MADU PILIHAN ISTRIKU (RUBBY)

MADU PILIHAN ISTRIKU (RUBBY)
Memohon...


__ADS_3

Setengah jam dalam ketegangan selama perjalanan. Kami sampai di RSJKO, dan langsung ku ajak menuju ruangan Pak hadi.


Aku nenggandeng Bik inah, agar lebih santai, karna Ia benar-benar tegang sa'at itu. "Udah... Bibik ngga usah tegang. Semua baik-baik saja," ucapku.


"Dee... Sekian lama tak bertemu denganya, bahkan tak tahu kabarnya. Tapi, sekarang harus menemuinya disini."


"Ngga papa, Dia sehat. Yakinlah," balasku.


Kami memasuki ruangan perawatan, dan menemui perawat yang menjaganya.


"Permisi, Mas. Saya mau jenguk Pak hadi, bisa?"


"Oh... Pak hadi? Bisa, tapi lagi chek up, tunggu aja dulu, Mba."


Aku memg'iyakan, namun Bik inah justru bertaham disana.


"Mas... Maaf, saya mau nanya. Pak rahadi, kenapa bisa masuk dan dirawat disini?" tanya Bik inah, pada perawat tersebut.


"Oh, Bapak? Beliau sekitar Empat tahun lalu, dibawa sama warga perkampungan dekat sini. Gara-garanya, Beliau mukulin warga yang mau negerebut botol nya. Aneh kan? Terus lagi, kondisi botolnya juga, kayak dilaminating gitu," jawab Sang perawat.


"Botol? Botol apa?" sambungku.


"Botol saus. Tapi, kayaknya saus import dari luar negri gitu. Ngga tahu merk apa, dan dapat dimana. Sampai sekarang ada tuh botol," jawab perawat itu lagi.


Aku dan Bik inah bertanya-tanya, sambil berjalan keruang tunggu.


"Botol apa, Bik?"


"Botol saus, yang dimasukan dalam makanan Papa edra, Dee." jawab Bik inah, lemah.


"Kenapa disimpan?"


"Bibik ngga tahu pasti, tapi sepertinya sengaja Ia simpan, bahkan Ia bungkus rapi. Disana ada sidik jari Mama mirna. Mama mirna sadar semua itu, dan mengejar Bapak, makanya Ia lari. Tak disangka sampai kesini. " jawabnya datar.


Aku mengehela nafas panjang, memegangi dadaku yang terasa sesak karna fakta itu. Aku ingin melanjutkan pertanya'an, tapi kudengar suara Pak hadi kembali dari luar sana.


"Pak hadi, ada yang nungguin. Cieee, banyak cewek yang ngantri mau ketemu Pak hadi," suara perawat meledeknya diluar.


"Apa Dit, siapa nyari saya?"

__ADS_1


"Diruang tunggu, cewek yang kemaren, berdua."


Terdengar suara langkah kaki Pak hadi berjalan menuju ruangan kami.


"Dee... Sudah ku bilang, Aku tak ingin berurusan dengan kalian lagi!.... Inah?" ucapan Pak hadi terpotong, btatkala melihat sosok istrinya.


"Inah... Kenapa kamu?"


Bik inah dan Pak hadi berjalan saling menghampiri. "Mas... Kenapa bisa disini, Mas? Kenapa perginya lama sekali?" tangis Bik inah pecah.


"Dee... Kenapa membawanya kemari?" omelnya.


Aku tak menjawab, hanya menggerakan bahuku ke atas, dan menyunggingkan senyum puas.


"Mas... Katakan Mas, kenapa disini?" tanya Bik inah lagi.


"Disini tempat yang paling aman untuk ku. Mereka berhenti dan kehilangan jejak sa'at aku kemari. Dee, kenapa kamari lagi? Orang-orang Mama mu itu berbahahaya,"


"Justru sekarang waktu yang tepat, Pak. Mama sudah tidak berani berkutik lagi, Dia terkurung dalam istana tercintanya sekarang. Jangan kan untuk mrngawasiku, keluar rumah saja suah tak bisa."


"Lalu, untuk apa kemari?" tanya nya lagi.


"Kamu pikir hanya itu? Kamu pikir, hanya Papa edra yang mati? Tidak Dee. Mama mu tidak mengincar Tuan sa'at itu, tapi mengincarmu. Tapi justru kalian bertukar mobil dan supir, hingga sa'at itu, yang kecelaka'an adalah Tuan bersama anakku, Rahmat."


"Hah...?" aku terkejut lagi dengan ucapanya.


"Iya... Masalahnya bukan hanya di saus itu, tapi dimobilmu. Mirna sengaja menyabotasenya, dengan harapan kamu yang mati, dan Edra yang memiliki perusaha'an itu. Setelah kamu mati, Ia akan menikahkan Edra dengan keponakanya, dan Perusaha'an itu, akan tetap berada dalam lingkup keluarga Pratama!"


Aku memegangi dadaku yang kembali sesak. Ya, begitu sesak sa'at mendengar kenyata'an itu. Kenyata'an, bahwa sesungguhnya aku lah yang dari awal menjadi incaranya.


"Bapak tahu semuanya?" tanya ku, lirih.


"Tidak hanya tahu, bahkan setelah kecelaka'an itu, ku hampiri mobil itu. Bapak cek semuanya. Remnya blong, itu lah permasalahanya. Memang Bapak tak bisa membuktikan sa'at itu. Hanya beberapa kabel, dan rem nya saja, yang bisa Bapak ambil diam'diak, dan menyimpanya. "


"Dimana, barang bukti itu?"


"Dalam botol saus itu. Mereka menjadi satu, hingga sa'at tiba waktunya mengeluarkan mereka."


"Sekarang waktunya, Pak. Dee mohon, bantu Dee kali ini. Mama mirna tidak akan mengacau nya."

__ADS_1


"Apa jaminanya, Dee? Sudah benar-benar amankah? Jika sudah, Kabari Bapak. Bapak mau istirahat dulu. Inah, terimakasih sudah mau jenguk Mas disini. Baik-baik ya, disana," ucap Pak hadi, lalu pergi meninggalkan kami.


"Bik... Bagaimana cara membujuknya? Tolong Dee,"


"Tolong apa? Lanjutkan saja, Dia sudah menyanggupinya," jawab bik inah, menyunggingkan senyumnya.


"Tapi... Bapak tidak menyetujui apa-apa?"


"Lihat matanya... Ia tak mengatakan apapun, tapi matanya berkata Iya. Bibik paham itu. Fokus saja dengan kasusnya. Mengenai semuanya, Bibik yang akan urus." jawab Bik inah.


Aku hanya berdecak bingung, melihat tingkah laku mereka berdua. Dan lanjut pulang, karna Rubby sendirian dirumah.


Pov Rubby.


Aku sendirian, bosan, dan kesepian. Meskipun aku sudah pergi ke teras belakang, dan mengurusi tanamam Kak dee dengan bunga yang mulai bermekaran.


Tok... Tok... Tok..!


Samar-samar terdengar suara ketukan pintu, diselingi suara bel berbunyi.


"Siapa yang bertamu? Aaah... Pasti bukan Mama mirna, Dia kan sedang dikurung Mas edra dirumahnya,"


Aku segera berjalan membukakan pintu, dan ternyata. "Bu... Bu Rina? Darimana Ibu tahu, rumah By disini?"


Bu Rina masuk, tatapanya berkeliaran melihat setiap sudut rumah ini. Antara kagum, dan tak percaya.


"Pantas saja By, kamu mau jadi yang kedua. Suamimu kaya raya, rumahnya besar, mobilnya banyak. Pantas saja kamu mau meninggalkan Ramlan hanya demi suami orang." ucapnya, dengan mata yang masih berselancar.


"Bu... Kalau ibu bertamu dengan baik, maka By terima dengan baik. Tapi, jika Ibu hanya ingin mengusik By, ma'af, lebih baik Ibu keluar dari sini." ucapku padanya.


Tatapan Bu lurah tajam padaku, seolah ingin meluapkan amarah seperti biasanya. Aku mulai takut, dan mundur perlahan. Namun ternyata, Ia justru bersimpuh dihadapan ku.


"By... By tolong bebasin Ramlan anak Ibu, By. Ibu ngga bisa hidup tanpa dia, dia anak Ibu satu-satunya," ucapnya dengan penuh permohonan.


"Bu... Hentikan, kenapa Ibu membuang harga diri Ibu seperti ini. Dimana harga diri Ibu yang begitu mahal itu? Ini bukan Ibu."


"Demi ramlan... Jangan kan harga diri, Nyawa pun Ibu berikan."


"By memang mau membebaskan Abang, tapi Ibu tak perlu seperti ini. Berdiri Bu, jangan buat By takut" bujuk ku padanya.

__ADS_1


__ADS_2