
Ustadz mustofa mengangguk. Ia setuju dengan semua perjanjian itu, lalu memanggil beberapa orang untuk membantu proses hukuman Maliq.
"Kita laksanakan dulu hukumanmu. Nanti, Ustadz sendiri yang akan mengantarmu kembali kerumah. Dan itupun hanya sebentar, Maliq dengar?"
"Iya, Maliq dengar, dan Maliq siap." ucap Maliq, yang sudah duduk dibangku kecil, dan siap dibotak.
Asisten Ustadz mustafa mulai melakukan tugasnya, gunting mulai memangkas rambut Maliq yang hitam dan tebal. Helai demi helai jatuh ketubuh Maliq, Ia pun menangis dengan begitu perih.
"Tahan tangismu, cuma kepala yang dibotakin ka, demi Nana. Kamu bahkan bisa memberi tinjumu pada orang lain demi adikmu." ucap Ustadz mustafa.
Maliq memgangguk, lalu mengusap air matanya. Ia mengucap istighfar untuk menenangkan hatinya, dan memgingat Nana dan Ibunya agar tak terlarut dalam kesedihan.
"Dikerok sekalian, biar bersih." perintah Ustadz mustafa kembaki pada Assitenya.
Kini rambut Maliq bersih dan plontos. Maliq tak menyukainya, bahkan tak ingin melihat dirinya sendiri sekarang. Ia pamit mandi dan membereskan kamarnya, karena sebentar lagi, Ustadz mutafa akan mengantarnya pulang.
"Mau kemana Liq?" tanya Tomi, teman sekamar Maliq.
"Pulang sebentar... Peara'anmu ngga enak, kayaknya Nana sakit." ucap Maliq.
"Bukanya ngga boleh, kamu bisa dihukum nanti."
"Bahkan aku sudah ambil hukuman itu diawal. Kamu ngga lihat, kepalaku plontos begini."
Tomi memandang dengan senyum geli, namun masih tetap tertahan agar tak menyakiti hati Maliq.
"Ketawa aja, ngga papa. Aku sadar ini aneh. Bahkan aku sendiri malas melihatnya." ucap Maliq, lalu memakai tas ranselnya dan pergi.
Ustadz mustafa sudah menunggunya dimobil pick up milik pesantren.
"Pakai mobil ini?" tanya Maliq.
"Iya, keberatan? Ustadz sekalian mau belanja keperluan pesantren. Mobilnya memang tak sebagus mobil orang tuamu. Tapi lumayan, daripada kamu harus naik angkot, yang bahkan kamu ngga tahu arahnya." ujar Ustadz muatsafa.
Mereka berjalan bertiga dengan Asisten Ustadz mustafa yang duduk di bak belakang mobil. Maliq hanya diam, tampak raut wajah cemas pada dirinya namun berusaha tetap tenang.
__ADS_1
Tiba dirumah, Maliq berlari mencari Nana dan yang lain. Namun keada'an rumah kosong.
"Nek! Nek inah dimana?" panggil Maliq.
Nek inah yang mendengar suara, lalu keluar dan menghampiri Maliq.
"Maliq kenapa pulang, Nak? Terus... Ya allah, Maliq kena hukum dibitakin? Maliq salah apa?" tanya Bik inah.
"Maliq memohon, minta pulang sebentar karena khawatir dengan adiknya. Dan sebagai hukumanya, Ia bersedia dibotak." jawab Ustadz Mustofa.
Bik Inah menatap Maliq yang menganggukan kepalanya.
"Dirumah kenapa sepi, Nek?" tanya Maliq.
"Adek Nana dirawat di Rumah Sakit. Demam tinggi, terus ngingau kangen Maliq. Yang lain sekolah seperti biasa, diantar Mba ratih sama Pak bima." jawab Nek inah.
"Pantas Maliq cemas, berarti memang Nana sakit. Di Rumah Sakit biasanya kah?" tanya Maliq.
"Iya... Maliq mau kesana, tapi Ayah juga disana. Tak apa kan?"
"Tak apa, yang penting bisa ketemu Nana." ujar Maliq, lalu meminta Ustadznya kembali mengantarnya.
"Assalamualaikum...." ucap Maliq memasuki ruangan itu.
"Wa'alaikum salam..." jawab edra, lalu menoleh kearah pintu. Ia terbelalak ketika melihat sosok Maliq disana.
"Maliq kenapa pulang? Tak bisakah Maliq tenang disana?" lirih Edra, ketika Maliq mendatanginya untuk mencium tanganya.
"Ayah... Tolong jangan marah, Maliq udah dihukum sebelum kesini, dan Ustadz mustafa sendiri yang ngantar Maliq." jawabnya.
"Maliq kenapa kemari?" tanya Rubby, dengan air mata menganak sungai, dan berkali-kali menciumi pipi Maliq.
"Nana sakit kan? Maliq tak tenang bebrapa hari ini. Makanya maliq minta pulang sebentar aja. Kalau Nana udah bangun dan ceria lagi, Maliq balik ke pesantren, dan akan betah disana." pinta Maliq.
"Baiklah, Mana ustadzmu?" tanya edra.
__ADS_1
"Pergi, mau belanja keperluan pesantren. Nanti beliau jemput lagi." jawab Maliq, dengan duduk disamping Nana lalu mengusapi rambutnya.
Nana tidur lelap, semalam hampir saja kejang. Untung mereka cepat menangani dan langsung membawanya ke Rumah Sakit, sehingga tak terjadi sesuatu yang buruk.
Edra duduk disofa tunggu sambil memainkan laptopnya. Meski Rubby menyuruhnya kekantor, tapi edra menolak. Ia ingin mengawasi Nana disana, dan kantor diserahkan pada Winda dan Gusti.
"Mas maliq pulang?" tanya Nana yang mulai membuka matanya.
"Nana bangun? Iya, Mas pulang sebentar." jawab Maliq.
"Mas kenapa botak? Jelek tau..." keluh Nana.
"Ini gara-gara Nana... Nana bikin Mas minta pulang dan harus dihukum. Nana besok-besok jangan sakit lagi biar Mas ngga cemas."
"Ma'af... Nana kangen soalnya. Nana janji, Nana kuat. Biar ngga sakit lagi, terus Mas betah disana. Mas jelek kalau botak." ejek Nana, yang mulai tersenyum manis.
Mereka bersenda gurau melepaskan rindu beberapa lama. Dan Rubby hanya menatap mereka dengan haru tanpa mampu melerai kebahagia'an mereka.
Maliq tak lupa menyuapi Nana makan siang hingga selesai.
" Abis ini, Mas pulang lagi ke pesantren. Nana udah janji ngga akan sakit lagi kan. Mas juga janji, kalau Mas ngga akan botak lagi. Kita sama-sama janji ya, tapi jangan bilang yang lain kalau Mas maliq botak. Bilang aja, Mas maliq jadi ganteng banget." bisik Maliq ketelinga Nana, yang sontak membuat Nana tertawa terbahak-bahak.
Satu jam kemudian, Maliq pamit lagi untuk pergi. Kali ini Nana melepasnya dengan senyum ceria, tak seperti beberapa waktu lalu ketika Ia menangis dengan kencang meninggalkan Maliq. Maliqpun terlihat lebih tenang, dan menggandeng Ayahnhnya keluar ruangan.
"Ma'afin maliq, Yah... Maliq melanggar perintah ayah lagi."
"Hmmm? Setidaknya Maliq bertanggung jawab atas keputusan Maliq, dan mau menerima hukuman yang seharusnya. Ayah bangga sama Maliq." ucap Edra, dengan menepuk bahu Maliq.
Maliq tersipu bahagia mendengarnya, dan semakin yakin akan kembali kepesantrenya.
Diluar, Ustadz mustafa sudah menunggu. Lalu maliq mencium tangan Ayahnya kembali, tapi kali ini dengan senyumnya yang mengembang.
"Titip anak saya, Ustadz. Terimakasih, karena sudah memberi pengertian pada Maliq."
"Iya, Pak... Itu sudah tugas kami. Sekarang. Kami pergi dulu. Assalamualaikum. " jawab Ustadz mustafa.
__ADS_1
Setelah kejadian itu, maliq berjanji pada dirinya sendiri, bahwa jika Ia sudah dewasa, Ia akan menjaga semua adik-adiknya dengan baik. Tak tak akan pernah abai, terutama Nana. Ia akan memberi perhatian khusus pada Bingsunya itu.
"Mas ngga akan ninggalin kalian lagi. Mas janji."