MADU PILIHAN ISTRIKU (RUBBY)

MADU PILIHAN ISTRIKU (RUBBY)
Merayu mu bangkit


__ADS_3

"Kakak nangis," tanya ku padanya, ketika memasuki mobil.


"He'emh... Kamu sendiri kan yang bilang, kalau memang pengen nangis, nangis aja, jangan ditahan." jawabnya.


Tapi, dibalik senyumnya, aku melihatnya menaham nyeri diperut.


"Kak... Kata dokter, lambung Kakak bermasalah, benar?"


"Ah dasar, tidak bisa menjaga rahasia dia," kesalnya.


"Kak... Itu bukan sesuatu yang harus dirahasiakan. Kita Endoskopi, ya? Mau kan?"


"Buat apa? Buat cari tambahan penyakit lagi? Engga, Kakak ngga mau." jawabnya.


"Kak... Kalau itu cepat diketahui penyebabnya, maka cepat pula pengobatanya. Gini aja, mupung By hamilnya masih segini, jadi By masih bisa nemenin Kakak. Kan Endoskopi ngga bahaya kayak Kemo, jadi By bisa nemenin. Kalau ditunda, nanti keburu hamilnya gede, terus ngga bisa ngurusin Kakak. Mau ya," bujuk ku, dengan mengedipkan mata.


Kak Dee menghela nafas, Ia menatapku dengan tatapan pasrah.


"Kapan rencananya?" tanya nya padaku.


"Jadi mau? Kalau mau, tinggal By hubungin aja dokternya. Dari dokter Pras, kita nanti dirujuk ke dokter yang menangani Emdoskopinya. Biar Dee yang atur semuanya," jawabku dengan antusias.


"Tapi.... Endoskopi 'kan?"


"Kak... By kan nemenin. Udah tenang aja," meskipun sebenarnya aku sendiri takut, dengan prosesnya.


Tak lama kemudian, kami sampai dirumah. Ku pinta Ia beristirahat, dan aku pun menuju kamarku, untuk menelpon Dokter Pras, dan membuat janji.


"Hallo, Dok. Kak Dee mau Endoskopi, kapan jadwalnya?"


"Hmmm, besok bisa. Puasa dulu dari. Rumah ya, dan pastikan, kondisinya benar-bemae fit besok. Keruangan saya dulu, setelah itu, saya rujuk ke bagian Endoskopi."


"Baik, Dok." jawabku, lalu menutup teleponya.


Aku mencoba menelpon Mas edra atas rencana ini, namun tak kunjung diangkat.


"Hmmm, mungkin lagi sibuk, nanti aja deh. Tapi... Ini jam makan siang, kekantor ah. Antar makanan," pikirku.


Aku segera kedapur, dan mempersiapkan semuanya.


"Dee... Kenapa?" tanya Bik inah.


"By mau anter makan siang kekantor, Mas 'Bik. Kak Dee lagi istirahat, jadi nanti tolong kasih tahu aja kalau Dia nyari'in ya,"


"Iya... Nanti Bibik kasih tahu," jawabnya.


Aku segera memanggil Mas Bima, dan memintanya mengantarku.


*


*


*

__ADS_1


"Eh... Ibu Rubby, mau nganter makanan ke Bapak?" tanya seorang Receptionist padaku.


"Iya... Bapak ada?"


"Bapak diruanganya, sedang ada tamu."


"Oke... Makasih ya," jawabku, dan kembali menyusuri setiap ruangan menuju Suamiku.


Tok... Tok... Tok! "Assalamualaikum, Mas,"


"Waalaikum salam, masuk." jawabnya dari dalam.


Aku membuka pintu, dan langsung masuk kedalam. Mas edra merentangkan tangan nya untuk memelukku, dan langsung mencium keningku.


"Katanya ngantar Kakak? Udah selesai?"


"Udah... Kakak diruamh langsung istirahat."


"Eheeeem," seseorang berdehem kencang menegur kami. "Sok mesra, ngga sadar, ada orang disini," ucapnya.


Aku menatap kearah suara itu, dan terkejut melihat sosok tersebut.


"Bang Ramlan? Kok kesini?" tanya ku dengan bahagia.


"Abang 'kan kerja sama Pak edra sekarang, makanya rajin kesini. Proyek udah mau dikerjain, jadi makin sering konsul agar sesuai dengan keinginan." jawabnya.


"Assalamualaikum," suara seorang wanita, menyusul masuk kedalam.


"Iya, By. Mba disini digandeng Mas edra buat jadi partnernya Ramlan." jawabnya.


Aku terbelalak, dan menatap Mas edra penuh tanya.


"Arsitek, pasanganya Design interior 'kan?" senyumnya.


"Yaudah... Kalian kalau mau berdua silahkan, Kami juga mau cari makan sianh dulu," ucap Bang Ramlan, lalu pergi bersama Maya.


"Mas... Mas ada niat lain buat mereka?" tanya ku.


"Ya... Ngga ada salahnya 'kan, mereka sama-sama jomblo. Sengaja, agar Ramlan tak memikirkan mu lagi. Dan juga... Mas lihat mereka cepat akrab," jawabnya, ssmbil menikmati makan siangnya.


"Mas... Kak Dee besok mau Endoskopi. Karna pencerna'anya bermasalah."


"Oke... Besok Mas libur buat nemenin Kakakmu, atau By mau ikut?"


"Iya... By janji mau nemenin Dia sampai ke dalem. Lagian, ngga papa kan, ngga seperti Kemo yang memiliki radiasi diobat racikanya.


"Oke... Kita sama-sama temani. Kakakmu memamg butuh dukungan penuh dari kita, terlebih lagi sejak kejadian Mama meninggal."


"Iya... Yaudah, By pamit ya. Cuma mau kasih tahu itu. Salamin lagi sama Bang Ramlan dan Maya, semoga ja mereka beneran jadi deh," do'aku.


"Oke sayang, hati-hati ya," jawabnya.


Diaepanjang jalan pulang, aku hanya diam dan menikmati perjalanan ku, seraya merasakan semua gerakan yang dibuat oleh janin didalam perutku ini. Ia tumbuh semakin besar dan semakin aktif, menambah bahagiaku dan harapan Kak Dee.

__ADS_1


*


*


*


Malam hari tiba, aku memberikan obat Kak Dee sesuai jadwal, dan memberinya makan malam, karna esok Ia harus berpuasa.


"Besok aja bangunin pas sahur," elaknya.


"Kak... Besok itu cuma puasa buat kebutuhan pemeriksa'an. Bukan mau puasa sunnah, lagian itu alatnya dimasukin lewag mulut, ngga bisa dibilang puasa." jelasku.


Ia akhirnya menurut, dan melahap semua makanan itu dari ku, lalu tidur nyenyak untuk malam ini.


Pov Diana.


Endoskopi? Apa itu?


Aku bertanya-tanya tentang ini seharian, bahkan semalaman. Aku browsing, dan menemukan jawabanya.


"Astaga... Jadi besok akan dimasukan alat ini, melalui mulutku, hingga ke lambungku." gumamku, seraya mematap semua gambar di internet.


Aku stres, dan panik sebelum berperang. Namun berusaha menenangkan diriku.


"Ayolah Dee, nanti Rubby tahu kecemasan mu, Dia bisa marah. Jarum suntik dan infus saja sudah berkali-kali menghujam kulit ditubuhmu. Dan ini, hanya sekali. Tenanglah," gerutuku dalam kamar sendirian.


*


*


*


Keesokan harinya.


"Ayo, Kak. Mas edra sudah menunggu," ajak By padaku.


"Ah... Iya, sebentar." ucapku, yang terus menjaga ketenangan, dan mengelola stres.


Aku mengikuti Rubby, dan masuk kedalam mobil. Sepanjang jalan hanya diam, menatap semua pemandangan.


"Kakak cemas?" tanya By.


"Dikit... Kakak ngga bisa bohong kan sama kamu?"


"Oke... Kelola stres ya, Bismillah. By nemenin sampai selesai." jawabnya.


Dirumah sakit, Aku dan By menunggu saja sa'at Mas edra mengambil surat rujukan dari Dokter Pras. Lalu, Ia membawaku keruang Endoskopi.


Pendaftaran selesai, By dan aku masuk keruang tindakan.


" Ya Allah... Alat-alatnya kenapa mengerikan begini? Sepanjang itukah alat yang akan aku telan nanti, aku telan sebentar, lalu ditariknya lagi. Astaghfirullah," gumam ku dalam hati.


Dokter menjelaskan semua prosedurnya pada kami. Tapi, hanya By yang mendengarkan dengan seksama. Sedangkan aku dan mataku, berkeliaran, menatap Sang perawat menyiapkan semua peralatan, yang membuat jantungku makin berdebar kencang.

__ADS_1


__ADS_2