
"Iya, Bu Indah." jawab Ku, lirih.
"Bu... Istri kedua bukan berarti pelakor, karna memang saya yang meminta agar mereka menikah, karna ada alasan tertentu." lanjut Kak Dee.
"Iya, Bu. Saya percaya dan yakin, jika Rubby bukan gadis yang bisa merusak rumah tangga orang seenaknya." balas Bu indah.
"Iya... Dan keluarga kami tak rusak, tak bermasalah. Justru karna kehadiran Rubby ditengah-tengah kami, justru keluarga kami semakin ceria,"
Aku hanya menunduk diam mendengar ucapan Kak Dee. Aku bukan tak tahu harus bilang apa, tapi hanya ingin segera pulang kerumah dan menemui Ibu. Aku takut, jika Ibu syok atau bahkan Bu lurah sudah kesana untuk memaki Ku, dihadapan Ibu.
" Bu... Tolong bersihkan nama Rubby. Saya tahu persis, jika Bu lurah sudah berbicara, maka akan ada yang begitu sakit hati karna lidahnya." pinta Bu Indah pada Kak Dee.
"Baik lah, itu memang tugas saya. Terimakasih, Bu," ucap Kak Dee, lalu menggandengku untuk pulang.
Diatas motor, Kak Dee memeluk ku erat, untuk menyabarkan hatiku.
"Kamu, sedih By?"
"By bukan sedih karna dijadikan bahan gibah, Kak. By sudah kebal mendengarnya. By hanya takut jika Bu lurah menghampiri Ibu dirumah. Dan bicara dengan penuh tambahan fitnah." balas Ku.
"Iya... Kamu tenang saja, Kakak yang akan bicara nanti." ucap Nya, menenangkan ku.
Dan benar saja, saat aku tiba dirumah. Bu lurah dan beberapa anteknya sudah datang, plus dengan semua warga yang ingin menyaksilan perdebatan tersebut.
Aku masuk perlahan, dan samar-samar ku dengar suara Bu lurah yang menggelegar bak memecah bumi.
"Emang kan saya udah bilang, kalau anak mu itu bawa sial, Bu Lilis. Masa gara-gara gagal nikah dikampung, Dia nekat ngerebut suami orang dikota. Majikan nya lagi, ngga bener lama-lama anak mu itu."
Ku lihat Ibu duduk termenung, menahan bulir-bulir air mata kekesalan. Kepalanya tertunduk lemas, lidahnya kaku tak mampu berucap.
"Kenpa diam? Benar kan kataku kalau Anakmu itu pelakor. Kalau tidak, mana mau dia nikah sama suami orang, " lanjut Bu lurah dengan sombongnya.
"Siapa pelakor?" tanya Kak Dee.
"Itulah, si Rubby. Minggat kekota menghindari anak ku yang bujangan, lalu jadi Babu dan ngerebut suami majikan nya," jawab Bu Lurah, dengan percaya diri yang begitu tinggi.
Aku mendatangi Ibu dan memeluknya erat, berusaha menabahkan hatinya. Sedangkan Bapak, sedang kekota bersama Bang halim.
__ADS_1
"Ibu, pernah bertemu dengan saya 'kan? " tanya Kak Dee.
" Anda itu majikan Rubby kan?"
"Ya... Betul. Dan jika Rubby itu pelakor dalam rumah tangga saya, apakah saya bisa sedekat ini dengan nya? Bukan kah harus nya saya ikut memaki Rubby, seperti yang Ibu lakukan?"
Ku lihat para penyimak menganggukan kepala, membenarkan perkataan Kak Dee saat itu, dan membuat Bu lurah kesal.
"Bu... Anda tidak tahu apa-apa. Kenapa harus berbicara sejauh ini? Bukan kah lebih baik, Ibu tanyakan dulu kebenaran nya?"
"Menjadi orang ketiga dalam rumah tangga seseorang itu, namanya pelakor."
"Tapi rumah tangga saya tidak rusak, Kami justru lebih bahagia sejak kehadiran By bersama kami," jawab Kak Dee lagi.
"Wanita macam apa kamu, bisa-bisanya. Tenang saat suami mu menikah lagi, dengan pembantu mu?"
"Karna saya yang meminta mereka untuk menikah!" balas Kak Dee.
Semua yang mendengar pernyataan itu, seketika terkejut.
"Iya... Saya yang meminta mereka menikah, dan alasanya tak perlu kalian tahu. Sudah jelas?"
"Wanita goblok... Suami disuruh nikah lagi," ujar Bu lurah.
"Anda bisa bilang saya goblok, berarti anda belum tahu, arti kegoblokan sebenarnya. Yaitu, saat anda tidak tahu apa-apa, tapi anda sudah menyebar gosip yang tidak-tidak. Anda tahu, semua bisa saya perkarakan dengan mudah," ujar Kak Dee, dengan menatap Bu lurah dengan tajam.
"Jangan macam-macam anda, saya istri Lurah disini. "
" Wah... Justru itu bagus, karna akan semakin mudah membuatnya hilang jabatan, dan membuat anda tidak akan sesombong sekarang, " senyum Kak Dee, mengambang. Tapi, aku melihat sepertinya Ia sedang menahan sesuatu.
" Apa Kak Dee sesak? " Batin ku.
Untungnya, setelah mendengarkan ucapan Kak Dee, Bu lurah dan para anteknya segera kabur dan pergi dari rumah.
Kak Dee, menjatuhkan badan nya disofa, memegangi dadanya karna sesak. Segera ku ambilkan inhaller nya dikantongku.
" Kak... Hirup dulu dalam-dalam," ucap Ku.
__ADS_1
"Nafas ini, semakin sering sesak sekarang," lirih Kak Dee.
Ibu bergegas kedapur, dan kulihat mengambilkan sesuatu untuk Kak De.
"Dee... Minum ini, ramuan keluarga untuk mengobati sesak," ucap Ibu, dengan memberikan segelas minuman.
Kak Dee, dengan antusias meminumnya dan segera Ia habiskan.
"Enak dan segar Bu, Dee suka. Boleh bagi resepnya untuk dirumah besok? Biar By yang buatkan?"
"Iya, Bu. By lupa kalau dulu Ibu sering buat jamu-jamuan," ucap Ku.
"Aman, Ibu juga lupa kemaren waktu kamu nelpon. Sebenarnya... Sejak kepulangan kami kekota, Bu lurah memang sudah sering membuly keluarga kita, By. Apalagi, Halim pulang dengan membawa mobil baru,"
"Membully seperti apa, Bu?" tanya Kak Dee.
"Mereka menuduh kami yang tidak-tidak. Ya, maklum saja, keluarga kami ini keluarga sederhana. Untuk membeli motor By saja, Ia menyicilnya sendiri."
"Tapi, Ibu kuat dengan semua bulian itu 'kan?"
"Insyaallah kuat. Karna kan mereka tak tahu yang sebenarnya bagaimana, maka mereka bisa membuat omongan seperti itu. Terlebih lagi, kita tahu benar, watak Bu lurah."
" Bagus... Saya suka itu, dan mari kita buat mereka semakin terbakar api amarah, By."
"Hah... Dengan apa, Kak?" tanya Ku heran.
"Kakak sudah pesan kan mobil baru buat Halim, dia perlu armada 'kan untuk memajukan usahanya?"
"Ya Allah Kak, ngga usah. Nanti malah dikira keluarga ini hanya ingin memanfaatkan Kakak saja,"
"Tidak, karna saya pun memanfaatkan Kamu, By. Kita semua saling memanfaatkan. Hanya sebuah mobil, tak akan membuat saya miskin seketika. Justru, saya lebih bisa merasa cukup, karna sudah membantu keluarha saya sendiri. Kamu tahu 'kan, saya tidak punya keluarga lain selain keluargamu dan Mas Edra? "
" Iya... Kak, terimakasih. "
Aku dan Ibu, menghampirinya, dan kami saling berpelukan erat.
"Anggap saja, ini sebagai hadiah dariku, yang membuat kalian tersikasa kalian tersiksa karna keinginan ku."
__ADS_1