
Esoknya, Rubby sudah diperbolehkan untuk belajar berjalan, langkah demi langkah Ia tapaki, agar bisa diperbolehkan lekas pulang.
"Mas... Mau lihat Bayi kita, boleh?" tanya Rubby.
"Boleh, tapi pakai kursi roda dulu, ya?" ucap edra, lalu menyiapkan kursinya.
Dengan. santai, edra mendorong Rubby menuju ruangan bayi, untuk melihat putri mereka.
"Mas... Ma'af, ya. By ngga bisa menyusui anak kita yang sekarang, Karna keada'an. Padahal, By pengen seperti yang lainnya, ASI eksklusif."
"Iya, ngga apa-apa, sama saja kan? Yang penting sehat. Mau dikasih nama siapa bungsu kita ini? Eh, bungsu kan? Ngga ada lagi nanti?" tanya edra.
"Emang boleh satu lagi?"
"Jangan By, cukup, ini yang terakhir. Bisa mati berdiri, Mas nanti."
"Kan, banyak anak banyak rejeki, Mas." jawab Rubby.
Edra menghentikan langkahnya, lalu bersimpuh dihadapan Rubby.
"Jika seperti itu, biarlah, rezeki kita terhenti sampai disini. Karna Mas ngga mau, jika By sakit lagi. Mas juga sakit,"
"Yaudah... Cukup menjadi putri tunggal kita berarti."
"Iya... Cukup satu saja." jawab edra, meyakinkan.
Edra kembali mendorong Rubby berjalan dengan pelan.
"By ketemu Kakak kemarin,"
"Hah? Lalu?"
"By pengen peluk, ngga boleh. Pengen ikut dimarahin."
"Biarpun sudah berbeda, tapi masih bisa marahin, By." balas edra, dengan tawa renyahnya.
"Ish...seneng gitu, kalau By dimarahin Kakak?"
"Ya senenglah. Kalau nggga dimarahin berarti By ikut Kakak, dan ngga akan bangun." jawab edra.
"Oh, iya ya..."
Edra menghentikan langkah nya didepan sebuah ruangan, dan membantu Rubby memakai sebuah pakaian hijau, agar bisa masuk ke ruangan Bayi. Lalu mereka masuk, atas izin perawat jaga disana.
Rubby menatap bayi mungilnya yang sedang usil dengan semua gerakannya, membuat By gemas ingim segera menggendong si kecil.
__ADS_1
"Mba... Boleh minta tolong ambilkan Bayi saya? Boleh gendong sebentar 'kan?" tanya Rubby.
"Oh, boleh Bu. Sebentar, ya." ucap sang perawat, lalu membuka jendela incubator, dan memberikan bayi tersebut pada Rubby.
"Hai, sayang. Bagaimana kabarnya, Nak? Ma'af, Ibu baru bisa menjenguk, dan menggendongmu. Ternyata, kamu begitu cantik sayang. Terimakasih telah hadir dalam kehidupan kami, dan menjadi pelengkap dukeluarga kita. ISYANA TUNGGA DEWI."
"Itu... Namanya?" tanya edra.
"Iya... Ngga papa kan, Mas?"
"Ngga papa, cantik namanya. Hay, Isyana..." sapa edra pada putrinya itu.
Pov Rubby.
Akhirnya apa yang ku inginkan terwujud, meski harus sesakit ini untuk mendapatkanya. Tak apa, sesuai dengan apa yang ku dapat. Bayi kecil, nan cantik, yang menurutku mirip dengan Kak Dee, karna aku sempat melihat fotonya sewaktu kecil, dulu.
"Semoga kamu menjadi peggantinya dihati Ibu, Nak. Yang tak hanya menjadi anak kesayangan, tapi menjadi sahabat juga bagi Ibu nantinya." bisik Rubby, dengan bulir airmata yang menetes dipipi.
"By, sudah dulu, ya. Kasihan, kalau By nangis, nanti Nana ikut nangis." bujuk Mas edra padaku.
Aku menurutinya, lalu ku berikan Nanna kepada perawatnya kembali.
"Ibu, sudah sehat?" tanya perawat itu padaku.
"Dokter anak ingin bertemu. Mari, saya antar." ajaknya padaku dan Mas edra.
Jantungku berdegup kencang, rasa khawatir mulai menyelimuti.
"Apa yang terjadi pada Nanaku?" batinku.
Tiba diruangan Dokter, Mas edra duduk diampingku, menggenggam tanganku, agar tak terlalu panik.
"Ada apa memanggl kami, dok?" tanya Mas edra.
"Begini... Mohon ma'af sebelumnya, jika kami telat memberitahu, karna keada'an kemarin. Jadi, kami takut justru memperparah keada'an Ibu."
"A-ada apa sebenarnya, dok?" tanyaku.
"Begini, kami mengindikasi adanya kelainan jantung bawa'an, karna kemarin, anak Ibu sempat terserang sianosis. Tapi... Kami masih akan memeriksanya lebih lanjut."
"Astaghfirullah... Tapi, itu tidak disebabkan karna benturan ketika saya jatuh kan, Dok?" tanyaku.
"Hmmm, Apakah, dalam keluarga salah satu dari kalian, ada yang mempunyai kelainan jantung?"
"Setahu saya, tidak, dok." jawab Mas edra.
__ADS_1
"Baiklah, mungkin dikarnakan, bayi lahir kurang bulan. Jadi, izinkan kami untuk mengobservasinya lebih lanjut, agar bisa segera ditangani."
"Baiklah, lakukan yang terbaik untuk bayi kami, dok." pinta Mas edra. Sedang aku, hanya bisa terdiam mematung, tanpa tahu harus menjawab apa.
Mas edra kembali mendorongku untun kembali keruangan, dan membantuku berbaring diranjang. Aku syok sa'at ini, karna dari ke Empat anak yang lain, tak ada satupun yang pernah dirawat seperti ini. AKu hanya diam, melamun, dan seolah hatiku menyesali semua keada'an ini.
Pov Edra
"Jangan cemas. Dokter pasti akan melakukan yang terbaik untuk Nana kita, apalgi nana masih bayi, jadi lebih baik segera ditangani." ucapku padanya.
"Setenang -tenangnya seorang ibu, pasti khawatir juga, dengan keada'am bayinya yang seperti itu, Mas. Terlebih lagi, By ngga bisa memberi ASI pada Nana. Harusnya itu bisa membantu mempertebal sistem imunnya." sesalnya.
AKu mengusap rambutnya, dan menggenggam tanganya erat.
"By.... tak ada yang tahu, apa yang akan terjadi pada kita esok hari. Bahkan, untuk beberapa menit kemudian." Pantas saja, Ia jarang sekali menagis dengan kencang. Padahal, aku begitu mengharapkanya untuk memancing Rubby bangun dengan tangisanya.
"Coba, Mas fikir lagi. Adakah diantara keluarga Mas, ada yang menderita enyakit jantung?"
"Tidak ada , sayang... Jantung kami sehat, dan Papa dulu meninggal karna alergi dan komplikasi. Bukan karna jantung bawa'an. Lagipula, itu baru diagnosa awal bukan?"
Rubby sedikit terlihat tenang dengan perkata'anku, meski aku sebenarnya thu, jika Ia lebih faham tentang kasus ini.
Kreeek! Pintu ruangan terbuka.
Kulihat Maliq masuk bersama Neneknya,. Dengan raut wajah bahagia, Ia menghampiriku dan Ibunya yang sedang istirahat.
"Bu, Maliq kangen........" ucapnya, dengan bulir air mata yang tertahan.
"Ibu juga kangen Maliq, sayang. Bagaimana dengan adik-adikmu?"
"Mereka baik, hanya saja sering bertanya tentang Ibu. Tapi tidak rewel, karna dirumah ramai." jawab Maliq.
"Sekolahnya, bagaimana?"
"Baik, kami tidak pernah izin. Nilai Maliq, Bram, dan kembar, semuanya bagus. Ibu mau lihat? Tapi, Maliq lupa bawa." sesalnya.
"Tak apa, Ibu cukup dengan berita dari Maliq, ibu sudah bangga. Terimakasih ya, nak. sudah menjaga adik-adikmu selagi ibu dirawat."
Mereka saling berpelukan dengan kerinduan yang begitu dalam. aku hanya menatapnya haru, dan membiarkan mereka saling melepas rindu. dan saling bersenda gurau, bertanya apa yang mereka lakukan selama kami tak ada dirumah.
"Setidaknya, kedatangan Maliq bisa membuatnya lupa untuk sementara, tentang semua kepedihan, dan kekhawatiran yang sedang Ia rasakan sekarang, mengenai kesehatan isyana."
"By, Mas kekantor sebentar, ya. Nanti gantian lagi disini,"
"Iya, sampaikan salam By pada yang lain ya, Mas. Terimakasih, pada semua yang sudah mendonorkan darahnya buat By."
__ADS_1