MADU PILIHAN ISTRIKU (RUBBY)

MADU PILIHAN ISTRIKU (RUBBY)
Mas edra cemburu


__ADS_3

Pov Rubby.


Aku mengajak mereka masuk kedalam rumah, dan menjelaskan tentang rumah itu pada Bu rina.


"Bu... Ini rumah mertua By, tapi beliau  sudah meninggal. Kalian boleh menempati rumah ini, tapi ngga boleh macem-macem. Kamar kalian yang dibawah ini, jangan kelayapan sampai keatas, apalagi mainan barang yanh ada disini." ucapku dengan tegas.


"Ah... Pelit banget By, lagian rumahnya kosong. Itu barang-barangnya kasih aja ke kita, daripada mubazir ngga kepake." celetuk salah seorang dari mereka.


"Astaghfirullah, harus jawab apa aku pada mereka. Tadi menghina, sekarang malah mintain barang gratisan," batinku.


"Iya, By... Lagian, rumah segede gini ngga ada penghuninya. Apa ngga serem?" balas bude Tutik.


"Nah... Itu lah bude, makanya By ngelarang kalian ngasal disini. Jangan kan sama orang asing, sama By dan Kak Dee, yang menantunya aja, dimarahin kalau pegang-pegang barang ini semua. Jadi, ya, kalian harus jaga diri saja ya. Jangan sampai ada apa-apa, Bu rina tahu kan?" lirik ku padanya, dengan senyum misterius.


"I.... Iya, By. Pokoknya, kalian jangan macam-macam." balas Bu rina, gugup.


"Nyonya... Udah lama sampai? Ma'af, saya dikamar mandi tadi."


"Udah, Bik. Oh iya, saya titip mereka, biarin aja deh mau ngapain disini terserah. Tapi tolong, awasin barang-barang Mama ya. Kamu hafal semuanya, jadi ngga akan mungkin ada yang tececer. Saya pulang dulu," pamitku.


"Iya Nyonya..."


Aku menggandeng Bu rina dengan ramah, meski Ia agak segan padaku.


"By..."


"Iya, Bu?"


"Keluarga suamimu... Memang sekaya itu?"


"Iya... Itu harta keluarga mereka. By cuma numpang kok, bersyukur aja, karna Kakak yang buat By masuk kesini." jawabku.


"Itu rejeki, By. Hmmm, Ibu minta ma'af dengan semua kejadian lalu. Andaikan ibu tidak sekeras itu pada Ramlan, mungkin semua ini ngga akan terjadi. Ibu malu, jujur."


"Yang lalu yaudah, biarin berlalu. Justru karna itu 'kan, Abang kenal sama Mas, dan Kakak. Terus punya kemampuan, disuruh megang proyek, eh dijodohin sama Maya, jadi deh... Itu takdir namanya,"


"Iya... Tapi perlakuan Ibu ke kamu, By."


"Udah... Ngga papa, lewatin aja. By jadi kagen mantan Bu lurah yang cerewet." godaku.


Bu rina hanya diam, dan menatapku dengan senyum yang sudah begitu lama tak kulihat dari nya. Biasanya, hanya mata tajam, dan penuh kekesalan yang Ia berikan padaku.


Malam hari tiba, kami makan malam bersama. Menjalin keakraban bersama keluarga yang sudah sekian lama tak bertegur sapa dengan ramah.

__ADS_1


"Pak Fauzi, ayo makan yang banyak." ujar Mas edra.


Pak fauzi hanya bisa mengangguk, karna beliau terkena stroke, yang menyebabkan beberapa syarafnya mati.


Bu rina dengan sigap dan telaten menyuapi suaminya itu, dan Bnag ramlan, mulai membuka percakapan pada kami.


"Hmm, Pak..."


"Iya, Lan, ada apa?" tanya Mas edra.


"Besok, mau minta tolong jadi wakil Bapak saya, bisa?" pinta Bang ramlan dengan ragu.


Mas edra langsung tersedak, karna terkejut dengan perminta'an tiba-tiba itu.


"Ngawur kamu, Lan. Mana bisa saya melamarkan Maya buat kamu, bukanya Pakde kamu ada?"


"Pakde itu, susah mau bicara didepan orang banyak. Dan ma'af, keluarga Maya, bukanya orang besar semua? Katanya, beliau ngga PD. Biasanya Bapak jadi pengantar, giliran anaknya, malah Bapak sakit." jawab Bang ramlan.


Mas edra mulai berfikir, dengan memainkan kedua tanganya diatas meja.


"Iya... Memang benar, karna ayahnya adalah adik Mama mirna, yang menjabat sebagai komisaris diperusaha'an Mas. Saya fikirkan lagi, ya. Kamu minta nya mendadak, jadi saya ngga ada persiapan." omelnya.


Setelah selesai makan malam, kami bermain sebentar bersama Maliq diruang keluarga, begitu juga Bang ramlan, yang berusaha mengakrabkan diri pada keponakanya tersebut.


Puas bermain, aku membawa Maliq, dan menidurkanya dikamar, lalu Mas edra menghampiri.


"Iya, Mas, kenapa?"


"By sama ramlan berteman baik sekali?"


"Iya, dari masih kecil, sekolah sama-sama, mandi dan makan sama-sama." jawabku.


"Hah? Mandi sama-sama?"


"Eish... Itu jaman kecil, mandi disungai."


"Oh.... Syukurlah."


"Mas.... Kenapa sih?" heranku.


"Engga... Nggapapa, kok. By jangan terlalu akrab gitulah, ngga enak dilihat Bibik,"


"Bibik, apa Mas?"

__ADS_1


"Bibik... By tahu sendiri Bibik gimana? Ntar diomelin lagi."


"Bibik apa, Mas, hayoooo. Mas cemburu, ya?" godaku.


"Engga... Mas ngga cemburu," ucapnya, dengan senyum terpaksa.


"Iyaaaa, cemburu kan? Ya Allah... Alhamdulillah, akhirnya suami ku cemburu juga padaku?" ucapku dengan mengadahkan kedua tangan.


"Kok seneng?"


"Senenglah, akhirnya... By ngerasain dicemburuin sama suami,"


"Ah... Udah, ayo tidur. Besok mau lamaran, kesiangan lagi."


"Yeee, yeeee.... Lamaranya siang,"


"Yaudah, sekarang tidur." ajaknya, pura-pura galak.


"Peluk..." manjaku.


Mas edra langsung memelukku erat, terasa hangat, dan begitu nyaman.


*


*


*


Paginya, setelah sarapan, aku dan Bu rina membereskan semua keperluan untuk lamaran Bang ramlan. Membungkus semenarik mungkin, dan seindah mungkin, agar lebih berkesan ketika dibawa.


Aku terus mengawasi Maliq yang sedang bermain dengan Bang ramlan, sedang Mas edra, kekantor sebentar untuk menyelesaikan tugasnya.


Hampir selesai acara bungkus membungkus, sedikit lega, dan aku bisa beristirahat sebentar menikmati tehku. Tapi, tiba-tiba Nunik menelpon.


"Hallo, Nik?"


"Hallo Nyonya... Ini gimana ya bilangnya. Itu, saudara yang dari kampung, makin lama makin berantakan. Mereka ramau-ramai mandi dikolam renang, macam mandi dikali Nyah. Rumah berantakan, kamar acak-acakan. Dapur juga, mereka masak, dan makan terus, seisi kulkas habis. Padahal 'kan, itu persedia'an sebulan."


Aku yang terkejut, bingung, dan merasa gemas. Memikirkan harus menjawab apa, karna biar bagaimanapun, mereka adalah keluarga sekampungku.


"Nik... Biarkan saja, asal mereka tak menyentuh barang Mama. Biarkan mereka puas disana, harap maklum saja, ya. Masalah isi kulkas, nanti belaja lagi, saya kirim uangnya. Dan mengenai berantakan, saya akan cari orang bantu kamu beres-beres, dan setelah itu, kamu boleh liburan. " jawabku padanya.


"Iya, Nyah? Baiklah, saya akan mengawasi mereka saja kalau begitu. Saya permisi,"

__ADS_1


"Iya..." balasku, langsung menutup telepon.


"Hhhh... Untung keluarga,"


__ADS_2