
Pov Author.
Selepas Dhuhur, mereka sudah siap dengan acara lamaran. Tinggal menunggu keluarga yang menginap dirumah besar, yang sedang dijemput oleh Mas Bima.
"By... Ngga pake kebaya?" tanya edra.
"Engga ah Mas, ribet. Bawa Maliq juga 'kan, kasihan nanti kena payetnya. Gamis gini kan udah cantik." jawab rubby, sambil memutar kan gamisnya
"Iya... Cantik istri Mas," jawab Edra.
Ibu rina sedang mempersiapkan Pak Fauzi, sedang Ramlan duduk disofa dengan wajah tegangnya.
"Hey, Bro... Gugup amat," tegur Edra.
"Gugup lah, Pak... Namanya juga lamaran. Kayak ngga pernah aja Bapak ini, padahal udah Dua kali nikah," ledek Ramlan.
"Bro... Jujur aja, saya meskipun udah Dua kali nikah, tapi ngga pernag ngerasain lamaran besar kayak begini."
"Serius?"
"Iya... Sama Dee, karna memang udah diasuh Papa dari kecil, jadi ngga pake lamaran. Sama, By, bahkan sempat berkonflik, malah Ibu sama Bapak kesini. Berasa saya yang dilamar,"
"Jadi gimana Bapak mau lamarin Maya ke saya?"
"Ya... Ngga tahu, makanya saya bingung. Kita lihat ntar lah ya, insyaallah saya bisa." jawab Edra, dengan nada ragu.
"Astaghfirullah, Bapak." ujar ramlan, dengan menggaruki kepalanga karna bingung.
Suara mobil tedengar datang, mereka dengan jumlah Empat buah mobil itu, sudah siap mengantar ramlan ke kediaman Maya. Bude tutik langsung masuk tanpa permisi, dan mencari kamar Rubby.
"Eh... Bude mau kemana?" tegurnya.
"By, mau minta bedak sama gincu, dimana bude cari sendiri." jawabnya, nyelonong.
Rubby mengejarnya, lalu memcegahnya masuk kekamar kesayanganya.
"Stop... Disitu saja, By ambilin bedaknya. Ini bukan dikampung, ya, bisa seenaknya aja masuk-masuk kamar, By udah punya suami, jadi ini ptivasi By sama Mas edra."
"Yeeeeh, yeeeeh... Gitu aja lho. Itu kamarmu gede amat, udah kayak rumah Bude gedenya, isinya apa aja? Tempat tidurnya gimana? Mau lihat,"
"Ngga boleh... Tengoklah, kamarnya aja sgede rumah Bude gitu, gimana tempat tidurnya? Banyangin aja deh," ucap Rubby.
Bude tutik semakin jengkel, dan pergi dengan mulutnya yang komat-kamit.
"Ngga usah ngomel, By mibta lagi nanti itu bedaknya." ancam ku.
"Emang ini dikasih ke Bibik? Waaah, makasih ya." balasnya dengan senyum lebar.
__ADS_1
"Pakde mana?" tanya Ramlan ke Bude tutik.
"Anu... Pakde mu masuk angin, jadi diitinggal dirumah sana. Terus katanya sakit perut." jawab Bude tutik, yang sedang mendandani wajah nya.
"Iya lah masuk angin. Orang pada gebyuran dikolam renang. Itu, sakit perut, pasti karena makan terus, abis jatah rumah itu sebulan. Dibiarin malah seenaknya," omel Rubby.
"Lah, By, By... Kita juga belum tentu setahun sekali ngerasain rumah mewah. Gitu aja lho," Bud membela diri.
"Kemareb dikatain tukang rebut laki orang. Sekarang, malah malakin," gumam Rubby, yang kesal.
Rubby menyudahi perdebatan, dengan mengumpulkan semua rombongan, dan bersiap pergi. Rombongan tersebut, membawa Satu mobil pick up, Dua xenia sewa'an, dan satu mobil pribadi ramlan.
"Loh... Itu pick up, kenapa dipakai angkut orang?" tegur edra.
"Ya, nggapapa, Bapak-bapak nya naik pick up." jawab Pakde bejo.
"Ngga, ngga boleh. Nanti ada razia gimana?" jawab edra.
"Lah terus gimana?" balas Pakde.
Edra menuju garasi mobil, dan membuka pintunya. Mata mereka terbelalak sebesar jengkol lalap, menatap semua koleksi mobil edra, denga Sebuah terios kesayanganya, Dua buah sedan antik, dan sebuah kijang inova silver kesayangan Diana, ditambah Alphard milik Rubby.
Bude tutik tak henti-hentinya mengucek mata, disusul yang lain, tetutama Mba wiwit, yang sempat paling kencang Menghina Rubby, ketika tahu, jika Ia sebagain istri kedua.
"Itu.... Mobilmu semua?" tanya Pakde Bejo.
"Yang itu saja, yang besar," tunjuk Bude tutik ke alphard Rubby.
"Eh... Pinter milih yang gede, By aja belum berani makai. " jawab Rubby.
"Ngga papa, lah... Kan kita banyak," bujuk Bude tutik, dan yang lain mengangguk.
Edra mengelus punggung Rubby, untuk menyabarkan nya, sedang Rubby, hanya mendengus kesal, dengan tingkah mereka.
"Dan sekali lagi, untung saudara,"
Batin Rubby, menangis.
Mereka sampai dirumah Maya, dan disambut oleh beberapa keluarga, yang juga termasuk keluarga edra, dari pihak Mama nya, hingga mereka begitu akrab, dan tak banyak sungkan.
Acara dimulai, dan berlangsung dengan begitu mengharukan dan begitu sakral Acara lamaran dari dua insan, yang sama-sama pernah mengejar, namun gagal. Mereka berjanji, akan saling menjaga Satu sama lain, dna tak akan lagi terobsesi dengan seuatu, yang tak mungkin lagi diraih.
Hari ini, Ramlan dan Maya, resmi bertunangan, ketika Ramlan memasangkan sebuah cincin permata dijari Manis Maya. Cincin yang begitu indah, pas di jarinya Maya yang memang begitu cantik dan anggun.
Pov Rubby.
Acara selesai, tiba waktunya makan. Mas edra dan aku, dipersilahkan lebih dulu, dan kami menurutinya. Maliq kuserahkan pada Bik inah, yang memang sengaja ku bawa untuk membantu mengasuh Maliq.
__ADS_1
Aku mengantri membelakangi Mas edra, namun ternyata seseorang menyerobotku.
"Ya ampun, Bude minah, kenapa nyerobot?" bisik ku.
"Nanti ngga kebagian rendangnya." jawab nya.
"Nanti kalo ngga kebagian, kita masakin sendiri dirumah. Biar By belikan daging yang banyak. Udah sana, antri dibelakang. Malu-maluin Abang aja," omelku.
"Janji ya, nanti kita masak besar?"
"Iya... Sana," usirku
Bud minah akhirnya menyingkir, dan aku bisa menghela nafas lega.
Setelah makan, aku menghampiri Bang ramlan yang sedang duduk sendiri memainkan Hpnya.
"Bang... Cuma lamaran, kok bawa rombongan sebanyak ini? Terus, Abang ngga ngingetin mereka gitu, kalau dikota gimana?"
"Mereka maksa, By. Terus Maya ngebelain lagi, katanya biarin aja, biar rame."
"Ish... Ini mah keramean," jawabku kesal.
Aku semakin akrab mengobrol dengan nya, tanpa sadar, Mas edra mengawasiku dari jauh. Matanya melotot. Aku menatapnya genit, tapi sengaja melanjutkan ngobrolku bersama Abang.
Cling Hp ku berbunyi, ternyata Wa dari suami tercinta.
"Kesini, atau mobil baru Mas jual lagi." ancamnya.
"Mas berani jual?" balas ku, dengan emoticon sedih.
"Makanya sini."
"Lagi ngobrol sama abang, Sayang."
"Sini...."
"Ngga mau,"
"Sini ngga, kalau engga, Mas gendong, Mas bawa kesini."
"Coba aja," balasku dengan emoticon menjulurkan lidah.
Dia tak membalas lagi, aku sedikit cemas, lalu berusaha tetap tenang. Lalu tiba-tiba, ada yang mengangkat tubuhku, dan membawaku pergi dari hadapan Bang ramlan.
"Mas... Apa-apa'an? Malu dilihat orang."
Mas edra menurunkan ku, "Jika sekali Mas bilang menyingkir dari sana, maka menyingkirlah. Mas paling tidak mau cemburu, karna itu menyebalkan." ucapnya, dengan tatapan tajam, namun menggemaskan.
__ADS_1