
Kami telah sampai dirumah, setelah setengah jam perjalanan. Kubuka pintu belakang taxi, dan berniat memapah istriku untuk masuk kedalam, namun Ia menolaknya.
"Udah sana, pergi ambil motornya. Kasihan orangnya nungguin. Lagian, Cari kerja'an aja." omelnya padaku.
Hatiku sakit, perih, dan ingin menangis rasanya. Aku terbiasa diperlakukan dingin oleh Dee, dulu. Tapi, untuk diperlakukan seperti ini oleh Rubby yang sedang hamil, kenapa lebih sakit rasanya. Hingga membuatku ingin menangis.
"Mas... Mau istirahat sebentar, makan siang. Ngga papa 'kan?" jawabku.
"Yaudah, minta sama Bibik. By mau istirahat dikamar, Capek." ucapnya, dan berlalu jauh meninggalkanku.
Aku menghela nafas, masuk kedalam rumah, dan duduk disofa. Teringat si kembar yang belum ku jemput, dan dengan buru-buru, aku mengganti pakaian dikamar, lalu menjemput mereka.
"Ngapain, Mas? " tegurnya.
"Ganti baju, lupa kalau waktunya jemput kembar," balasku.
"Udah dijemput Mas bima. Makanya, lain kali ngga usah terlalu banyaj curiga. Kerjain yang penting-penting aja, ngga usah fokus ke masalah yang ngga penting."
Lagi-lagi aku salah, dan mendapat omelan dari nya. Aku ingin teriak, ingin membentaknya, tapi aku memilih segera pergi darinya, menuju dapur, dan meneguk banyak air putih.
"Dra... Kenapa, minum kok begitu? pelan-pelan lah, sambil duduk." tegur Bik inah.
Aku kembali menghela nafas, ku ceritakan tentang kehamilah Rubby, dan Ia pun merasa begitu senang.
"Tapi... By seperti membenci ku sekarang. Jangan kan memeluk, melihatpun, Ia tak ingin." ucapku padanya.
"Dra... Anakmu yang ini sepertinya berbeda. Itu tandanya, kamu harus melatih kesabaranmu mulai dari sekarang. Karna bisa jadi, ini akan berlangsung lama." balas Bik inah padaku.
"Apakah, harus selama itu?"
"Ya... Tergantung Bayinya. Itu kan bawa'an Bayi."
Aku mengusap wajahku kasar, lalu pamit untuk mengambil motor gusti direstauran tadi dengan menggunakan taxi online.
Setelah ku ambil motor itu, aku kembali kekantor. Ku baringkan tubuhku dengan kasar disofa. Ku letakan lengan ku dikepalau yang benar-benar sakit sekarang.
"Aaaaarghh... Beginikah rasanya dibenci istri sendiri. Yang bahkan aku tak tahu salahku apa? Meskipun, aku tahu, aku salah karna sempat mencurigainya. Tapi itu karna aku takut kehilangan Dia." gerutuku.
"Permisi, Pak. Ini ada beberapa file yang harua Bapak tanda tangani. Loh... Bapak kenapa?" tanya Winda, yang melihatku aneh.
"Ternyata... Ibu bukan selingkuh, Win. Tapi, Ibu sedang hamil." jawabku, pelan.
__ADS_1
"Hamil lagi? Wah, selamat ya, Pak. Semoga yang ini dapat cewek,"
"Iya, tapi Ibu benci saya." jawabku.
"Sabar, Pak, itu bawa'an bayi."
"Semua bilang sabar karna bawa'an Bayi. Tahu kah kamu, saya rindu istri saya sejak Dua minggu ditinggal keluar kota. Sedangkan, ketika Ia pulang, saya ingin memeluk pun tak bisa. Betapa menderitanya saya sekarang," gerutuku.
"Ya... Saya hanya bisa mengatakan sabar, karna memang seperti itu. Daripada, jika Bapak nekat, akan membuat keributan diantara kalian. Setahu saya, Bapak dan Ibu memang selalu harmonis 'kan? Jadi anggap saja, ini kerikil kecil untuk kalian."
Aku masih terlentang disofa, menjambaki rambut dikepalaku yang begitu sakit sekarang.
"Kamu ini, paling hebat kalau nasehatin saya. Saya jadi'in besan aja besok, ya? Tinggal pilih tuh, mau sama yang mana." ledekku padanya.
"Bapak, bisa aja...." tawanya terbahak-bahak, lalu pergi.
Aku menghela nafas panjang, bangkit dari rebahan, lalu memulai semua pekerja'anku.
"Ayo lah, Dra. Ini impian Rubby, dan semoga sesuai keinginanya. Aku rapopo, meski atiku loro...." gumamku, dengan membuka beberapa lembaran kertas dimeja kerja.
Pov Rubby.
"By, makan dulu." ucap Bik inah yang masuk membawakan ku makan siang.
"Males,"
"Ngga boleh gitu, lagi hamil muda kok males makan."
"Ngga tahu, ini males semua bawa'anya. Mas edra ngadu ngga tadi?" tanya ku.
"Iya, dia ngadu. Sedih banget katanya kamu marahin terus."
"Gimana engga? Tingkahnya itu loh, konyol. Masa dia diem-diem ngawasin By, dikira selingkuh, Kan makin kesel. Udah dari awal males banget sama dia, ditambah itu pula. Benci, benci banget rasanya."
"Ya... Tapi kasihan, Nak. Ditahan dikit lah, ya? Biar bagaimanapun, Dia Ayahnya anak-anak."
"Iya... By coba nanti, moga aja bisa. Jangan kan meluk, lihat wajahnya aja males, Bik." jawabku, dengan penuh tekanan.
"Yaudah, yang sabar. Makananya Bibik taruh sini, Bibik mau nemenin Maliq sama yang lain." ucapnya padaku.
Aku yang lapar, lalu meraih makanan dimeja itu, namun hanya kupermainkan, membolak baliknya, tanpa ingin menyentuhnya.
__ADS_1
Kreeek! Pintu terbuka. Ternyata Maliq dan Brama ku datang, menjenguk Ibunya yang kurang sehat.
Maliq menyuapiku, sedangkan Brama memijat kakiku.
"Ibu sakit? Kenapa?" tanya Bram.
"Ibu, mau punya adik lagi, Bram." jawab Maliq.
"Bram nanya sama Ibuk lah, kenapa Mas yang jawab?"
"Ibu lagi makan, Bram.... Nanti kalau sambil ngomong, makananya muncrat."
"Kan, Bisa ngomongnya nanti." jawab Bram.
Maliq hanya menghela nafas panjang, dan tak membalas lagi.
"Kata Mas itu benar, kan sama aja, Ibu yang jawab juga begitu. Ibu mau punya adek lagi, buat Mas sama Bram. Senang ngga?" tanya ku.
"Bram senang, tapi satu aja cewek. Jangan cowok lagi, Bram pusing mainan Bram direbutin terus sama Adek. Maunya yang mainanya beda."
"Halah, Kamu, kayak ngga pernah mgerebutin mainan Mas aja." sahut Maliq.
"Mas kan yang ngerebutin cuma Bram. Tengoklah Bram, yang ngerecokin langsung Dua adek. Bram pusing,"
"Mas yang ngerecokin tiga adek. Nah, belum selesai direcokin, udah mau nambah adek, Mas juga pusing." balas Maliq lagi
"Jadi? Ngga suka punya adek lagi?" tanyaku pada mereka.
"Suka, Bu. Tapi, cewek ya? Biar kami jadi pelindungnya," ucap Bram, dengan penuh antusias.
Aku hanya mengangguk, terharu melihat mereka semua, meskipun ucapan anak kecil, tapi benar-benar menyentuh ke hatiku.
Ma'afkan Ibu, Nak.
Ma'af kan Ibu yang telah membuat kalian dewasa sebelum waktunya.
Tapi terimakasih, kalian sudah mengerti dengan keada'an.
Semoga kalian bisa menjadi kebangga'an, bukan hanya bagi Ibu dan Ayah, tapi untuk semuanya, termasuk diri kalian sendiri.
*Like nya dong... 🙏🙏🙏 Biar makin semangat nih...
__ADS_1