MADU PILIHAN ISTRIKU (RUBBY)

MADU PILIHAN ISTRIKU (RUBBY)
Kehamilan kedua


__ADS_3

Sore nya kami semua pulang kerumah.


"By... Katanya mau masakin rendang,"


Celetuk Bude minah, yang kebetulan satu mobil bersama kami.


"Astaghfirullah...


Ya, Bude, nanti By ke supermarket beli dagingnya." jawabku.


"Lah ayok, kesupermarketnya, Bude ikut. Bude ngga pernah diajak kesana."


Aku memijat dahi ku, terasa keringat dingin mengujur deras ketika itu. Mas edra menggenggam tanganku, menganggukan kepalanya, dan memintaku menurutinya.


"Biarin lah, sekali-kali ngajak mereka."


"Mas... Masa mereka ikut semua, pasti rusuh, lihat aja rumah Mama."


"Ajak yang semobil dengan kita saja,"


"Mustahil, palingan nanti, ini pada teriak, ngajakin yang lain. Lihat tuh, yang dibelakang, udah pada kasih kabar." balasku.


"Kalian mau ke Mall?" tanya Mas edra.


"Mau....." jawab mereka serentak. Setidaknya, ada Sepuluh orang dalam mobil Alphard ku sekarang.


"Boleh, saya akan ajak kalian. Tapi, kalian aja, ngga boleh ngajak yang lain kasihan, rombongan belakang udah pada tua, nanti naik eskalator kejepit." ledek Mas edra.


Mereka semua bersorak bergembira, dan seolah tak sabar kami ajak kesana. Mereka adalah saudara Bu rina, yang kampung nya sedikit jauh dari kampungku. Beda dengan yang lain, yang tampilanya lebih borjuis, meski kantongnya tipis.


Kami berbelok, dan yang lain lurus. Entahlah, aku tak mau memikirkan, apa yang mereka keluhkan pada Mas Bima yang menyupir mobil itu.


Kami tiba disupermarket langgananku. Sebenarnya aku lebih suka kepasar, karna lebih segar dagingnya, tapi hari sudah sore, dan pasar sudah tutup.


Mas edra menggendong Maliq, dan menggandengku masuk, sementara mereka dibelakang. Aku membalik badan untuk melihat mereka yang hampir ketinggalan. Namun,"Astaghfirullah, Bude, ini kenapa sendalnya pada digembol gitu? Ngga perlu dilepas, pakai gih."


"Nanti kotor, lihat loh, lantainya licin banget."


"Meerka punya tukang pel lantai sendiri." balasku.


Akhirnya, mereka memakai sendalnya kembali, dan mengikuti ku dari belakang. Kami menuju tempat belanja keprluan sehari hari, dan mereka mengikuti gaya ku, mengambil troli didepan.


"Ini kenapa bawain troli semua?"


"Mau belaja, kayak By. Lihat, bagus-bagus 'kan barangnya?" tunjuk Mba lastri.


"Engga, Satu troli aja kalau mau. Ambil seperlunya,"


"Iya," jawab mereka kompak.


Aku berbelanja seperlunya, sesuai yang kami perlukan untuk memasak malam ini, dan setelah itu, aku segera mengajak mereka kakasir.

__ADS_1


"Ini belanja apa'an, banyak banget?" tanyaku.


"Ya... Ini pengenya kami, By. Lumayan kan, kamu yang bayarin. Jadi bisa biat oleh-oleh dikampung."


Aku menepuk jidat, menghela nafas panjang, "Astaghfirullah,"


Akhirnya belanja'an mereka ku jadikan Satu didalam troli, dan membayarnya.


"Semuanya Lima Juta Rupiah, Bu." ucap Mba kasir.


Ku keluarkan credit card ku, dan membayarnya. Langsung ku ajak mereka pulang, karna jujur, aku sudah lelah.


"By, ngga ngajak bermain?"


"Engga... Capek, kalian juga udah mainan dirumah yang itu 'kan? Berantakan rumah." jawabku.


Mereka hanya diam tersenyum, dengan beberapa orang membuka belanja'an.


"Wah.... Ini sekali belanja Lima Juta, By?"


"Iya... Belanja'an kalian itu."


Aku hanya bisa diam, ketika mereka memgobrak abrik belanja' an ku, dan mulai memakan semua isinya.


Malam ini, ku kumpulkan mereka dirumahku, dan makan bersama sekeluarga yang sangat besar itu. Ku panggil Bik nunik kerumah untuk membantu Bik Inah, beserta bantuan dari beberapa tenaga tambahan.


"Mas, katanya ngga suka keramaian. Tapi malah ngizinin mereka disini." tanya ku.


"By dimimpi'in Kakak aja bertanya-tanya dan takut, gimana kalau Mas, tiba-tiba dimimpi'in Mama mirna dengan wajah kesalnya. Gimana rasanya coba?"


Siang hari kemudian, mereka semua berkemas, membereskan barang-barang mereka untuk segera pulang kekampung.


Pengenya semalem lagi nginep. Tapi, kasihan ternak ngga ada yang kasih makan." ujar Bude tutik.


Rubby hanya tersenyum kecut, dan tak membalasnya.


"By... Ngga ada ngasih oleh-oleh buat kami?" tanya salah seorang dari mereka.


"Iya lho, By. Halim yang main kesini, pulang-pulang bawa mobil," sahut yang lain.


"Bang Halim itu, orang yang mau nemenin By, ketika lagi seneng, bahkan dalam keada'an terpuruk sekalipun. Sedangkan kalian apa? Lagi By sedih malah digosipin yang enga-engga. By udah nikah, dikatain pelakor. Masih ngarep, minta hadiah?" tanya Rubby.


Semuanya hanya terdiam, dan tak berani membantah, karna semua yang dibilang Rubby, adalah benar adanya.


Satu persatu dari mereka masuk kedalam mobil, dan Bu lurah paling terakhir dengan mendorong suaminya dikursi roda. Rubby dan edra berdiri didepan, melepas kepergian mereka. Sedang Maliq, sedang tidur dikamar atas bersama Bik inah.


"By... Pamit, ya. Terimakasih sudah mau direpotin," ujar Bu rina.


"Iya, Bu, sama-sama. Namanya juga saudara, jadi saling bantu." jawab Rubby.


"By... Harta suamimu kan banyak, dari perusaha'an yang dimana-mana, yayasan, rumah, mobil. Masa punya anak cuma satu. Nambah lah," ucap Bu lurah.

__ADS_1


Rubby hanya memandang tanpa ekspresi, "Ya... Mulai lagi ini Ibuk,"


"Terus, gimana?" tanya edra.


"Buat pewaris, yang banyak. Masa harta segitu banyak, Maliq sendiri. Buat masing-masing perusaha'an dipegang sama satu anak,"


"Bu... Mulai," tegurku.


Bu Rina hanya tersenyum, dan pergi meninggalkan mereka.


"Sayang...?" panggil edra.


"Ya, Mas?"


"Perusaha'an kita ada berapa, plus cabangnya?"


Rubby diam sejenak menghitung perusaha'an cabang besar mereka.


"Kalau yang udah berkembang  ada Empat Mas, kenapa?" tanya Rubby, "Waduh, firasatku aneh nih,"


"Sayang... Mas ngga menyangka, akan mengatakan ini, tapi... Perkata'an Bu rina itu ada benarnya,"


"Lah, terus?"


Edra menggendong Rubby ala Bridesmaid, "Ayo, kita buat pewaris tahta. Satu pewaris di setiap anak cabang." ajaknya dengan wajah genit.


Rubby menatapnya dan mengerenyitkan dahi, "Empat?"


"Bila perlu, lebih dari itu." ajaknya, masuk kedalam Rumah.


Dua bulan berselang.


Pagi itu, mereka sarapan bersama. Bik inah meyediakan semua makanan yang dipesan Rubby, yang tak lain adalah makanan kesuka'anya.


Rubby mengambilkan makanan untuk edra, lalu untuk dirinya sendiri. Begitu berselera, namun ketika makan, Ia justru mual tak terkontrol, hingga muntah di wastafel dapur.


"By, kenapa? Masuk angin?" tanya Bik inah.


"By seminggu ini, ngga ada kekantor, ngga ada keluar kota, dan.... Ah, jangan-jangan By hamil?" ucapnya.


"Udah yakin?"


"Iya, Bik... Kalau difikir-fikir, By udah telat...... Tiga minggu," jawabnya, dengan raut wajah begitu bahagia.


Rubby segera berlari kecil, dan memberitahukan berita bahagia itu, pada Suaminya, yang sedang menyuapi Maliq.


"Mas," panggilnya lembut.


"Iya, sayang, kenapa?"


"By.... Ngidam lagi." ucapnya dengan manja.

__ADS_1


"By hamil lagi?" tanya edra, dengan mata bersinar, dan Rubby hanya mengangguk senyum.


Edra mengucap syukur, atas kehamilan kedua ini, dan berjanji, akan terus menjadi Ayah yang siaga. Meskipun kesibukan nya begitu menyita waktu.


__ADS_2