MADU PILIHAN ISTRIKU (RUBBY)

MADU PILIHAN ISTRIKU (RUBBY)
Kelahiran Maliq


__ADS_3

Dua bulan berlalu setelah itu. Diana terlihat semakin ceria, bersama'an dengan kandunga By yang semakin membesar. Aku pun begitu bahagia melihat kedua istriku yang ceria seperti ini. Bersama-sama merawat satu sama lain.


"By... Mas berangkat dulu, ya." pamitku pada Rubby yang masih menyelesaikan sarapanya.


"Iya... Sama Kakak udah pamit?"


"Udah..." singkatku, lalu mencium keningnya.


Pov Rubby.


"Waduh... Selesai makan kok mules, padahal ngga makan pedes." gumamku.


Aku menuju kamar mandi, tapi tak kunjung selesai apa yang menjadi tujuan ku.


"By... By dimana?" teriak Kak Dee mencariku.


"By dikamar mandi, mules." jawabku.


"Kakak pergi sebentar ya, ada urusan dikit dikantor."


"Iya... Hati-hati," jawabku tanpa keluar.


Setelah ku rasa beres, aku pun keluar dari kamar mandi, dan santai diteras belakang, menyirami tanaman Kak Dee.


Beberapa kali ku rasakan mulas, dan berkali-kali kekamar mandi namun tak tuntas.


"Aduh... Kenapa lah ini, ngga enak banget rasanya."


Aku ke dapur untuk membuat teh hangat, dan beberapa kali kembali kekamar mandi.


"By kenapa?" tegur Bik inah, yang aneh melihat kelakuanku.


"Heh... Ngga papa Bik, kayaknya By salah makan deh. Mules, tapi ngga mau keluar."


"By mau lahiran? Jangan-jangan itu kontraksi."


"Bik... By hamilnya baru Delapan bulan, masa udah mau lahiran. Lagian prediksinya aja masih Tiga Mingguan lagi lahirnya."


"By.... Kita ngga tahu loh, takdir Allah gimana." balas Bik Inah.


"Engga ah... Mleset juga kan ngga terlalu jauh. Ini mleset nya hampir sebulan. By salah makan aja ini," sanggahku, lalu beristirahat dikamar.


Aku gelisah, mengantuk, tapi tubuh ku berkeringat dingin.


"Duh... Tambah ngga enak, apa iya mau lahiran?" gumamku.


Aku merasakan sesuatu keluar dari jalan lahirku, namun aku bersikap acuh. Kufikir itu seperti keputihan biasa, namun ternyata semakin lama semakin banyak, dan mulas itu semakin menjadi.


Aku melangkah kebawah, dan menemui Bik inah, yang kebetulan sedang ada Pak hadi juga disana.

__ADS_1


"Bik.... By sakit, kayaknya beneran deh mau lahiran. Sakitnya tambah parah." ujarku.


"Lah... Benerkan, terus gimana? Mau ke Rumah Sakit sekarang? Bibik sama Pak hadi yang antar." tawarnya.


"Iya, By... Mana dimana kunci mobilnya Bu, biar Bapak panasin mobil dulu. Ibu siapin perlengkapan. Biar By duduk disini. Nanti makin gerak malah air ketubanya pecah." jawab Pak hadi, dengan sigap menolongku.


"Bik... Perlengkapan bayi nya ada dilemari bagian bawah. Udah By siapin dalam tas coklat." lirihku.


Pov Author.


Bik Inah mengambil semua perlengkapan dilenari, dan Pak hadi memanasi mobil, lalu mengambil Rubby diruang tamu.


"By masih bisa jalan?"


"Masih, Pak. Tapi, kayaknya rembes." jawab Rubby.


"Yaudah, Bapak gendong, ya. Ma'af," ujarnya, dengan membawa Rubby dalam gendonganya.


Bik Inah mengunci pitu,lalu masuk ke mobil, menemani Rubby yang mulai kesakitan.


"By.... Sabar, atur pola nafas, dan jangan stres." bujuk Bik inah padaku.


Selama perjalanan, Rubby hanya mengusap perutnya dan mengelola nafas, sedang Bik inah menelpon Diana dikantor.


"Hallo Bik, kenapa?"


"Dee... Rubby mau lahiran."


"Nyatanya ini udah kontraksi, kayaknya rembes juga. Bibik lagi kerumah sakit nih,"


"Bibik siapa yang anter?"


"Bapak tadi kerumah, lagi makan siang jadi nganterin. Kasih tahu suamimu ya, ditelpon ngga nyaut daritadi." pinta Bik inah.


"Iya... Kalian hati-hati dijalan, ya.as edra biar Dee yang urus." jawab Diana lalu menutup telpon.


"Kak Dee bisa dihubungi Bik?"


"Bisa By, bentar lagi dia nyusul."


Beberapa menit kemudian mereka sampai di RSUD, karna ternyata air ketubanya sudah rembes, Rubby langsung dibawa keruangan untuk diinfus.


"By... Kita induxin ya, kamu mau nya. Lahiran normal kan? Kita tunggu sampai sekitar Enam jam. Kalau ngga ada perubahan kita Caesar. Ketuban mu pecah dini soalnya," ujar Dokter yang menangani Rubby.


Semakin sakit dan semakin nyeri, itu yang dirasakan Rubby, berteman Bik inah dikamar itu.


Pov Diana.


Aku segera pergi kekantor Mas edra untuk menjemputnya, entah bagaimanapun caranya.

__ADS_1


Dikantornya, para karyawan bilang jika Ia sedang rapat bersama Kolega dari luar negri, dan tidak bisa diganggu, namun aku menerobos masuk.


"Ma'af semuanya, rapat terpaksa dihentikan." ucapku pada mereka.


"Dee... Kenapa? Ini ngga sopan." tegur Mas edra.


"By lahiran... Sekarang dirumah sakit, hp Mas silent dari tadi." jawabku.


Para kolega berdiri. "Pak Edra, segeralah ke Rumah Sakit. Temani istri anda yang akan melahirkan. Mengenai proyek, kami akan tanda tangani langsung melalui Winda. Anggap saja, ini hadiah atas kelahiran anak Bapak." ucap salah seorang dari mereka.


Aku dan Mas edra terharu, dan langsung berjalan cepat menuju Rumah Sakit tempat Rubby dirawat.


*


*


*


"By... Gimana keadaan By sekarang?" tanya ku.


"By ngga papa, ini di induksi supaya bisa normal." jawabnya dengan santai, namun tak menutupi jika sedang menahan sakit.


Kami menemaninya, hingga Ia merasakan kontraksi yang hebat, dan mulai akan mengejan.


"Mas, tungguin By disini. Aku mau shalat dhuhur," ujarku.


Jujur, aku tak kuat melihat nya seperti itu, Ia kesakitan. Kenapa tidak Caesar saja? Gumamku.


Aku mengambil air Wudhu, dan melakukan shalat dhuhur. Melakukan Dzikir, hingga tak tahu berapa lama aku melakukanya. Hingga Bik Inah menghampiriku.


"Dee... Bayinya sudah lahir, Laki-laki, Sehat sekali." bisik Bik Inah padaku.


Jantungku berdebar kencang, hatiku begitu lega, hingga air mata ku menganak sungai dipelupuk mata.


Ku bereskan mukenahku, dan segera menghampiri Rubby dan Bayinya.


"Mas... Udah di adzanin?" tanya ku.


"Udah, Dee."


"Selamat ya. Sini Dee gendong." pintaku pada Mas edra. Sedang Rubby masih dalam perawatan. "Assalamualaikum, Anak ganteng Bunda. Yang sekian lama udah kami tunggu-tunggu, akhirnya datang juga."


"Kakak kasih nama 'lah...." ujar Rubby.


"Kenapa Kakak? Mas edra dan By yang lebih berhak."


"Ngga papa, Kakak aja. Pasti bagus namanya." pinta Rubby padaku.


"Anak bunda ini, mau Bunda kasih nama Maliq, Maliq Kumbara. Nama tokoh kuat dalam pewayangan."

__ADS_1


"Bagus Kak. Nama nya keren, By suka. Hay Maliq," sapanya dengan senyum puas.


Dia yang menguatkan ku, Dia yang ku tunggu. Setelah kedatanganya, Serasa hilang semua beban ku.


__ADS_2