MADU PILIHAN ISTRIKU (RUBBY)

MADU PILIHAN ISTRIKU (RUBBY)
Akal bulus


__ADS_3

POV AUTHOR


Tanpa Edra dan Rubby duga, rekan bisnis Edra yang bernama Rara menelpon diana dirumahnya, dan memnmberi tahu semua yang terjadi dipesta tadi.


"Hallo... Dee,"


"Iya, Ra... Ada apa?"


"Dee, maaf sebelum nya harus memberi tahu ini. Tapi, mertua dan beberapa rekan lain membully Rubby malam ini."


"Apa... Membully bagaimana?"


Akhirnya Rara menceritakan semua yang terjadi tadi secara detail kepada Diana.


"Ya Allah. Terimakasih sudah memberi tahu Ku, Ra."


"Iya, Dee. Kamu yang sehat, ya. Jaga emosi mu. Aku tahu, kamu begitu menyayangi mereka,"


"Iya, sekali lagi terimakasih," balas Diana, lalu menutup telpon nya.


Diana yang dipenuhi emosi, menggenggam hp nya erat dan merencana kan sesuatu dalam fikiran nya.


"Apa Mama tahu tentang jangan menyentuh Rubby, Ma? Mama sudah melewati batasan itu. Maaf, Mama harus diberi peringatan."


Diana menelpon pengacara nya, dan membicarakan sebuah rencana untuk memberi Mertuanya sedikit pelajaran.


"Hallo... Malik, sudah saat nya, rencana itu dilaksanakan."


"Baik... Nyonya,"


Diana yang sudah mulai tenang, akhirnya menutup telpon dan tidur kembali.


Biarkan Mas Edra bersama By malam ini. Semoga saja, dengan seringnya mereka bersama, akan mempercepat mereka memiliki keturunan.


sementara Diana yang sudah tertidur pulas, Edra dan Rubby baru saja kembali dari perjalanan mereka. didalam mobil, Rubby sibuk membersihkan make up nya, agar Diana tak curiga dengan wajahnya yang sembab.


"Kenapa, By?" tanya Edra.


"Rapiin make up, Mas. Nanti Kak Dee tahu kalau By abis nangis bisa marah Dia,"


"Percuma, By. Kakak mu sudah tahu,"


Rubby terkejut, dan menghentikan semua aktifitasnya.


"Bagaimana bisa tahu, Mas?"


"Rara, adalah sahabat baik nya." 


"Lalu... Gimana, Mas?"


"Kita lihat saja besok...." ucap Edra tenang.


Mereka turun dari mobil dan masuk kerumah. Rubby mencari Diana dikamarnya, namun kamar itu sudah terkunci.

__ADS_1


"Kakak sudah tidur,Kak?" tanya Rubby dari luar. Namun, tak ada jawaban.


"By... Dia sudah tidur, " sahut Edra.


"Jadi... Mas tidur sama By?" tanya Nya malu-malu.


"By mau suruh Mas tiidur disofa?"


"Hehe... Engga," jawab Nya senyum, lalu menggandeng suaminya masuk kekamar.


Pov Rubby.


Malam ini, Mas Edra tidur bersama ku. Kami menghabiskan malam yang indah itu berdua. AKu bahagia, meskipun mungkin hati ku masih sakit karna kejadian dipesta semalam. Tapi aku berusaha melupakan nya.


Pagi nya, Aku bangun dan langsung menuju Kamar Kak Dee, untuk memberi nya obat. Dan ternyata, kamarnya sudah tak terkunci.


"Kak... Udah bangun?" panggi Ku.


"Udah, By. Udan mandi juga." jawab Kak Dee, yang sudah berdandan rapi.


"Kakak mau kemana?"


"Mau kedokte, minta persediaan obat. kan kita mau kekampung, lupa ya?"


"Inget sih, tapi By ngga tahu kapan berangkatnya. Kakak mau secepatnya?" tanya Ku, dengan mempersiapkan beberapa obat. "Ini, Kak, minum dulu obatnya."


Kak Dee pun langsung menerima obat dariku, dan meminumnya.


"Sendirian ajalah, Kakak sehat kok. By siapin aja apa yang mau dibawa nanti, kita dianter Pak ujang," balas Nya, antusias.


Aku diam melihat tingkahnya yang aneh hari ini. Begitu bersemangat, meskipun aku suka. Tapi, Kak Dee seperti menyembunyikan sesuatu dari Ku.


Aku mengajak Kak Dee keruang makan, untuk sarapan bersama, dan disana sudah menunggu Mas Edra. Mas Edra pun terkejut, melihat penampilan Kak Dee hari ini.


"Dee... Mau kemana? Tumben rapi,"


"Mau ke dokter, Mas. Mau minta beberapa bekal vitamin. Kan mau ke kampun Rubby," jawab Kak Dee, santai.


"Kapan emangnya, berangkat?"


"Nanti siang," jawab Kak Dee, sambil makan.


Uhuukkk! Uhuuuk!


Mas Edra terbatuk, mendengar perkataan Kak Dee.


"Mas, minum dulu," ucap Ku. Sambil memberikan minum untuk nya.


"Kenapa haru hari ini? Kondisimu masih lemah, dan kesana membutuhkan waktu yang panjang, Dee."


"Dee sehat, Mas. Lihat sekarang,"


"Oke lah... Kalau begitu, aku hanya bisa memberi kalian restu. By, jaga Kakak mu baik-baik, ya." pesan Mas Edra pada ku.

__ADS_1


"Iya, Mas."


"Oke... Dee pamit ya, mas,"


Kak Dee, mencium tangan Mas Edra, lalu pergi.


Pov Diana.


"Maaf Mas, Dee harus bohong. Dee harus kekantor Dee hari ini, untuk mengurus Mama." lirih Ku, didalam mobil.


Aku sebenarnya mempunyai sebuah perusahaan yang sedang berkembang, dan perusahaan itu diurus oleh Thomas, suami dari Rara, sahabat terdekatku.


Kau tidak menyembunyi kan nya dari siapapun, karna Mas Edra pun tahu semuanya. Dari perusahaan ku itu, aku mencukupi semua keinginan mertuaku, dari membantu nafkah nya, membelikan nya perhiasan, dan barang mewah lain nya.


Mertuaku itu memabg selalu bersikap anggun dan tenag. Tapi dibalik semuanya, tersimpan sebuah sifat yang begitu bisa menyakitkan orang lain, bahkan bisa membunuh secara perlahan. Untungnya saja, Ia menyayangi anak nya itu dengan tulus.


Sesampai nya dikantor. Aku menemui Thomas, dan menanyakan semua tugas yang aku perintahkan.


"Bagaimana?"


"Sudah selesai, tinggal menunggu kedatangan nya kemari," jawab Thomas.


Aku masuk keruang kerja ku, dan menunggu tamu spesial ku datang.


"Diana... Apa maksudmu dengan semua ini?" tanya Mama Mirna. Tamu spesial yang ku tunggu.


"Bagiamana, Mama suka?"


"Kenapa kamu melakukan ini sama Mama?"


"Kenapa Mama melanggar batasan yang sudah Dee peringatkan? Pahamkah Mama, dengan batasan untuk tidak menyentuh Rubby?"


"Mama hanya sedikit memperingatkan nya, begitu juga yang lain, bukan hanya Mama,"


"Ma, semua yang Mama minta, sudah Dee berikan. Tapi, kenapa satu saja permintaan Dee, Mama tidak bisa menyanggupi?"


"Mama sudha bilang, Mama ngga suka sama Dia. Mama maunya Edra sama Maya."


"Demi apa, Ma? Demi harta?" tanya Ku, santai.


"Mama ngga pernah ngincar harta sayang, Mama tulus."


"Kenapa harus Maya?"


"Karna Mama kenal keluarganya, mereka baik, dan keluarga nya jelas."


"Bukan karna Dia keponakan Mama?"


"Apa, maksud kamu?"


"Ya, karna dia itu keponakan Mama, jadi Mama bisa menyetirnya dengan leluasa. Dengan mereka menikah, dan memiliki keturunan, maka Mama berharap, agar suatu saat semua harta keluarga Mas Edra, jatuh ketangan keluarga besar kalian? Benar Kan?"


Wajah Mama Mirna mulai tegang, seolah bingung akan menjawab apa. Yang jelas, semua akal bulusnya, sudah ku ketahui sejak awal. Tapi, aku sesantai mungkin menyembunyikan nya.

__ADS_1


__ADS_2