
Pov Author.
Tiga hari dakam perawatan di Rumah Sakit, akhirnya Rubby dan Maliq pulang kerumah. Semua menyambutnya dengan suka cita. Terlebih lagi, Bu lilis dan yang lainya datang dari kampung.
"Assalamualaikum." ucap mereka bersama'an, sa'at masuk kerumah.
"Waalaikum salam... Ya Allah, Cucu Ibu sudah pulang. Sini, Nenek gendong sayang." ujar Bu lilis, meminta Maliq dari tangan Diana. Dan Diana memberikanya, lalu memapah Rubby kekamarnya.
"By laper ngga? Biar Kakak bawain makanan." tanya Diana.
"Engga... Cuma pengen minum teh manis anget. Lagian, By kan lahiran normal, jadi ngga perlu terlalu dimanja lah." ujar Rubby.
"Yaudah... Ngga pake manja-manja'an. Tapi kalau untuk hari ini, diem aja, jangan ngapa-ngapain dulu."
"Iya, Kak...." jawabnya singkat.
Diana keluar, dan menemui Bu lilis dan fitri yang sedang bahagia menimang maliq. Mereka begitu bahagia mengasuh bayi itu, sedang Rubby sedang beristirahat dikamar.
"By... Susuin Maliq dulu, laper ini." ucap Bu lilis.
"Iya, tapi masih sakit banget."
"Ngga papa, itu lumrah. Nanti kalau udah beberapa hari sembuh."
Rubby menggendong Maliq, dan mulai menyusuinya, meski harus menahan nyeri yang teramat sangat.
Dua bulan berlalu, Maliq sudah semakin lincah dan menjadi bahan mainan seisi rumah, terutama Diana yang memang sangat mencintainya. Ia bahkan rela memberikan apa saja untuk anak kesayanganya itu, hingga Maliq memiliki gelar Crazy Rich Baby dikalanganya.
"Kakak ngga boleh gitu, Maliq masih Bayi, takutnya nanti kalau udah besar, dia mau apa-apa ngga keturutan, malah jadi masalah," tegur Rubby.
" Ngga mungkin ngga keturutan 'kan. Semua tersedia disini, Apa aja Kakak berikan untuk Dia selagi Kakak masih hidup. "jawab Diana.
"Itu bisa berakibat ngga baik, Kak, Seperti itu lah penggambaran By tentang Mama mirna. Mama yang terlalu terobsesi sama anaknya."
"By... Kamu ngingetin Kakak tentang Dia? Jahat kamu."
"By ngga jahat, By hanya mengingatkan. Kak, By seneng lihat Kakak sayang Maliq, kita besarin Maliq sama-sama dengan penuh kasih sayang. Tapi, biarkan Maliq berkembang sesuai usianya. Kita ngga tahu, kedepan nya nasib kita gimana 'kan?"
Diana merenung, memijat kepalanya yang mulai berat.
__ADS_1
"Kakak sakit lagi?" tanya Rubby.
"Sakit kepalanya," lirih Diana.
Rubby langsung mengambilkan obat pereda nyeri untuk Diana, dan membantu meminumkanya.
"Kakak hanya ingin membuat Maliq bahagia, dan melihat nya tertawa, By." imbuh Diana.
"By tahu, By faham. Tapi, untuk usia Maliq yang baru Dua bulan, Ia hanya butuh perhatian kita. Belum butuh seperti apa yang Kakak berikan. Mainan dan segala macamnya itu, Maliq belum mengerti."
"Baiklah... Mupung Maliq lagi tidur, By shalat dhuhur aja dulu. Kakak mau tidur sama Maliq dikamar." ujar Diana.
Rubby menghela nafas panjang, dan menuruti perminta'an Diana. Ia bergegas ke atas, dan melaksanakan shalat dhuhur nya, dan berdzikir sebentar untuk menenangkan dirinya. Karene jujur, Ia merasa bersalah karna terlibat perdebatan dengan Diana barusan.
"Ma'afin By, Kak. Karna jujur, By hanya takut, jika Maliq akan tumbuh menjadi anak yang manja nanti. By ngga mau itu," gumamnya.
Selesai Shalat, Rubby menengok sebentar Maliq dan Bundanta yang tengah tidur pulas bersama.
"Ah... Kompaknya, biarin aja deh tidur berdua. Mau bantuin Bik inah dulu nyiapin makan siang." ucapnya, lalu kebelakang.
"Bik... Sini By bantuin,"
"Itu lagi tidur sama Bundanya. Enak banget tidurnya, jadi By ngga mau ganggu."
"By kenapa debat sama Kakak tadi?"
"Hmmm? By cuma ngingetin Kakak, agar tak terlalu memanjakan Maliq. By ngga pengen, Maliq jadi anak manja, itu aja."
"By... Ini semua takdirnya Maliq, berada dalam keluarga yang berada, disayang Ayah dan kedua bunda nya. Nasib dia baik, By. Kamu ngga bisa terlalu mengajar Dia untuk merasakan nasib yang lain."
"Hmmm... Iya sih. Tapi, By hanya ngga mau nantinya Maliq menjadi anak yang sulit diatur."
"Ya... Itu terserah By, pandangan setiap orang berbeda." jawab Bik inah.
*Maliq menangis.
"By, Maliq nangis tuh. Laper kayaknya, udah lama kan tidurnya?" tanya Bik inah.
"Iya, Bik. Tapi kok tumben, Kakak ngga langsung manggil. Biasanya kan, Maliq meringik aja, Kakak langsung tenangin, kalau ngga panggil By langsung." ujar Rubby, lalu mencuci tangan dan mengambil Maliq dari pelukan Diana.
__ADS_1
"Tidur nya enak banget Kakak, lagi mimpi indah kayaknya senyum-senyum gitu." gumam Rubby.
Setelah menyusui Maliq beberapa sa'at, Rubby menidurkanya kembali diaebelah Diana. Tapi Diana tak bergeming sedikitpun. Padahal bisanya, Ia begitu peka terhadap Maliq yang ada disampingnya.
"Kak... Bangun dulu, Kak. Shalat dhuhurnya belum," ucap Rubby, yang menggoyang tubuh Diana.
"Kak... Ayo lah, nanti telat sayang shalatnya. Biasanya paling rajin," rayu nya lagi.
Rubby merasa, ada sesuatu yang tak beres pada Diana, lalu mengecek semua tubuhnya. Detak jantung, pernafasan, suhu, hingga denyut nadi di lengan Diana. Dan Ia pun mulai cemas.
"Kak... Kakak bangun Kak... Kenapa tidurnya begini? Kak. Bangun, itu Maliq manggilin Kak!" ucap Rubby dengan air mata yang mulai menganak sungai.
"Kakak! Ya Allah, Kak, bangun. Itu Maliq nangis manggilin Kakak," teriaknya semakin kencang.
"By... Kenapa teriak-teriak?" tegur Bok inah, yang menyusul Rubby kekamar Diana.
"Bik... Kakak Bik. Kakak tidurnya ngga bangun-bangun, denyut jantungnya udah ngga kerasa, nafasnya juga udah kosong." tangis Rubby, yang dengan panik memberikan RJP pada Diana.
"By tenang, Bibik panggil Bapak, dan suruh telpon Edra, ya." ucap Bik inah, lalu berlari keluar.
Pak hadi datang, dan mencoba memeriksa Diana kembali.
"By...." panggilnya pada Rubby.
"Iya, Pak... By tahu, Kakak........"
"Panggil edra, suruh cepat pulang." pinta Pak hadi.
Rubby mengambil telepon, dan menelpon edra.
"Hallo sayang, kenapa?"
"Mas..."
"Iya... Kenapa kok nada, sama suaranya gitu?"
"Mas cepet pulang, Kak Dee....." ucapan Rubby terputus, dan kemudian menangis sejadi-jadinya.
Edra mengusap wajahnya, dan seolah memahami apa yang telah terjadi. Ia menutup telepon, lalu berlari keluar kantor, dan pulang dengan cepat, secepat kilat
__ADS_1