MADU PILIHAN ISTRIKU (RUBBY)

MADU PILIHAN ISTRIKU (RUBBY)
Jangan sentuh Maduku


__ADS_3

Aledra kembali untuk menemui Rubby diruangan nya. Ia duduk diranjang tempat Rubby tertidur, dan menggenggam tangan nya erat.


"By... Bangun sayang," bujuk Edra, dengan mengusap rambut Rubby yang tergerai indah.


Rubby bergerak, dan mulai membuka mata nya.


"Mas... By dimana?"


"Kamu diruang perawatan, By. Tadi kamu pingsan,"


"By kecape'an, ya?" tanya Rubby.


Edra hanya menggeleng. Dan dengan senyum mengembang, Edra mengelus perut Rubby.


"Bukan By aja yang capek, tapi Anak kita juga," ujar Edra.


Rubby terbelalak, Ia membulatkan kata matanya dan menatap Edra dengan tajam.


"Anak? Anak kita, Mas?"


"Iya... By ternyata sudah Hamil Sekitar Lima minggu. Emang, By ngga ada ngerasain, gitu?"


Rubby menutup mulutnya, dan menggelengkan kepala.


"Engga Mas, Ya Allah... Akhirnya By hamil. Kak Dee pasti seneng banget, kasih tahu Kak Dee, ah."


Rubby ingin turun dari tempat tidurnya namun dicegah Aledra, hingga Rubby akhirnya kembali duduk dibrankarnya.


"Nanti dulu... Pulihkan dulu tenaga nya, jangan sampai ada apa-apa lagi nanti malah repot semua. Tadi disuruh test urin sama Dokter juga. Nanti, kalau udah selesai semuanya, kita kasih tahu Dee sama-sama, Oke?"


"Iya..." jawab Rubby. Sambil mengelus perutnya.


Edra memberikan sebuah testpack untuk Rubby, dan Rubby segera memakai nya dikamar mandi. Lima Belas menit kemudian, Rubby keluar dengan binar wajah bahagia nya.


"Mas... Beneran, positif." ucap Nya, dengan memberikan Testpack ke Suaminya.


"Alhamdulillah, Ya Allah. Sekarang, udah mendingan 'kan? Ayo, kalau mau ke Kakak," ajak Edra dengan merangkul, Rubby. Tapi, dipertengahan jalan, Rubby justru berthenti.


"Loh... Kenapa lagi, Sayang?" tanya Edra.


"Mas... Keinginan terbesar, dan terkahir Kak Dee, adalah mendengar kabar kalau By hamil 'kan? By jadi takut, kalau saat mendengar kabar ini, Kak Dee akan-..."


Edra menutup bibir Rubby dengan telunjuk nya.


"Huust... Kakak Mu tak selemah itu, Dia justru akan sangat bahagia mendengarnya. Yakinlah, Ia akan segera bangun," ucap Nya meyakin kan.


Mereka kembali berjalan memasuki kamar Diana.


Setelah berganti pakaian, Rara keluar dan mempersilah kan Rubby dan Edra masuk.

__ADS_1


" Bagimana, By. Sudah baikan? " tanya Rara.


" Iya, Kak. Berdo'a saja, ya. Setelah ini Kak Dee akan bangun, karna apa yang Ia ingin kan sudha terkabul. By, hamil Mba,"


"Subhanallah, By... Ayo cepat masuk, pasti Diana akan senang mendengarnya," ujar Rara.


Rubby dan Edra duduk dikursi sebelah Diana tidur. Terdengar bunyi monitor mengontrol detak jantungnya saat itu. Suara nafas dari Respirator pun terdegar jelas ditelinga Rubby. Ia ingin menangis, namun Ia tahan sekuat tenaga.


" Kak... Kakak kok tidurnya lama? Ngga pegel, Kak? Kak, bangun yuk Kak... By punya kejutan buat Kakak. By positif Hamil, itu 'kan keinginan tebesar Kakak. Sekarang bangun yuk, gantian Kakak yang ngerawat By, sama anak By nanti. Eh... Anak kita," rayu Rubby.


Diana tetap tak bergeming, Hingga akhirnya Rubby seperti patah semangat. Rubby diam menidurkan kepalanya disebelah Diana. Sambil terus memegangi tangan Nya.


" By... Ibu nelpon, " panggil Edra.


Rubby segera berdiri dan menjawab telpon nya.


"Hallo, Bu...."


"By... Ibu dengar Diana koma?"


"Iya, Bu... Udah Tiga hari ini belum sadar,"


"Besok lah Ibu kesana ya, Nak. Hari ini belum bisa karna masih ada kegiatan."


"Iya Bu, ngga papa. Ehhmmm... Bu,"


"Apa, Sayang?"


"Ya Allah... Berarti sejak disini, By sudah hamil? Tidak terasa, Nak?"


"Engga, By ngga tahu. Do'akan baik-baik saja ya, Bu..."


"Iya sayang... Do'a terbaik untuk kalian disana. By jangan stres, kehamilan usia segitu masih rentan,"


"Iya... By tahu, udah ya Bu, By mau ke Kakak dulu."


Rubby menutup telpon nya, dan kembali masuk keruangan Diana, dan memberikan kembali Hp itu kepada suaminya.


"Mas keluar dulu, ya. Ada urusan pekerjaan. Cuma diluar aja, ngga kemana-mana,"


"Iya...." Jawab Rubby.


Rubby kembali duduk disebelah Diana, dan menggenggam tanganya. Ia tertidur sejenak, hingga merasakan gerakan tangan Diana, dan suara dari monitornya.


Tuuut.... Tuuuuut... Diana terlihat menarik nafas panjang.


Rubby dengan sigap dan berlari memanggil Edra yang duduk diluar. Dan Rara yang menyaksikan hal itu, langsung memanggil Dokter diruangan nya.


Edra masuk dengan perasaan cemas, dan menggenggam tangan Diana dengan erat.

__ADS_1


Dokter datang bersama beberapa perawat. Mereka mengeluar kan alat pacu jantung, untuk memancing detak jantung Diana yang semakin melemah. Dalam beberapa kali gerakan, akhirnya jantung Diana kembali normal.


Rubby dan Aledra bernafas sedikit lega, meski perasaan mereka masih begitu sakit karna hal ini.


Dokter kembali meninggalkan ruangan, dan meminta Rubby terus mengawasi Diana dengan ketat.


"By... By mau apa? Biar Mas carikan sekalian pulang sebentar,"


"Ngga ada, Mas. Cuma minta ambilin pakaian aja, By gerah."


"Oke... Kamu baik-baik ya disini, kalau ada apa-apa, panggil Dokter langsung."


Rubby hanya mengangguk, dan kembali duduk disebelah Diana.


Setelah Edra pergi, ternyata Mama Mirna datang bersama Maya disampingnya.


Mama Mirna masuk, dan Maya dengan setia menunggu nya diluar.


"Rubby...." panggil Nya.


Rubby menatap kedatangan Mama Mirna tanpa berdiri.


"Mama... Kenapa kesini?"


"Sengaja... Mau lihat Diana. Gimana kabarnya? Kenapa sampai koma lama?"


"Jantung Kak Dee melemah, Ma." jawab rubby.


"Ya... Mungkin banyak Fikiran, By. Biar bagaimanapun tenangnya Diana. Tapi Mama yakin, bahwa tidak ada seorang istri pun, yang ikhlas saat suaminya menikah lagi, bahkan tinggal serumah, dan bermesraan didepan nya seperti Kalian,"


"Kak Dee tidak seperti itu, Kak Dee tidak selemah itu, Ma."


"By... Yang kamu lihat itu luarnya saja, tapi dalam hatinya, mana kamu tahu. Terlebih lagi... Dia menginginkan sesuatu yang belum bisa kamu berikan sampai sekarang 'kan,"


Rubby menghela nafas, menahan emosi nya karna Ia tak ingin Diana mendengar keributan itu.


" Mama kesini mau apa sebenarnya? " tanya Rubby.


" Lepaskan Edra untuk Maya. Kamu akan tenang. Toh, kamu juga belum bisa membahagiakan Edra dan Diana sampai sekarang,"


Rubby berdiri, seolah tak mampu lagi menahan emosi nya. Namun, keajaiban terjadi. Tangan Diana mendadak menggenggam lengan Rubby. Diana menarik nafas panjang, lalu membuka matanya.


" Rubby.... " lirih Diana, yang masih dalam penggina'an Respirator Oksigen.


"Kakak... Kakak Bangun? Kakak sabar sebentar. By panggilin Dokter," ucap Rubby, lalau berlari kecil keluar ruangan dengan memegangi perutnya.


Wajah Mama Mirna sontak berubah, antara terkejut dan cemas. Karna Takut, jika Diana mendengar semua perkata'an nya. Hingga Ia segera berlari keluar, dan menggandeng Maya pergi bersama nya.


"Tante, kita mau pergi kemana?" tanya Maya.

__ADS_1


"Udah cepetan... Jangan sampai Edra tahu kita barusan dateng kesini," jawab Mama Mirna, dengan menarik lengan Maya.


__ADS_2