MADU PILIHAN ISTRIKU (RUBBY)

MADU PILIHAN ISTRIKU (RUBBY)
Menanti pulang


__ADS_3

Pov Rubby.


Isyana ku masih dalam perawatan intensif sekarang. Meski aku sudah diperbolehkan pulang, namun aku belum bisa meninggalkanya, hingga memutuskan untuk tetap tinggal di Rumah Sakit.


Jujur, Mas edra menyewakan sebuah kamar khusus untuk aku dan Bayiku, sebuah kamar sekelas VVIP, dengan semua  fasilitas yang diperlukan Isyana, dilengkapi disana. Dan seorang staf perawat khusus untuk kami.


Nyamankah? Sebenarnya tidak, karna sebenarnya aku ingin pulang. Aku rindu dengan punggawaku yang lain. Ingin memeluk si kembar, dan mendengar celotehan Brama ku. Dan sekarang kami hanya bisa bertegur sapa lewat Video Call saja. Beruntung Maliq rajin kemari, dengan Meminta Mas bima untuk mengantarnya.


"Kok, Maliq kesini lagi? Ngga repot?"


"Ngga papa, Bu. Kan yang lain ada Nenek inah, sama Mba ratih. Dan tadi,  Ibuk fitri datang. Jadi, Maliq minta antar kemari."


"Oh, iya... Terimakasih, sudah mau menemani Ibu. Maliq sudah makan?".


"Sudah, sebelum kesini Maliq makan." jawabnya, lalu mengerjakan semua tugas disini.


Aku melipat beberapa pakaian Isyana dan merapikanya dikeranjang agar rapi, dengan mengajari Maliq beberapa pelajaran yang masih dirasa sulit olehnya.


"Bram gimana Mas?" tanya ku.


"Bram... Masih seperti biasa. Robotnya Maliq buanh diam-diam, kemarin Ia menangis kencang karna mencari robotnya."


"Kenapa Mas buang? Apa salah Bram?"


"Bukan Bram, tapi robotnya. Ibu tahu, Kaki robot Bram yang membuat Ibu jatuh, dan sakit. Bahkan, Nana pun ikut sakit karna itu."


"Maliq, kenapa bisa menyalahkan hal itu? Ibu jatuh sendiri."


"Iya... Tapi Ibu terpeleset. Maliq lihat ada darahnya disana. Daripada Maliq kesel lihat robotnya, terus marah sama Bram, mending Maliq buang. Maliq ngga salah 'kan?"


"Jadi, kalau karna melahirkan Maliq, bunda meninggal, Ibu harus buang Maliq?"


"Eng-, engga, Bu... Beda."

__ADS_1


"Beda apanya? Apa karna robot itu hanya sebuah barang? Jadi bisa dibuang kapan saja? Maliq menyimpan dendam?"


"Maliq ngga dendam, cuma kesel aja."


"Apa bedanya? Maliq sudah bisa mempersalahkan sesuatu sekarang, itu tandanya Maliq sudah semakin dewasa. Tapi, harus bisa membedakan semua itu dengan baik. Semuanya ngga disengaja. Ibu juga salah, karna tak memanggil ayah ketika haus, tak menyalakan lampu ketika berjalan kebawah untuk mengambil minuman, sehingga tak bisa melihat tangga itu sendiri. Jadi, tak ada yang salah disini. Maliq, tidak sempat memarahi Bram kan? "


"Tidak, karna sa'at mencuci kaki robotnya, nenek inah menasehati maliq, seperti yang Ibu bilang tadi."


"Nah... Persis kan, berarti memang tak ada salah siapapun dan apapun. Ini murni kecelaka'an."


Aku menghadapkan tubuhku kearahnya, memegang wajahnya dengan kedua tanganku, lalu menghadapkanya persis didepan wajahku. Kami saling berpandangan sekarang.


"Maliq masih kecil, ngga usah mikirin ini semua. Berfikirlah sesuai usia Maliq, bermain, dan fokus belajar. Bukanya Maliq ingin seperti ayah?"


"Iya... Maliq janji, akan belajar, dan menjadi kebangga'an ayah dan Ibu. Menjadi pelindung bagi adik Maliq,"


"Tapi, harus menjadi diri Maliq sendiri." Sambungku.  Lalu ku kecup keningnya, dan memeluknya erat.


"Ibu kapan pulang?"


"Iya... Besok Maliq ujian kenaikan kelas. Maliq ngga bisa nemenin Ibu, ngga papa?"


"Iya, ngga papa. Maliq pulang aja ngga papa, biar konsen belajar dirumah. Sekalian ajak adeknya belajar bareng."


"Iya," jawabnya, lalu membereskan bukuanya. Mencium tanganku, dan menyempatkan diri menyapa Isyana yang masih di'incubator.


Tatapanku masih haru ketika melihatnya dengan sikap begitu dewasa dan menerima semua keada'an dengan baik, meski masih harus terus diawasi dalam pengambilan keputusan, untuk dirinya sendiri, karna masih labil, dan mudah terpengaruh diusianya yang masih begitu dini.


Isyana menangis, tangisannya sudah mulai kencang, tak seperti kemarin, hanya meringik, dan mengik, karna nafasnya, dan detak jantungnya belum stabil.


Ku buatkan susu formula untuk menenangkanya, meski aku tahu, Ia begitu menginginkan Asi dariku.


"Ma'af, sayang. Ibu tidak bisa memberikanya, karna memang sudah kering." lirihku padanya, yang sednag mengedot dengan kuat. Lalu, akhirnya Ia tertidur kembali.

__ADS_1


"Assalamualaikum," ucap Mas edra, yang masuk keruangan.


"Wa'alaikum salam, Mas. Udah selesai kerjanya?"


"Sudah, sayang. Oh iya, ini ada kado dari para pegawai. Mereka mau kasih banyak, tapi Mas bilang ngga usah. Do'akan saja, agar segera pulang dari Rumah Sakit." ucapnya padaku.


"Alhamdulillah," ucapku, dengan bahagia.


Aku memang begitu beruntung, dikelilingi begitu banyak orang yang menyayangiku. Bahkan, tak hanya perduli dan mendo'akan, merekapun berbondong-bondong ingin menyumbangkan darah mereka padaku ketika aku kritis.


Seminggu sudah aku disini, dokter menyatakan Isyana sudah membaik, meski harus sering dikontrol. Dan, itu pun karna statusku yang lulusan perawat, sehingga Ia bisa mempercayakan perawatan intensifnya padaku.


"Ingat, dirumah harus sering dikontrol suhu, susu dan semuanya. Kamu pasti sudah faham karna kamu sendiri adalah seorang perawat. Meskipun sudah lama tak aktif, ilmunya pasti masih ada 'kan?" pesanya padaku.


"Iya... Saya akan kontrol semuanya, andai saja saya bisa menyusui, pasti gizinya pun akan saya perhatikan."


"Iya, tapi sekarang, berikan susu khusus yang saya resepkan. Yang memang untuk anak yang alergi dengan susu formula lain."


"Iya... Saya penuhi itu semua. Terimakasih, dok. Saya permisi," jawabku, lalu menggendong Isyana utnuk pulang. Sedang Mas edra, mengurus administrasi kami dikasir.


"Bik, Mas bima, terimakasih sudah mau jemput." ucapku pada Bik inah, yang membantu membawa barangku, dan Mas bima yang ada dibelakang.


"Itu tugas kami, kebetulan anak-anak masih disekolah, jadi bisa jemput." balas Bik inah padaku.


Aku melangkah dengan perasa'an yang begitu bahagia. Tak sabar, ingin memberi kejutan pada anak-anak. Penasaran bagaimana mereka ketika tahu, jika Ibu dan adiknya sudah pulang kerumah dalam keada'an sehat."Pasti menggemaskan," fikirku.


Dengan menaiki mobil Alphardku, kami pulang. Tak terasa, seminggu lebih di Rumah Sakit, barang yang sudah kami bawa begitu banyak, hingga harus diangkut dengan Dua mobil. Mobilku, dan mobil Mas edra.


Tiba dirumah, aku merebahkan tubuhku sejenak, dan menunggu para punggawaku pulang.


"Semakin tak sabar," gumamku.


Suara mobil Mas yang disetir Mas bima datang. Mereka sengaja dijemput bersama, untuk menambah efek kejutan yang akan diberikan. Aku turun perlahan, dan berdiri didepan pintu, hingga Maliq membuka pintunya.

__ADS_1


"Surprizeeee...." ucapku, dengan merentangkan kedua tangan.


Mereka semua berlarian, bersama memelukku, dengan perasa'an rindu yang begitu dalam. Bahkan, Bayu dan Adi sampai menangis karnanya.


__ADS_2