
"By..."
"Iya Bu, ada apa?"
"Boleh saya cerita?"
"Iya cerita aja... By akan dengarkan."
"Sebenarnya saya sayang sekali dengan mertua saya By, segala yang Ia ingin kan pasti saya berikan. Apapun permintaan nya, pasti saya turuti selama saya mampu. Tapi, untuk menyuruh Mas Edra menikah lagi, itu begitu sulit dan diluar kuasa saya. Bahkan sudah berkali-kali Ia saya jodohkan dengan sahabat saya, tetap Mas Edra ngga mau."
"Itu tanda nya, Bapak mencintai Ibu dan ngga mau mendua kan Ibu. Bapak adalah orang yang setia Bu." Balasku.
"Saya hanya tidak mau menjadi penghalang langkah nya untuk hidup bahagia By."
"Tapi yang saya lihat, Bapak bahagia bersama Ibu. Bapak ngga pernah terlihat lelah saat menjaga dan merawat Ibu. Semua Bapak laku kan dengan tulus ikhlas."
"Iya By... Saya tahu, tapi saya juga mengerti Bapak ingin sesuatu yang saya ngga bisa beri kan. Bukan hanya Anak, tapi juga nafkah batin nya."
"Maksudnya?"
"Iya By... Saya sering menolak nya. Karna suatu alasan pasti nya karna penyakit saya ini. Jujur, saya sempat berfikir jika Mas Edra akan melampiaskan nya dengan yang lain. Saya takut, Dia akan berbuat dosa By."
"Bu... Bapak ngga akan seperti itu, Saya yakin. Biarpun saya baru disini, tapi saya merasa Bapak adalah Pria yang benar-benar menjadi kan Ibu ragu dalam hidupnya."
Bu Diana mengusap air mata nya, dan berusaha tersenyum kembali.
"Iya By, semoga saja. Oh iya, hari ini Bapak pulang kan?"
"Iya Bu." Jawab ku singkat.
Bu Diana yang sudah baikan, mengajak ku kesupermarket untuk belanja bulanan.
Kami berdua berangkat dengan diantar Pak Ujang, supir Pribadi nya.
Sesampai nya disana, Bu diana menggandengku dengan erat dan membuatku sedikit canggung, namun aku senang.
"Mau belanja apa aja Bu?" Tanya ku.
"Kamu dorong aja troli nya, ikuti saya dari belakang ya."
__ADS_1
Aku hanya mengangguk menuruti semua mau nya.
"Begini kalau saya belanja bulanan. Di inget-inget ya By, nanti kalau saya lagi ngga bisa belanja, kamu aja ynag berangkat."
"Tapi Bu... Saya perawat Ibu, bukan..."
"Pembantu Rumah Tangga?... By, kamu itu udah saya anggap adik saya sendiri. Entah kenapa, saya mempercayai kamu melebihi apapun sekarang."
"Makasih Bu, Ibu sudah mau memberi kepercayaan pada saya sampai sejauh ini." Jawab ku tersanjung.
"Yaudah... Yuk kita belanja." Ajak nya lagi.
Beberapa lama kami memilih dan memasuk kan barang ke troli, ada seseorang menepuk punggungku dari belakang.
"By..." Tegurnya.
Aku langsung membalik kan badan ku, dan terkejut melihat sosok didepan ku.
"Bang Ramlan... Kok bisa ketemu disini?" Tanya ku.
"Iya, aku nemenin Ibu ku belanja. Kamu sama siapa?" Tanya nya ramah.
"Aku sama majikan ku, Bang." Jawabku pelan.
"Ibu..." Jawab ku terkejut.
"Hh, Kamu... Sok-sok'an ngga mau sama anak saya, katanya ngga punya kerjaan. Eh malah kamu nya mbabu, ya mending sama Ramlan. Meskipun, ngga ada kerjaan tapi harta nya banyak. Ngandelin apa kamu kalo cuma Mbabu." Ucap Bu lurah dengan begitu ketusnya.
Aku hanya terdiam dan menunduk kan kepala ku dihadapan nya. Bukan karna aku takut, tapi karna aku tak mau ribut dengan nya. Apalagi, kami Sedang berada ditempat umum dan Aku bersama Bu Diana sekarang.
" Siapa By?" Tanya Bu diana yang datang menghampiri ku.
"Bu... Perkenalkan. Ini Ibu lurah dikampung saya." Jawabku.
"Oh ini majikan mu, cantik lah." Tambah Bu Lurah.
"Iya saya majikan Rubby. Bahkan saya dan suami saya sudah menganggap Rubby sebagai adik saya sendiri. Kenapa Bu?"
"Aduh sudah punya suami? Hmmm. Hati-hati loh buat Ibu nya ini. Rubby itu macam gadis pembawa sial. Bayangkan saja, tiga hari sebelum menikah, Eh calon laki nya meninggal kecelakaan. Terus, Laki-laki yang mau sama dia itu. Habis lah celaka contoh nya Anak ku ini si Ramlan. Udah baik aku mau nerima dia. Eh dia nya malah kabur." Bu lurah bercerita panjang lebar, dan aku hanya tetap diam menahan tangis.
__ADS_1
" Maaf Bu, saya adalah orang yang tidak percaya dengan mitos. Lagi pula, Calon suami Rubby meninggal jelas karna kecelakaan kan? Jadi kenapa Rubby yang di Sial kan? " Bela Bu diana padaku.
"Memang malas kadang aku bicara sama orang kota sok pintar macam kalian itu. Dibilangin bisa nya ngelawan aja." Balas Bu lurah lagi dengan nada marah.
"Saya bukan sok pintar, tapi saya memang ngga percaya lho."
"Nanti merasakan kesialan baru tahu kalian." Jawab Bu lurah lagi.
"Ibu jangan sembarangan ngomong... Aduh By, saya mimisan lagi." Ucap Bu diana padaku.
Aku segera mengambil tisu. Dan menyeka darah yang keluar dari hidungnya.
"Bu... Udah ya, orang begitu ngga usah dibalas. Lihat kan, karna emosi jadinya mimisan lagi." Tegur ku pada nya.
"Iya By... Maaf, saya cuma mau belain kamu."
"Nah kan... Baru saja Aku bilang barusan. Tau-tau kejadian begitu, percaya sekarang kalau Rubby itu bawa sial. Biarlah, aku balik kampung nanti, akan ku kabari semua orang disana." Sahut Bu lurah lagi.
Aku tetap diam tak mau membalasnya karna fokus dengan Bu diana saat itu.
" By... Pulang yuk, kita pulang sama-sama dan nikah By. Abang janji akan buat hidup By bahagia, tanpa harus kerja keras seperti ini By. " Bujuk Bang ramlan padaku.
"Bang. Maaf, By masih dengan jawaban yang sama. By belum bisa membuka hati By hingga sekarang." Jawabku.
"By... Abang mohon. Ayo kita pulang, apapun yang By minta akan Abang turuti By." Ucapnya padaku, hingga bersimpuh.
Bu lurah yang malu, langsung mengangkat tubuhnya, dan menyeretnya pergi dari hadapan ku.
"Ramlan... Bodoh kamu, mengemis cinta dengan wanita sial itu. PULANG!" Teriak nya dengan nada yang naik beberapa oktaf dari suara aslinya yang memang sudah keras.
Aku masih tertunduk malu dengan tetap membersihkan sisa darah yang ada dihidung Bu diana.
" By... Are you okay? " Tanya nya padaku.
" I'am Okay... Udah selesai kan belanja nya? Yuk pulang." Ajak ku padanya.
Setelah membayar semua belanjaan. Bu diana kembali menggandeng tangan ku saat keluar dari supermarket menuju mobil, dengan belanjaan yang dibawakan petugas supermarket saat itu.
Aku hanya diam selama perjalanan, dan memikirkan kejadian tadi.
__ADS_1
"Aku sudah pergi sejauh ini. Tapi, kenapa masih ada celah untuk bertemu dengan mereka? Kenapa seolah mereka tak bisa lepas dari bayangan hidupku?"
Batin ku berkecamuk, antara tanda tanya, kesal, bahkan marah.