
Pov Auhor.
Seharian Maliq menemani sang ibu,
menyuapinya ketika makan, dan membantu menyisir rambut ibunya, sedangkan Sang nenek menengok Bayi isyana yang sedang menangis diruanganya.
Rubby menatap haru, pada sang putra yang begitu mampu memberi perhatian padanya.
"Maliq..."
"Ya, Bu?"
"Maliq senang punya adik lagi?"
"Maliq senang, tapi kalau punya adik harus membuat ibu sakit. Ngga uda lagi, ya. Cukup dengan Empat adik saja."
"Iya, sudah cukup." jawab Rubby.
Maliq membaring kan tubuh Ibunya, lalu Ia tinggalkan duduk disofa. Dibuka tasnya, lalu mengeluarkan beberapa buku pelajaran.
"Ibu tidur aja, Maliq mau belajar dulu. Nanti kalau ada apa-apa, panggil aja." ujar Maliq.
Rubby hanya mengangguk, dan tersenyum dan mulai memejamkan matanya.
Tak ada mimpi kali ini, hanya lelap yang begitu tenang. Tanpa suara bising yang memekakan telinganya. Begitu damai, hingga beberapa jam berlalu.
"By, bangun sayang." Bu lilis membangunkannya dengan sedikit panik.
"Iya, kenapa Bu?"
"Bayimu, Bayimu, sesak bahkan dokter bilang gagal nafas." ucap Bu lilis.
Rubby seketika terbangung, dan tanpa memikirkan luka bekas operasinya, Ia berjalan menuju ruangan Bayinya.
"Bu... Ibu jangan jalan, Maliq cari kursi rodanya sebentar." teriak Maliq, namun tak dihiraukanya.
"Maliq telpon ayah pakai hp nenek. Biar nenek yang mencari kursi rodanya." ujar Bu lilis, dengan memberikan Hpnya.
Maliq dengan cepat meraih Hpnya, lalu menelpon sang ayah.
"Hallo, Ayah. Ke Rumah Sakit sekarang, yah. Adek Nana.... Adek nanan sakit." ucap Maliq.
__ADS_1
"Ya Allah... Jaga Ibu, Ayah segera kesana. Jangab sampai Ibu pingsan."
"Iya, yah." jawab Maliq, lalu berlari mengejar Ibunya.
"Bu... Biar Maliq pegangi tanganya. Jangan cepat-cepat, kata ayah kasihan lukanya." ucap Maliq, sambil menggenggam erat tangan Sang Ibu.
Rubby menangis, dan mengusap kepala sulungnya. Lalu mereka berjalan bersama menuju ruang Bayi.
Sesekali Ia berhanti, karna luka yang belum mengering itu kembali terasa nyeri dan begitu sakit, karna pengaruh dari stresnya.
Sementara diruang Bayi sedang dalam keada'an tegang karna memberikan pertolongan pada bayi isyana yang dalam masa kritis.
Monitoring terpasang, Dokter sesekali memacu jantungnya dengan memijat ringan bagian dada bayi itu.
"Suster, siapkan Ambu Bag. (Alat untuk memompa pernafasan bayi.)"
"Siap, Dok." jawab perawat tersebut.
Mereka bahu membahu mencoba menyelamatkan sang bayi dalam Masa kritisnya.
Bayi isyana belum menunjukan perubahan dan pergerakan sekali, justru tubuhnya seamakin terlihat membiru. Tangis pun tak bisa Ia keluarkan karna kondisinya yang lemah.
Rubby menangis pilu, memegangi dadanya yang sesak, bersama Maliq, yang juga merasakan kekhawatiran meskipun belum mengerti apa yang terjadi sebenarnya.
"Bu, kenapa mereka melakukan itu semua pada adek nana?" tanya Maliq.
"Mereka sedang melakukan yang terbaik buat adikmu sayang. Maliq berdo'alah, agar adik Maliq selamat dan bisa pulanh bersama Ibu." jawba Rubby, setenang mungkin.
Edra datang dengan berlari menghampiri Rubby, dan langsung memeluknya erat, hingga membuat tangis Rubby pecah dan semakin berderai air mata.
"Menangis dan berdo'alah, semoga Nana baik-baik saja." ucap edra, berusaha menenangkan, meskipun hati nya pun begitu sakit.
Rubby dibimbingnya duduk dikursi roda, dan Bu lilis mengusap punggungnya. "Sabar sayang."
Proses yang panjang, perawat bolak-balik membawa semua perlengkapan yang dibutuhkan untuk tindakan berikutnya, dengan Ambu bag yang terus dipompa oleh perawat yang lain. Dan dokter masih saja memijat dada Nana, agar jantungnya terpacu dan kembali bergerak sesuai iramanya.
Tangis Isyana begitu pelan, bahkan tak bisa terdengar oleh yang lain. Tapi terasa oleh Rubby, dan membuatnya semakin sakit.
"Kasihan Nana, Mas."
"Iya, Mas tahu. Mana Maliq?" tanya edra.
__ADS_1
"Maliq, sedang berdo'a dimushala. Katanya mau do'akan adiknya." jawab Bu lilis.
"Suster... Bolehkah saya masuk kedalam?" mohon Rubby.
"Ibu kuat? Karna didalam sedang....."
"Saya, kuat. Tolong bawa saya kedalam," pintanya dengan sangat.
Sang suster melirik edra dan Bu lilis, dan mereka mengizinkannya. Lalu Rubby dibawanya kedalam, duduk tepat disampin Incubator Nana.
"Sadar sayang, sadarlah, Ibu disini, didekat Nana." lirihnya melihat bayi yang dalam penanganan itu.
Tiba-tiba dokter menghentikan aktifitasnya, menggelengkan kepalw tanda penyesalan, dan menepuk bahu Rubby.
"Dok, apa yang terjadi? Kenapa berhenti?" tanya Rubby tanpa ekspresi.
"Ma'af," jawab Dokter.
Rubby meneteskan air mata, tatapanya kosong, "Berikan bayinya pada saya." pintanya.
Suster melirik dokter, dan dokter mempersilahkanya.
Mereka melepas semua alat yang terpasang, lalu mengeluarkan Bayi itu dan memberikanya pada Sang ibu.
Rubby menerima bayinya, digendongnya Nana, dan Ia peluk dengan erat.
"Bangun sayang, kenapa begini? Apa yang sakit, katakan pada Ibu, jangan seperti ini. Mas Maliq, Mas bram, Mas Bayu dan Mas adi, sedang menanti mu dirumah. Kamu akan menjadi putri kesayangan kami, mereka akan menjadi pengawal untuk Isyana. Isyana ngga perlu takut dengan apapun nanti. Bangin sayang," bujuk Rubby, dengan tangis yang menganak sungai.
Rubby mengusap kening hingga kepala Isyana, lalu mengecup bibirnya dengan mesra. Menarik nafas panjang, berusaha benar-benar mengikhlaskan jika memang benar-benar itu terjadi.
Edra dan Bu lilis pun demikian, menangisi keada'an mereka didalm, hingga edra terbelalak karna mendengar sesuatu yang begitu keras ditelinganya.
"Isyana? Isyana menangis dengan kencang." ucapnya, lalu memanggil para perawat untuk menanganinya kembali.
"Isyana, Kamu bangun sayang. Ya Allah..." tangis Rubby kian menjadi jadi, dengan berkali-kali mengucap rasa syukurnya ketika itu.
"Alhamdulillah, Ya Allah..... Kita akan segera bertemu dengan Mas mu dirumah, Nak." ucap Rubby, lalu memberikanya pada dokter, untuk kembali ditangani.
Do'a Maliq.
"Ya Allah, Maliq tahu kalau Maliq nakal. Tapi, Maliq janji ngga akan nakalin adik Isyana nanti. Maliq akan jadi pelindungnya, dan ngga ada yang bisa nakalin Nana, nanti. Sembuhkan Adik nana ya Allah, Maliq janji, ngga akan buat adik Nana menangis."
__ADS_1