MADU PILIHAN ISTRIKU (RUBBY)

MADU PILIHAN ISTRIKU (RUBBY)
Tidur terpisah


__ADS_3

Hari yang dinantikan tiba. Yaitu hari pernikahan ku dengan Mas Aledra. Hari ini, tepatnya pukul 09.00Wib Mas Edra akan mengucapkan ijab qabulnya padaku dihadapan Bapak dan Pak penhulu, disasksikan beberapa tamu undangan lain nya.


"By, kamu pakai kebaya ini ya," ujar Kak De, dengan memberikan sebuah kebaya cantik.


"Cantik sekali Kak," jawabku dan menrimanya.


"Iya, ini kebaya Kakak dulu cuma dipakai sekali kok."


"Maaf Mba, lebih baik jangan. By pakai kebaya nya sendiri saja," ucap Bu lastri dengan memberi kan sebuah kebaya.


"Tapi Bu,"


"Ini kebaya Rubby sendiri, yang gagal dipakai nya menikah dulu. By masih mau pakai kan Nak?"


Aku bingung memilih untuk memakai kebaya yang mana, aku menghormati keinginan Kak Dee, namun aku pun begitu menginginkan memakai kebaya ku sendiri.


"Kak, Maaf," ucap ku dengan mengembalikan kebaya Kak Dee.


"Iya ngga papa, ini pernikahan mu. Kamu yang berhak menentu kan. Kakak kembali ke Mas Edra ya," ucap nya lagi dengan meninggalkan ku dikamar.


Pov Diana.


Aku kembali mrnemui suamiku dikamar. Entah apa yang aku rasakan kini, tapi yang sebenarnya aku bahagia karna semua keinginan ku dituruti Mas Edra, bahkan untuk menikah lagi.


" Aduh, gantengnya suami ku ini," ucapku dengan menghampiri nya yang sedang memasang Jas.


"Dee, kamu baik-baik saja?" tanya Mas edra dengan memegangi pundak ku.


"Aku bahkan lebih baik dari biasanya Mas, Aku begitu bahagia sekarang," ucapku dengan merapikan Jas nya, lalu memeluk nya erat.


"Kamu ikhlas kan?"


"Aku benar-benar ikhlas, bukan kah aku yang mrminta kalian menikah?"


Mas Edra tak berkata apa-apa lagi, hanya mengusap rambut, dan mencium keningku dengan lembut.


"Ayo, Mas aku anter ke depan. Pak penghulu sudah menunggu," ucapku lagi dengan menggandeng tangan nya keluar.


Semua orang menatap kami. Ada yang menatap haru padaku, ada juga yang menatap dengan sinis, entah apa yang mereka fikirkan saat itu.

__ADS_1


"Mas, duduk disini ya, Dee dibelakang." Aku meninggalkan nya di dhadapan penghulu dan Pak Anton, Bapaknya Rubby.


meskipun ini yang kedua, tak ku pungkiri jika terlihat Wajahnya yag tegang saat itu.


Lima belas menit kemudian, Rubby datang dengan begitu anggun nya. Dengan balutan kebaya bernuansa Abu-abu, begitu selaras dengan dandanan nya yang dibuat natural. Ia keluar engan digandeng sang Ibu yang berpakaian dengan warna yang sama.


"Cantinya By," lirih Ku sembari menatapnya berjalan menuju Mas edra.


Mereka duduk berdampingan saat ini, dan waktu nya ijab qabul pun tiba. Pak Anton menjabat tangan Mas Edra dengan tajam dan fokus.


"Saudara Aledra Pratama. Aku nikahakan Kau dengan putri ku, Rubby Mawaranti, dengan maskawin seprangkat alat shalat dibayar TUNAI..."


"Sya terima nikahnya Rubby mawaranti dengan maskawin tersebut TUNAI," ucap Ma Edra dalam satu tarikan nafas.


"Bagaimana, saksi, SAH?" tanya Pak penghulu.


"SAH....."  Jawab mereka serentak.


Aku menarik nafas lega saat itu, begit bahagia nya aku saat keinginan terbesarku menjadi kenyataan. Meskipun aku harus berbagi suami dikemudian hari. Tapi setidaknya, Aku berbagi dengan Rubby. Ku lihat Rubby menangis, sepertinya Ia pun bahagia dengan pernikahan ini.


Aku menhampiri nya, dan mengucapkan selamat atas pernikahan mereka, begitu juga dengan Mas Edra yang lngsung memeluk ku dengan erat dihadapan Rubby.


"Mas, jangan gitu, ngga enak sama Rubby," ujarku dengan perlahan melepaskan pelukan nya.


Pov Rubby.


Hari berganti malam, Para tamu undangan satu persatu pulang. Aku dan MAs edra kembali kekamar kami masing-masing untuk mengganti pakaian kami.


"Mas, By ke kamar mandi dulu, ini pakaian ganti nya udah By siapin," ucapku dengan meletak kan pakaian diatas tempat tidur.


"Iya By, terimaksih." Balasnya.


Aku pun segera mandi untuk menyegar kan tubuhku, karna sebentar lagi adalah jadwal Kak Dee minum obat.


Setelah itu, Aku keluar dari kamar mandi hanya dengan menggunakan handuk yang terlilit ditubuh ku karna ku kira Mas edra sudah keluar kamar.


"Loh Mas belum keluar?" kagetku yang langsung menutupi tubuhku dengan handuk lain.


"Belum, ini baru mau ganti baju, kenapa By?" tanya nya cuek dengan membuka baju nya dan mengganti nya dengan yang sudah ku siapkan. Terlihat begitu sempurna tubuh Mas Edra saat itu dimata ku, dengan postur tubuh yang tegap, tinggi, dan perut yang berotot, sungguh mengganggu fokusku.

__ADS_1


"By, kenapa berdiri disitu, bukan nya mau ganti baju. Apa kamu masih risih saya disini?" tanya nya.


"Hah,,, engga Mas, ngga papa. AKu ganti dulu," ucapku gugup, lalu mengambil pakaian dari lemari.


"Ehhm... Mas, By pamit mau kasih obat Kak Dee dulu ya," pamitku padanya.


"Iya," balasnya singkat dengan menyulut rokoknya.


"Seumur-umur aku disini, baru tahu jika Mas edra merokok." Batinku.


Sesampai nya dikamar Kak Dee, aku segera meracik obat nya dan mempersiapkan minuman untuk nya.


"Loh, by, kenapa disini?" tanya Kak Dee, yang keluar dari kamar mandi.


"Iya Kak, kan jadwalnya minum obat."


"Oh iya, makasih ya, sudah inget jadwal Kakak," balasnya dengan duduk diranjang milik nya.


"Nih Kak, minum dulu. Setelah itu, kakak istirahat ya, By tahu Kakak capek seharian nyambut tamu."


"Iya By, padahal undangan sedikit, tapi kok masih ramai ya," ucapnya dengan perlahan meminum obat yang ku berikan.


"Yaudah By, balik kamar sana. Mas Edra udah nunggu. Ini kan malam pertama kalian," ujar Kak Dee yang langsung membuatku tersentak.


"Hah?"


"Iya kan, udah sana balik. Layani suami mu dengan baik." Bujuk nya padaku.


Aku menuruti permintaan nya dan kembali ke kamar menemui Mas edra.


"Mas," Sapa ku pada nya.


"By, Aku ingin bicara," ucapnya dengan mempersilah kan ku duduk.


"Kenapa?" Tanya ku.


"Seperti yang sudah kita bicarakan sebelumnya By. Kita menikah karna keingingan Diana, dan demi kesehatan psikis Diana, jadi...."


"Iya Mas, By mengerti. Biar nanti By tidur disofa saja, Mas tidur diranjang," balasku dengan mengambil selimut dan bantal.

__ADS_1


"Tidak By, biar aku saja yang disofa, kamu tidur saja dengan nyenyak disana. Besok pagi, kami mau mrngantar Bapak dan Ibu kan ke terminal," ujarnya dengan merebut bantal dan selimutku.


"Oh iya, mereka kan mau naik Bis saja katanya. Yasudah, By tidur duluan ya Mas. Mas juga tidur yang nyenyak." Pesan ku padanya dan langsung tidur.


__ADS_2