah? Nengok Mas?" tanya Adi dan Bram, sedang Bayu memggantikan Sang ibu untuk menyuapi Nana.
"Iya... Kita nengok Mas. Sana, siap-siap, rapi'in pakaianya." ujar Edra.
Sontak semua anak-anaknya kegirangan, hingga Bayu meneteskan airmatanya karena akhirnya bertemu Maliq.
Satu jam berselang, mereka sudah siap duduk rapi didalam mobil, lalu berangkat. Perjalanan Dua jam seolah tak terasa bagi mereka. Lelah pun tak nampak, hanya rona bahagia diwajah polos mereka masing-masing terutama Nana. Jika Ia biasanta tertidur dimobil selama perjalanan, kali ini matanya begitu terang benderang.
Tiba di pesantren, anak-anak turun, dan beteriak dengan kencang ketika melihat Maliq sedang membantu menyapu mushala didepan.
"Mas maliq.....!" teriak Nana dengan berlari menghampirinya
__ADS_1
Maliq langsung mengarahkan pandangan ke mereka, meletakan sapu, dan merentangkan tanganya untuk memeluk Nana.
Bruuugh! Nana mendekap maliq sekuat tenaganya. Maliq dengan penuh kasih sayang menciumi rambut Nana, lalu melambaikan tangan untuk meraih adiknya yang lain.
"Mas... Kangen." ujar Adi.
"Sama, kangen juga."
"Kita pulang, ya? Ayah katanya mau bawa Mas pulang." ajak Bram.
"Hah? Iya yah?" tanya Maliq, dengab melirih ayahnya.
"Iya... Jujur ayah menitipkan maliq sementara disini karena alasan tertentu. Maliq tidak marah kan?"
"Engga, sebenarnya Maliq udah terbiasa disini. Tapi Maliq harus jaga Nana kan? Maliq janji, nanti dirumah juga Maliq akan lebih rajin ngaji, sama belajar agama lebih giat lagi." ujar Maliq.
"Belajar bisa dimana saja, Maliq. Ustadz mendukung Maliq dimanapun berada." ucap Ustadz mustafa yang menghampiri mereka.
"Bang Mus... Terimakasih atas bimbinganya beberapa bulan ini." ujar Edra, dengan menyalami sahabatnya itu.
"Maliq sebenarnya anak yang baik, dan mandiri. Tapi, diusia sekarang ini Ia masih mencari jati dirinya. Sehingga, harus kita yang lebih baik mengontrolnya." ucap Ustadz mustafa.
Mereka berkumpul dan berbincang dengan ceria dan penuh tawa. Hingga akhirnya, Maliq diperintahkan membereskan lagi semua pakaian ya untuk kembali pulang kerumah mereka.
"Mas maliq pulaaaang.... Mas Maliq pulaaaang....." Sorak Bayu dengan begitu bahagianya, sedang yang lain mengikuti dengan berlarian dihadapan Ibu dan ayahnya.
Bram, Bayu dan Adi, membawakan tas Maliq kemobil mereka. Meskipun berat, namun mereka tetap berusaha kuat, sedangkan Maliq menggendong Nana yang masih saja menggelendot manja.
"Mas... Bayu janji, ngga akan cengeng lagi. Besok kalau dibully, Bayu akan tonjok sendiri. Jadi kalau dihukum, bayu aja yang dapet hukuman." ujar Bayu, menyesali kelemahanya.
__ADS_1
Maliq hanya tersenyum dan mengusap rambut Bayu dengan lembut. Setelah kejadian ini, Ia semakin merasa harus lebih menjaga adik-adiknya, karena merasa jauh dari mereka itu benar-benar sulit bagi Maliq. Hingga masing-masing dari mereka dewasa. Maliq akan tetap menjadi punggawa mereka.