
Pov Aledra.
Aku menggandeng tangan Dee yang sudah begitu kurus, tak seperti dulu saat kami baru menikah. Begitu segar, dan bercahaya. Tapi, itu sama sekali tak mengurangi rasa cinta Ku padanya meskipun ada Rubby diantara kami.
"By... Kakak pamit, ya. Kamu siapin aja barang-barang yang mau dibawa besok," ujar Diana.
"Besok mau kemana, Kak?" tanya Rubby dengan heran.
"Kamu 'kan mau honeymoon sama Mas Edra. Masa lupa?"
"Kenapa besok, Kak? Waktunya kan masih panjang kalau cuma buat honeymoon." sela Rubby.
"Waktu kamu panjang, waktu Kakak engga. Udah, jangan ngeyel. Tinggal berangkat juga," omel Dee pada Rubby.
Rubby terlihat kesal dan melangkah menjauh dari kami, sedang aku hanya diam menahan semua pembicaraan itu.
"Kamu kok keras gitu sama Rubby?" tanya Ku sambil menyetir.
"Dee kadang kesal sama Dia. Terlalu mikirin Dee, sampai dirinya sendiri ngga keurus. Itu harusnya tanggung jawab Mas,"
"Kok, Aku?"
"Dia itu istrimu, jagain, rawat. Mulai sekarang, uang bulanan kasih Dia aja. Aku udah mau istirahat aja dirumah, terima beres. Capek," omel Nya lagi.
Entah kenapa, akhir-akhir ini, Diana suka mengeluh lelah dan semua keinginan nya harus dipenuhi dalam sekejap. Aku heran, dan mau tak mau harus menurutinya sekarang. Demi menghindari Kemarahan nya.
" Tapi jangan terlalu keras gitu lah, kasihan. Dia itu begitu karna sayang sama Kamu Dee,"
"Udah ah... Capek, nanti kalau sampai dirumah sakit, bilang. Aku mau rebahan," jawab Nya.
Sampai dirumah sakit, Diana ku bangun kan dan ku gandeng untuk menemui dokter pribadinya.
"Selamat pagi, Dok." sapa Ku.
"Pagi, Pak Edra. Tumben Bapak yang nganter, Rubby mana?"
"Ngga papa, mupung saya lagi free," jawab Ku.
Aku membimbing Diana duduk dikursi sebelah ku, dan memulai pemeriksaan.
"Pak... Tolong ini, bawa ke laboratorium, ya. Tunggu aja hasilnya cepet keluar, Kok."
"Baik... Saya pergi dulu," ucap Ku, lalu meninggalkan ruangan itu.
Aku segera ke laboratorium, dan menyerahkan sample darah Diana, lalu menunggu nya sebentar.
Pov Diana.
"Bagaimana reaksi Kemo nya terhadap tubuh Mu, Dee?"
"Entah lah... Aku merasa tak ada pengaruhnya. Justru semakin hari menjadi semakin parah, dan Aku menjadi semakin lemah. Oh Iya, Bram. Akhir-akhir ini, Aku merasakan jantungku sering sakit? Dan nafasku pendek, kenapa itu?"
__ADS_1
"Itu salah satu komplikasi dari penyakit Mu, Dee. Kamu harus tetap. Jaga asupan makanan, emosi, dan fikiran Mu. Jangan terlalu banyak beban."
"Hhh... Semua keinginan ku, sudah mereka turuti. Tinggal satu lagi, dan itu yang membuat Ku kuat hingga sekarang," ucap Ku pelan.
"Dee... Jangan terlalu memaksakan kehendakmu pada mereka,"
"Bram... Setidaknya, jika nanti aku pergi, mereka sudsh bahagia dan tak terlalu menangisi Ku."
"Baiklah... Aku hanya bisa mendo'akan yang terbaik, dan berusaha memberi pegobatan maksimal, untuk Mu."
Dokter Bram segera beranjak dari kursinya, dan mempersiapkan semua obat-obatan yang diperlukan untuk kemo, dibantu beberapa assisten nya.
"Hanya dari kejauhan saja, bau nya sudah begitu menyengat, dan membuat ku pusing sampai mual. Bagaimana jika masuk kedalam tubuhku?" batin Ku.
Mas Edra masuk kembali, dan menyerah kan hasil Lab yang tadi. Dokter segera membacanya, dan menggelengkan kepala.
" Dee... "
" Iya, Dok? "
" Kamu kuat, untuk kemo hari ini? "
" Kenapa? "
" Kita EKG dulu, ya. Takutnya jantungmu seperinya melemah," ucap Dokter.
Aku mengangguk, dan berbaring ke brankar. Perawat perlahan membuka baju ku, dan mulai menempelkan semua alat EKG pada Ku.
" Dee... Jantung mu lemah, kamu masih mau kemo?"
" Lakukan saja, supaya besok saya sehat."
"Oke... Kamu harus kuat, ya. Muntah kan saja jika kamu mual,"
Proses kemoterapi mulai dilaksanakan. Jarum infus mulai tertancap kembali di tangan ku. Aku mulai merasakan obat itu mengalir disekujur tubuhku dengan perlahan.
Rasa mual menghampiri, sesak nafasku pun datang. Semua bersamaan, hingga aku merasa tak karuan disekujur tubuh ku.
Mas Edra menggenggam tangan ku erat, dan sesekali membersihkan kotoran dibibirku. Berulang kali Ia memberiku semangat, meskipun bulir-bulir air matanya mulai jatuh dipipi. Aku tahu, Ia pun merasakan sakit yang kurasakan. Meskipun tak separah ini.
Aku mulai meringkuk menahan sakit dari semua efek pengobatan ini. Tak kuat rasanya.
"Hueeeek, Huuueeeeek!" Aku terus merasakan mual yang hebat.
Setelah semua selesai. Perawat mulai melepas semua selangnya dari tubuhku.
Tubuh ku lemah, bahkan tak mampu merubah posisi untuk telentang, hingga Mas Edra, yang membimbingku.
"Sakit?" tanya Mas Edra.
Aku hanya mengangguk lemah, dan tak menjawab apapun.
__ADS_1
"Sebentar lagi kita pulang, ya." bujuk Nya. Seraya mengusap rambut Ku, dan mengelap keringat yang bercucuran di wajahku.
Setelah berpamitan, dan menebus resep obat, Mas Edra menggendongku kemobil, dan kami segera pulang.
"Dee... Kenapa ngga bilang, kalau jantung Mu sering sakit?" tanya Mas Edra, dalam perjalanan.
"Mas... Ini efek Kemo, kadang jantung, kadang nafas. Begantian aja."
"Tapi, kalau kamu bilang 'kan bisa kita obatin lebih cepat."
"Udah lah, Mas. Dee capek, pengen istirahat. Jangan bilang sama Rubby tentang ini. Nanti Dia stres," ucap Ku, lalu memejam kan Mata.
Pov Rubby.
"Kenapa mereka ngga ada kabar? Biasanya jam segini udah pulang? Ada apa disana?" gumam Ku, dengan terus melirik hp.
Aku terus berguling diatas ranjangku, menanti kepulangan mereka, dan menunggu kabar tentang kesehatan Kak Dee. Hingga, tiba-tiba suara mobil Mas Edra terdengar memasuki halaman rumah.
Aku bergegas bangun, dan menghampiri mereka.
"Mas... Udah selesai?" tanya Ku.
"Udah..." jawab Nya singkat.
Aku segera memapah Kak Dee, dan membawanya masuk kerumah.
"Kakak, ngga papa?"
"Seperti biasa, pusing sama mualnya."
"By ambilin minum, ya,"
"He'emh...."
Aku segera mengambilkan nya minuman, dan memberikan pada Nya.
"Sudah beberes, By?"
"Belum, Kak."
"Daritadi ngapain aja dirumah? Kamu tahu kan, mau bepergian itu bawaanya banyak. Belum lagi, kamu sama Suami sekarang." omel Nya, dengan nada keras.
Aku menunduk kan kepala, dan merenungi kata-katanya. Tak sedikitpun terucap dari bibirku saat itu.
"By... Kenapa By sekarang ngga nurut sama Kakak? By ngga sayang lagi sama Kakak?"
Aku masih terdiam menahan tangis ku.
"Kakak itu, cuma pengen By bahagia bersama Mas Edra, salah? Kakak ngga pengen, By stres dan capek cuma karna ngurusin Kakak. By juga butuh bahagia,"
Aku semakin terisak mendengar perkataan nya. Aku membalik badan, berdiri dan langsung meninggalkan nya kekamar Ku.
__ADS_1
" Kakak, kenapa Marah-marah? Padahal By disini khawatir. Kenapa Kakak seperti ini sekarang? " tangis Ku.