MADU PILIHAN ISTRIKU (RUBBY)

MADU PILIHAN ISTRIKU (RUBBY)
Pembebasan Ramlan


__ADS_3

Pov Rubby.


"By tahu Kakak sakit, By tahu, itu begitu sakit sampai Kakak pucat dan berkeringat. Kakak ngga bisa bohong dari By. Ma'af, By kasih Kakak obat pereda nyeri, dan diobat itu ada kandungan obat tidurnya. Jadi, Kakak bisa tidur nyenyak malam ini."


Aku keluar dari kamar nya, dan menuju Bik inah, yang ternyata baru saja mengerjakan shalat isya.


"Bik...."


"Eh... Iya By, kenapa?"


"Tadi ke RSJKO? Ketemu sama Pak hadi?"


"Iya, kami bertemu. Alhamdulillah, seperti yang By bilang kalau Dia sehat."


"Lalu, bagaimana?" tanyaku, penasaran.


"By... By ingin tahu? Kenapa ngga tanya Kakak? Biar Dia yang menjelaskan."


"Hmmm, Kakak tidur. Bibik lihat Kakak sakit ngga tadi?"


"Engga, Dee sehat daritadi."


"Oh... Yaudah kalau gitu, By balik kekamar, ya. Selamat malem Bik,"


"Iya, selamat malam dan selamat tidur," ucapnya padaku, dengan melipat mukenahnya.


Aku keluar, melihat kearah luar pintu utama, menunggu Mas edra pulang. Duduk kembali disofa, dan berdiri lagi, begitu terus, sampai aku lelah dan tertidur disofa. Entah berapa lama aku tidur disana, hingga aku terbangun dalam gendongan Mas edra.


"Mas... Udah lama pulangnya?" lirihku.


"Belum... Kenapa By tidur disofa? Nungguin Mas?"


"Iya... By tungguin ngga pulang-pulang, sampai By sendiri ketiduran."


"Yaudah... Kita pindah. Lain kali jangan gitu lagi, ngga usah nungguin, Mas ngga akan nginep dikantor kok,"


"Iya..." jawabku, dengan mendekapkan kepalaku, didadanya yang bidang.


Ia membuka pintu kamar, lalu menidurkanku diranjang.


"Mas..."


"Udah ngga usah curhat lagi, tidur aja, udah malem." ucapnya, memotong ucapanku.


Aku tak menjawab lagi, hanya ingin memejamkan mataku karna memang sudah sangat mengantuk.

__ADS_1


Seminggu berlalu. Hari ini adalah jadwalku bersama Kak Dee, untuk ke Lapas, mengurus pembebasan Bang Ramlan bersana pengacaranya.


"By sudah siap?" tanya Kak Dee.


"Sudah Kak," jawabku, yang sudah rapi, mengenakan gamis berwarna abu-abu dan jilbab pasminah putih serta make up natural.


"Ayo berangkat, Pak Tompul sudah menunggu diLapas. Katanya, Orang tua Ramlan juga udah disana."


"Iya... Yuk, berangkat." ajak ky, dengan menggandeng tangan Kak Dee.


Mas Bima menyetir santai, hingga kami sampai ditujuan. Bu rina ternyata sudah menunggu diluar.


"Kenapa lama? Sengaja mengulur waktu?" omelnya padaku.


"Mau dibebasin apa engga anaknya?" ancamku. Bu Rina langsung diam, dan mengikuti mu berjalan dari belakang.


Kak Dee langsung menuju Pak tompul, dan menyalaminya, dihadapan kepala Lapas, dan Bang ramlan yang sudah berbaju rapi.


"Cieee, yang udah mau bebas...." ledek ku padanya.


Ia hanya tersenyum manis, dengan senyuman ciri khasnya, yang begitu ku sukai dari masa kecil kami.


Perundingan selesai, Kak dee dan Bang ramlan menandatangani sebuah  perjanjian, yang aku tak tahu isinya. Tapi yang jelas, itu perjanjian pembebasan Bang Ramlan.


"Iya... Terimakasih, Kak. Semoga dengan ini, saya bisa lebih baik lagi." balas Bang ramlan.


"Apa rencana Abang selanjutnya?" tanyaku.


"Suami By, meminta Abang untuk membuatkan sebuah ganbar resort, karna Ia akan membangun sebuah Resort dikampung kita. Katanya buat By,"


"Hah? Buat By? Kok gitu? Mas ngga pernah bilang apa-apa," jawabku terkejut.


"Ya... Mungkin itu kejutan, ma'af sudah mengejutkan sekarang."


"Kakak tahu semua ini?" tanya ku pada Kak Dee.


"Tahu lah... Kakak sangat mendukungnya. Karna bukan hanya untukmu saja, itu adalah cara kami mengembangkan potensi disana."


"Astaga... Kalian menyembunyikan sesuatu dari By," ujarku kesal.


"Tak apalah, By. Itu suatu bentuk keperdulian suami mu terhadap kampung kita. Lumayan kan, bisa menambah mata pencaharian, dan tenaga kerja disana ngga usah jauh-jauh kekota untuk bekerja." sambung Bang Ramlan.


Kami beriringan keluar dari Lapas itu, dan berpisah satu sama lain. Wajah Bang ramlan ku lihat semakin cerah dan ceria sekarang. Tak seperti dulu, penuh obsesi dan ambisi, sorot matanya selalu tajam, terutama sa'at menatapku, hingga membuatku takut padanya.


Setelah berpisah, aku dan Kak Dee kembali kerumah. Namun, Kak dee kembali keluar karna ada urusan.

__ADS_1


"Kakak kemana lagi? Ngga boleh krcape'an loh."


"Bentar By, ada urusan." jawabnya, dengan setengah berlari keluar rumah, dan menaiki kembali mobilnya.


Aku hanya bisa memperhatikanya, tanpa bisa bertanya lagi, lalu kembali kekamar untuk mengistirahatkan tubuhku.


Pov Diana.


"Bima... Ke RSJKO ya."


"Baik Nyonya," ucap Mas Bima menuruti perintahku.


Ya... Hari ini aku kr RSJKO untuk menjemput Pak Rahadi, yang dinyatakan sudah bisa keluar dari lingkup RSJKO. Jelas saja, Karna memang sebenarnya Ia tidak gila sama sekali.


Aku menghampirinya, dan memandatangani semua dokumen, sebagai wali nya. Dan membawanya kesebuah rumah, yang sengaja ku sewa untuknya.


"Dee... Ini, saya berikan saja padamu," ujar Pak hadi, dengan memberikan sebuah botol, dan beberapa pritilan rem mobil padaku.


"Ini... Barang buktinya?" tanyaku.


"Iya... Mungkin itu cukup, ditambah kesaksian Bapak, dan Bik inah. Karna memang kami saksi kunci disana.


"Alhamdulillah... Dengan adanya ini, maka berkas kita, akan lebih cepat naik Pak." ucapku dengan bahagia.


"Edra sudah tahu?"


"Engga... Dia belum tahu." jawabku datar.


"Beritahu secepatnya. Jangan sampai, Mirna keburu mempengaruhi Dia macam-macam."


"Mama ngga akan bisa mempengaruhi Mas edra lagi, Mas edra sudah tahu kebenaran atas ginjalnya, yang ternyata, Mama mencurinya dari keluarga Rubby, Maduku."


Pak Hadi membulatkan matanya menghadapku, seolah tak percaya.


"Kelakuan mirna lagi?"


"Iya... Itu semua terjadi sa'at Ia masih menjadi kepala perawat di Rumah Sakit itu. Entahlah, sangking curiganya aku padanya, sampai terfikirkan olehku, apa kah kecelaka'an Ayah dan Ibuku adalah ulahnya juga." jawabku.


"Ma'af... Tapi memang kali ini kecuriga'anmu itu salah. Mereka murni kecelaka'an, karna Ayahmu ngebut sa'at itu. Kebetulan, Bapak beriringan dengan nya, beberapa menit sebelum kejadian. Bahkan, Mama mirna lah yang menolong mereka."


"Menolong? Benar-benar menolong? Bapak yakin?"


"Bapak tak tahu lagi tentang itu. Hanya Dia dan Tuhan yang tahu." balasnya lagi.


Aku kembali diam, menatap dan menggenggam barang bukti itu diganganku, yang sebentar lagi kuberikan pada Thomas dan pengacaranya.

__ADS_1


__ADS_2