MADU PILIHAN ISTRIKU (RUBBY)

MADU PILIHAN ISTRIKU (RUBBY)
Diana koma


__ADS_3

Sedangkan di Bandara, Rubby dan Aledra hanya tinggal menunggu keberangkatan saja. Mereka duduk dikursi berdua dengan terus bergandengan tangan.


"Mas..."


"Iya... Kenapa?"


"By ngga pernah naik pesawat, By deg-deg'an."


"Tenang, kan ada Mas disini. Lagian ngga papa kok, atur ketenangan aja, ya."


"Iya..." jawab Rubby.


Tapi, entah lain pula yang dirasakan nya saat itu. Bukan hanya berdebar karna baru pertama naik pesawat, namun juga cemas karna sesuatu yang entah apa.


Aledra menggenggam tangan nya erat, dan mengusapnya agar lebih tenang.


"Ngga papa... Deket juga, paling cuma Sejam,"


"Iya, Mas...." jawab Rubby, mengelus dada.


"Lima menit lagi, kayaknya dipanggil. Mas kekamar mandi dulu, ya. Mas titip hp sebentar," ucap Aledra.


Rubby mengangguk, dan meletak kan Hp Edra dalam tas nya.


Tak beberapa lama, terdengar suara panggilan untuk naik pesawat. Aledra yang keluar dari kamar mandi, segera menggandeng Rubby untuk segera check in.


" Mba... Hp nya dimatikan, ya. " pinta salah satu petugas.


Rubby mengambil Hp, dan pas saat itu, Rara menelpon.


"Hallo... Mba Rara?" jawab Rubby.


"Hallo, By... Mas Edra, Mana?"


"Itu lagi check in. Ini Rubby udah duluan mau kepesawat, kenapa?"


"By... Maaf, sebenarnya ngga boleh ngasih tahu ini. Tapi, Diana kritis. Jantungnya lemah, dan tadi sempat pingsan," ujar Rara.


"Hah... Gimana bisa? Katanya jantung nya baik-baik aja," balas Rubby.


"Tapi... Kenyataanya seperti ini, By. Mba ngga mungkin bohong dengan kesehatan Diana."


"Yaudah... Bentar lagi, By kesana."


Rubby menutup telpon itu. Perasaan nya kacau, antara kesal karna telah dibohingi, dan khawatir dengan kondisi Diana.


"By... Kenapa berhenti? Ayo jalan, bentar lagi terbang." ajak Aledra.


Namun Rubby hanya diam dan meneteskan air matanya.


"Mas kenapa bohong?" tanya Rubby.


"Bohong bagaimana?"


"Kenapa bohong dengan status kesehatan jantung Kak Dee. Kak Dee kritis sekarang. Gimana coba?"


"By... Kamu dikasih tau siapa?"


"Mba Rara tadi nelpon... Jahat banget Mas, ya.... Ngga nyangka Aku"

__ADS_1


Rubby lalu berlari kencang meninggalkan Aledra sendirian untuk keluar dari antrian pesawat. Ia berlari tanpa memperdulikan banyak nya kerumunan dan asal menabrak orang lain.


Aledra berusaha mengajarnya, dan menitipkan koper pada petugas Bandara.


"By...! Tunggu Mas By, jangan larian gitu, nanti jatuh." Teriak Edra.


Rubby tak memperdulikan nya, dan terus berlari kencang. Ia berniat mencari taxi dan berangkat sendiri ke Rumah sakit.


Edra menarik tangan nya, dan memberikan penjelasan, saat Rubby sejenak diam untuk menghentikan sebuah taxi.


" By... Dengar dulu. Jangan gegabah."


"By ngga akan gegabah kalau dari awal Mas jujur sama By!"


"Oke... Oke. Mas minta maaf. Sekarang, By tenang dulu, okey. Ini semua Diana yang minta, ngga ada hal lain selain Mas iya'kan."


"Sekarang... Bawa By ke Kak Dee, sekarang!"


"iya, iya... Ayo kita ke mobil," ajak Edra menggandeng Rubby.


Rubby menuruti Edra, dan masuk kedalam mobil mereka. Edra menyetir pelan awalnya, namun Rubby memintanya lebih cepat.


"Mas... Cepetan,"


"Iya, By... Jalanan rame,"


"Kalo engga... By yang nyetir," ancam Nya.


"Engga... Duduk bagus-bagus, jangan nekat." balas Edra.


Mereka kembali terdiam sepanjang perjalanan. Terlihat Rubby beberapa kali melirik Hp, dan menggigiti jarinya karna cemas, hingga sampai dirumah sakit.


"By...!" Panggil Rara dari kejauhan.


Rubby memghampiri Rara.


"Mba... Gimana Kak Dee?"


"Dee, kritis. Diruang ICU sekarang. Bukan hanya jantung, tapi juga pernafasan nya terganggu, sampai harus pakai Respirator."


"Astaghfirullah... Kak Dee. By boleh jenguk?"


"Boleh, tapi diem aja. Soalnya, Diana Minta supaya, Mba ngga ngasih tahu kamu,"


"Iya, Mba... By janji,"


Rubby langsung masuk keruang ICU, lengkap dengan pakaian nya. Ia menatap Diana dengan mata sedihnya, dan tak mampu berkata apa-apa lagi. Beberapa lama, Ia langsung keluar, dan disambut Edra yang menunggu nya dikursi depan ruangan.


"Gimana keadaan Diana, By?"


"Andai kita jadi pergi, bisa jadi akibatnya lebih fatal, dan akan jadi penyesalan kita seumur hidup, Mas."


"By... Maaf, semua ini kehendak Diana. Mas hanya menuruti nya."


"Menuruti itu buat kebaikan, Mas. Mas itu udah dewasa, harus lebih paham mana yang baik dan mana yang buruk. Untung aja Mba Rara cepet dateng,".


"Iya... Mas salah. Mas minta maaf, Mas terlalu menuruti permintaan nya, agar Diana pun mau menuruti Mas untuk kembali menjalani pengobatan, By."


"Iya, Mas... By tahu, tapi.... Ah, sudah lah, By lelah. Mas masuk aja kedalam, By mau tanya status Kak Dee sama dokter."

__ADS_1


Rubby yang masih kesal, meninggalkan Edra dikursi tunggu sendirian, sedang kan Rara sedang sibuk mengurus administrasi.


"Dok... Bagaimana Kak Dee?"


"Kita berdo'a saja, semoga ada keajaiban menghampiri nya, By. Kondisi nya sangat lemah sekarang,"


"Kenapa Dokter tidak memberitahu saya? Dokter tahu, saya perawat pribadi nya,"


"Saya sangat tahu, dan saya juga tahu Kalau kamu itu, Madu pilihan Diana. Diana ngga ingin kamu stres,"


"Tapi sekarang, saya benar-benar stres, Dok."


"Sabar, By."


.


.


.


Tiga hari berlalu, belum ada perubahan dari Diana. Masih tetap diam dan tertidur pulas.


Rubby nyaris tak pernah pulang. Ia menginap di Rumah sakit menemani Diana dan merawatnya dengan baik. Segala cara Ia coba untuk membangun kan Diana, dari merayu, hingga memarahi nya. Namun, tak ada hasil.


Aledra datang bersama Thomas dan Rara. Edra membujuk Rubby untuk pulang sebentar dan istirahat, namun Rubby tak mau. Dia kekeuh dengan pendirian nya untuk merawat Diana.


"By... Pulanglah sebentar, kamu lelah." bujuk Edra.


"Engga... Kalau Mas capek, Mas aja yang pulang," balas Rubby.


"Keras kepalamu itu baik sayang, namun biar bagaimana pun, kamu perlu istirahat."


"Mas... By, engga...."


Brugh! Rubby terjatuh pingsan. Untungnya, Edra tepar disamping dan menangkapnya.


"By... By bangun sayang, Ya Allah."


"Mas... Bawa Rubby keruang Dokter... Diana biar kamu yang jaga,"


Aledra mengangguk, dan menggendong Rubby, lalu berlari membawa nya keruang dokter.


"Dok... Tolong istri saya," pinta Edra dengan cemas.


"Baik... Silahkan baringkan disini, Pan. Biar kami periksa,"


Edra menuruti semua perintah Dokter, dan menidurkan Rubby dibrankar.


Setelah beberapa lama, Dokter mengajak Edra untuk berbicara Empat mata.


"Pak... Maaf, Ibu apa sudah telat haid?"


"Hah... Saya kurang faham, Dok. Kenapa?"


"Saya rasa... Ibu sedang mengandung, kemungkinan sudah Lima Minggu."


"Hah.... Benarkah? Tapi, tak pernah ada tanda-tanda atau keluhan dalam tubuhnya. Bahkan, Rubby baru saja melakukan perjalanan jauh."


"Ya... Itu berarti, kandungan Ibu termasuk kuat, Pak. Nanti, jika Ibu bangun, tolong bujuk agar melakukan test urine ya,"

__ADS_1


"Iya Dok... Baik," jawab Edra dengan antusias.


__ADS_2