MADU PILIHAN ISTRIKU (RUBBY)

MADU PILIHAN ISTRIKU (RUBBY)
Kedatangan Bapak


__ADS_3

Malam berganti pagi, seperti biasa ku lakukan tugasku pada Kak diana. Namun hari ini perasaan ku sedikit lebih ceria karena bapak dan Ibu akan segera datang kemari.


"By, sudah tak sabar bertemu orang tuamu?" Tanya Kak diana.


"Iya Kak. By udha setengah tahun disini dan belum pernah pulang buat jenguk mereka. Bukan karna jauh dan ongkos, melainkan By belum siap untuk bertemu mereka yang disana.".


"Iya By, ngga terasa sudah setengah tahun kamu merawat saya."


Sedang asyik kami mengobrol, Pak edra keluar dari kamar dan berpamitan kekantor.


"Dee, tolong dasi ku sebentar, susah sekali dari tadi." Pinta nya.


"Mas, aku masih susah berdiri biar By saja yang melakukan nya." Jawab Kak diana yang membuat ku begitu terkejut.


"Kak, By ngga bisa. By sama Pak edra kan belum menikah, kami belum muhrim." Ucapku padanya.


"By, kan hanya tinggal selangkah lagi. Dan kamu harus terbiasa memanggil nya Mas edra, masa suami dipanggil Bapak." Ledeknya padaku.


Kak diana terus merayu ku agar memasangkan dasi itu meskipun beberapa kali aku menolak nya.


"Udah lah Dee, ngga papa. Biar nanti dipasang dikantor aja." Balas Pak edra saat itu.


"By... Ayo." Bujuk nya lagi.


Akhirnya aku berdiri dan mulai memasangkan dasi itu dengan perasaan yang tak karuan. Jantung ku berdebar kencang, tubuhku bergetar hebat, peluh ku pun terjatuh dengan derasnya.


"Udah Pak, eh Mas." Ucap ku gugup.


"Makasih ya, oh iya Saya pamit dulu. Beritahu jika orang tua mu sudah datang, maka aku akan pulang mememui mereka." Ucap nya padaku.


"Iya." Balasku singkat.


Pak edra pun akhitnya pergi menuju kantornya dan meninggalkan aku dan Kak diana dirumah.


"Belum dipakai kalung dari Kakak By?" Tanya nya padaku.


"Belum Kak, kalungnya kebagusan kalau dipake sehari-hari. Ntar aja kalau ada acara gitu kan, baru dipakak."

__ADS_1


"Owh... Okelah. Sekarang kamu siapin kamat buay Ibu Bapak mu ya. Kakak ngga bisa bantuin masih lemes banget soalnya."


"Iya kak ngga papa, By permisi dulu ya." Ucap ku dan segera kembali untuk menyiapkan kamar untuk Bapak dan Ibu.


Aku menuju ke dapur untuk meminta sprai baru pada Bi Inah.


"Bi, mau minta spray bersih dong." Pinta ku.


"Eh By, kamu pakai jampi-jampi apa. Ke Tuan sama Nyonya sampai mereka bertekuk lutut gitu sama kamu." Tanya Bi Nunik padaku.


"Maksudnya Bi? By ngga ngerti."


"Jangan pura-pura lugu By. Tuan dan Nyonya itu adalah orang yang punya pendirian teguh yang ngga akan bisa dipengaruhi oleh siapapun. Tapi sejak ada kamu disini, kenapa mereka seolah menjadi lembek."


"Bi Nunik, maaf By ngga tahu maksudnya. By mau menikah dengan Bapak karna mau nya Ibu. By hanya nurut aja biar Ibu seneng Bi." Jawabku.


"Heleeh By, By. Cuma nurut tapi kamu senengkan. Bakalan dapet suami orang kaya, konglomerat, ganteng dan sempurna. Munafik kamu By. Kita ini cuma Babu disini jangan ngarep berlebihan. Toh kamu nanti juga cuma jadi istri kedua kan." Ujar Bi nunik yang semakin sarkas padaku.


" Nik, ngomong apa kamu? " Sahut Bi inah dari belakang.


"Cuma mau ngasih tahu dia supaya sadar diri Bi." Jawab Bi nunik Menunduk kan kepala.


"Iya Bi, maaf. Nik kan cuma ngasi tahu supaya Rubby tetep sadar diri disini bagaimana posisi dia sebagai istri kedua Tuan."


"Ngga usah menasehati orang Nik. Biar itu menjadi urusan Rubby. Sekarang kamu bantu dia berberes kamar dan ingat, jangan banyak bicara."


"Iya Bi Inah maaf." Sesal Bi nunik.


"By, jangan dengerin Nunik ya. Dia emang begitu." Ujar bi inah.


"Iya bi, tapi sakit juga digituin."


"Sabar By, kamu harus tetep semangat. Calon penganten mgga boleh sedih. Eh iya, bagaimana Orang tua mu?"


"Sebentar lagi mereka sampai Bi."


"Baik lah, Bibi akan siapin makanan buat mereka, nanti pas dateng kan pas jam makan siang toh."

__ADS_1


"Iya Bi makasih ya."


Aku kembali ke kamar dan menunggu Bapak dan Ibu ku sampai, yang hanya tinggal setengah jam lagi.


Ku ambil kembali foto Bang bagas yang kusimpan dilaci.


"Bang, By minta do'a restu nya ya Bang. By bentar lagi mau nikah, meskipun itu pernikahan yang hanya untuk membuat Kak Dee senang tapi bagi By itu adalah sesuatu yang sakral dan bukan main-main. Semoga dengan pernikahan ini, By bisa move on dari Abang."


Ku dengar suara mobil berhenti di luar, dan ku itip dari jendela kamarku ternyata Bapak, Ibu dan Bang halim telah tiba.


Dengan begitu bahagia ku hampiri mereka diluar dan menyambutnya.


" Waaah Pak... Ini rumah atau istana Pak, bahkan rumah Bu lurah yang terbesar dikampung kita saja tak sebesar ini." Gumam Ibu.


"Katanya, calon suami Rubby itu adalah seorang konglomerat Bude." Ujar Bang halim.


"Ibu, Bapak...!" Teriak ku menghampiri dan menyalami mereka semua.


"By baik Nak?" Tanya Ibu.


"Seperti yang Ibu lihat." Jawabku.


"Mana calon suami mu By.?" Tanya Bapak.


"Masih dikantor Pak, sebentar lagi pulang."


"Calon mertuanya datang tak disambut, justru ditinggal kekantor." Gumam Bapak.


"Pakde, Pak Aledra itu adalah orang yang begitu sibuk dengan perusahaan yang besar beserta anak cabang nya diberbagai tempat. Wajar saja jika Ia begitu sibuk." Ucap Bang halim menenangkan.


"Baik lah Lim... Kamu memang lebih faham soal itu. Ayo kita masuk, Bapak lelah."


Aku menggandeng Bapak dan Ibu masuk kerumah dan menuju kamar mereka. Dan ternyata Kak diana pun ikut keluar untuk menyambut diruang tamu.


"By, mereka sudah datang?"


"Iya kak, ini perkenalkan Bapak, Ibu. Dan Bang Halim sepupu By."

__ADS_1


"Iya pak, perkenalkan, saya Diana Istri Mas Aledra." Ucap Kak diana.


"Ini istri nya By, kenapa bisa anda meminta suami anda menikahi anak saya?" Tanya Bapak dengan nada kurang senang.


__ADS_2