
Perjalanan terasa lebih singkat saat pulang. Tak terasa, kami sudah tiba dirumah sekarang.
"Non... Bangun, Non. Kita sudah sampai," ucap Mas Bima pada Ku.
"Oh Iya... Makasih ya Mas, Mas boleh langsung turun dan istirahat. Dan tolong, paggilin yang lain buat bantu nurunin barang." pinta Ku padanya.
Aku meregangkan otot ku sebentar, lalu membangun kan Kak Dee.
"Kak... Bangun Kak, kita sudah sampai."
"Hmmmmh... Kok rasanya cepet? Ngga kayak waktu berangkatnya? Lama," ujar Kak Dee, dengan berganti posisi nya menjadi duduk.
"Mungkin karna kita tidur, jadinya Mas Bima ngebut, Kak." balas Ku.
"Oh... Baiklah," ucap Nya, lalu keluar dari mobil.
Aku keluar dengan membawa beberapa kantong plastik.
"Apa itu, By?"
"Oh... Ini bawaan dari Ibu, kan kemarin sesak nafas Kakak lumayan reda karna jamu buatan Ibu, jadi ini dibawain bahan nya,"
"Bisa bikin nya?"
"Bisa dong... Kan udah diajarin,"
Aku menggandeng Kak Dee masuk kerumah, dan membantu nya duduk di sofa. Aku segera ke dapur untuk mengambilkan nya minum.
"Baru pulang, Non." sapa Bi Nunik, yang tumben ramah pada Ku.
"Eh... Iya, Bi. Baru aja nyampe, mau ambil minum buat Kak Dee,"
"Kenapa ngga manggil aja? Biar saya yang bawain,"
"Ngga papa, cuma air minum. Saya bisa sendiri 'kok. Mari Bik," ku tinggal Kan Ia, dengan rasa bingung.
"kamu kenapa, By?"
"Bik Nunik, aneh deh Kak. Tiba-tiba ramah sama, By." balas Ku, dengan memberinya segelas air.
"Jangan terlalu terbawa suasana, By. Biar kan saja dia. Dia orang Mama Mirna."
"Iya, Kak. Kakak mau kekamar? Istirahat dulu. Besok 'kan jadwal kemo,"
"Kakak malas Kemo lagi, By. Lagian percuma, Kakak ngga mungkin sembuh."
"Kak, setidaknya itu bisa memperlambat penyebaran sel kanker,"
"Capek By, Sakit. Memang memperlambat sel menyebar, tapi sel yang lain pun ikut mati."
Aku hanya diam tak ingin berdebat lagi. Biar saja Mas Edra yang membujuk nya nanti. Ku papah Kak Dee menuju kamarnya. setelah Ia istitahat, Aku mulai meracik obat untuk nya malam nanti.
Sekeluar dari kamar Kak Dee. Diam-diam Aku menelpon Mas Edra dikamarku.
"Hallo Mas,"
"Hallo sayang... Sudah sampai dirumah?"
__ADS_1
"Sudah, Mas. Kak Dee juga sedang istirahat. Tapi ... Tadi kami berdebat Mas,"
"Hmm... Berdebat bagaimana? Tumben?"
"Kak Dee ... Kembali bilang kalau mau meninggal kan Kemo nya,"
"Astagfirullah Diana... Kenapa lagi?"
"Katanya capek... Ah nanti saja By jelaskan dirumah, ya Mas. By mau istirahat dulu, capek."
"Iya... Sebentar lagi, Mas pulang. Sudah rindu kalian,"
"Iya... By juga rindu. Assalamualaikum,"
"Waalaikum salam,"
Aku menutup telpon dan merebahkan diri ke tempat tidurku sejenak.
Pov Aledra.
"Ada apa lagi dengan kamu, Dee. Kenapa kamu merasa lelah lagi dengan semua ikhtiar yang sudah kita jalani bertahun-tahun. Aku tahu jika itu menyakitkan Mu. Tapi, setidaknya kamu bisa bertahan sampai detik ini, karna semua pengobatan itu." batin Ku berkecamuk memikirkan Istriku Diana.
Diana yang ku tahu, adalah orang yang kuat dan tak pernah menyerah dalam situasi apapun. Tapi, kenapa sekarang seperti tengah berada disebuah titik lelah yang teramat sangat melelahkan baginya.
" Baik lah, biar saja Aku yang merayu nya nanti. Aku paham, jika Ia takut jika Rubby akan ikut kemo, jadi biar aku saja yang mendampingi nya."
Aku bersiap pulang, dan membereskan meja kerja Ku.
"Winda... Saya pamit pulang dulu, ya."
"Oh iya, Win. Kamu tahu dimana orang jual rangkaian bunga?"
"Ada temen saya, Pak. Bapak mau saya pesan kan?"
"Boleh... Tapi saya ngga tahu, Rubby suka nya bunga apa,"
"Oh... Buat Nyonya muda? Biar nanti saya pesan kan, Bapak tinggal ambil. Saya Wa alamatnya ya Pak," jawab Winda.
"Iya, Buat Rubby. Soalnya Diana alergi bunga. Oke... Bilang Lima Belas Menit lagi saya ambil bunga itu," ujar Ku lalu pergi.
Aku menuju mobil, dan memacu pedal gas dengan cepat.
"Oke... Saat nya aku untuk pulang, dan menemui Dua bidadari syurga ku yang cantik," ucap Ku, antusias.
Sesuai rencana, sebelum sampai dirumah. Aku mampir dulu ke toko bunga yang sudah di katakan oleh Winda, dan mengambil bunga untuk Rubby.
"Maaf, Dee... Bunga ini untuk Rubby, dikarna kan Kamu memang alergi bunga, disisi lain juga karna semua milik ku sudah ku berikan pada Mu, Sayang." Dan Aku pun kembali memacu mobil ku, untuk pulang kerumah.
.
.
.
"Assalamualaikum," Namun, tak ada yang menjawab.
"Pada kemana? Kok ngga ada orang?"
__ADS_1
Aku mebcari Rubby dikamar, dan ternyata sedang shalat maghrib.
Aku menunggu nya selesai, dengan duduk di pinggir ranjang sembari melepas beberapa acesoris ditubuhku.
"Loh... Mas, udah pulang?" tanya Rubby, terkejut.
"Iya barusan sampai. Oh iya... Ini buat kamu," ucap Ku dengan memberikan sekuntum mawar merah padanya.
"Cantiknya, makasih Mas...." Ia lalu memeluk Ku dengan erat.
"Kak Dee, Mana?"
"Dikamar kayaknya, abis minum obat tadi. Belum kesana?"
"Belum, mampir kesini dulu mau ngasi bunga nya ke Kamu." balas Ku dengan mengambil handuk dan menuju kamar mandi.
"Kak Dee ngga dikasi bunga juga? Kok cuma By aja?"
"Kakak mu itu alergi bunga, makanya Mas abis ngasi bunga nya mau langsung mandi. Bisa-bisa Dia sesak nafas nyium aroma bunga itu,"
"Oh gitu... Yaudah, mandi sana. Cepetan temuin Kak Dee, dan bujuk ya."
"Iya...."
Saat aku mandi, Rubby meninggal kan Ku, untuk menyiapkan makan malam di bawah. Dan Aku, segera menemu Diana setelaah mandi ku selsai.
Tok... Tok... Tok.
"Dee... Kamu tidur?" tanya Ku.
"Mas... Ngga tidur, cuma lagi rebahan sambil baca buku," jawab nya.
Diana lalu berdiri dan memeluk ku Erat. Kucium keningnya, dan kubalas pelukan nya.
"Udah mandi, Mas?"
"Iya... Mandi dikamar Rubby tadi. Aku kasih Dia bunga, jadi sekalian mandi biar aroma bunga nya ngga kehirup sama Kamu." balas Ku.
"Iya... Sekarang wangi, wangi khas Rubby," ledek nya.
"Ngga usah ngeledek, Mas ngga ngapa-ngapain disana,"
"Ngapa-ngapain juga ngga papa, kalian kan suami istri," jawab Nya cuek.
"Dee..."
"Iya, Mas. Kenapa?"
"Ngga cemburu sama Rubby?"
"Ngga tahu, Mas. Aku ngga punya rasa cemburu kalau sama Rubby, ngga ada sama sekali. Bahkan, Dee ingin jika Mas sering-sering bersama Dia. Tahu sendiri 'kan keinginan ku apa?"
"Hmmm.... Bagaimana kalau kita buat perjanjian?"
"Perjanjian apa? Kok tumben?"
"Perjanjian saja. Begini... Ehm, Mas janji akan semakin dekat dengan Rubby, dan menuruti kemauan Mu untuk segera memiliki anak dari Dia. Tapi, Kamu harus kemo teratur sesuai jadwal, gimana?"
__ADS_1