
Pov Rubby.
"Parhatian kecilmu membuatku tersentuh, Mas. Benar tuluskah, atau....? Ah, sudahlah. Masih bisa berada disisinya saja, kau harusnya sudah bersyukur. Setidaknya Maliq menjadi alasan semua ini." gumam ku dalam hati.
Aku pulang, dan langsung tidur bersama Maliq, yang memang sulit untuk tidur sendiri, karna terbiasa tidur dengan bunda nya disiang hari.
Ku pejam kan mata ku sejenak, namun terkenang dengan semua kenangan bersama nya dulu.
" Astaghfirullah... By sudah lah, jangan terlalu dikenang. Akan membuat Kakak semakin berat untuk melangkah," lirihku, sa'at membuka mata.
Ku tatap Maliq yang mulai pulas, dan perlahan ku tinggalkan. Perlahan, menuju kamar mandi. Tapi, ternyata kembali terbangun dan menangis.
"Aaaaaah, Maliq... Ibu mau kekamar mandi sebentar," keluhku.
Aku berlari kecil menuju dapur, menemui Bik inah.
"Tolong bentar, Bik. By mau kekamar mandi,"
"Emang mau?" tanya Bibik.
"Mau... Bentar aja, By udah kebelet."
Dikamat mandi, ku dengar suara Maliq yang masih menangis untuk beberapa sa'at, lalu terdiam.
"Hah? Itu anak kemana?" batin ku.
Aku mencari nya, kesetiap ruangan, dan ternyata, Bik inah membawanya kekamar bekas Bundanya
"Maliq tenang disini, By. Lihat lah," tunjuknya padaku.
"Ya... Sepertinya, Mas edra pun kadang lebih nyaman disini," balasku, ketika melihat beberapa baju bersih yang digantung didinding, dan lemari nya.
"Jangan cemburu, wajar saja 'kan? Belum ada sebulan."
"By ngga cemburu kok,"
"Lah, itu... Kok kayak berkaca-kaca matanya?"
"Hmm?
Bik... Bisakah, Mas nanti cinta sama By seperti cinta sama Kakak?"
"Kenapa bilang begitu? Jangan terlalu ingin menyamakan kisah cinta kalian. Kalian adalah orang yang berbeda, wajar jika rasa cinta itupun beda." jawab Bik inah. Dengan terus mengajak main Maliq.
__ADS_1
"Lalu... Bagaimana menurut Bibik sekarang?"
"Bagaimana apanya? Ya, jalani saja. Kehilangan istri tercinta itu sakit, meskipun sudah ada By disisinya, meskipun sama statusnya, tapi akan beda rasanya. Mereka sudah bersama sejak Dua belas tahun, By. Mengarungi suka duka bersama, yang tak akan mudah begitu saja dilupakan."
"Iya..." jawabku, tanpa membalas lagi. Entah apa yang ada didalam hatiku, yang sepertinya mengganjal, namun sulit untuk ku katakan. Menatap foto pernikahan mereka, dan membandingkan fotonya dengan ku.
"Kakak memang cantik, elegan, dan kuat. Pantas saja, Mas benar-benar memperjuangkan nya hingga akhir,"
"By... Bibik mau masak dulu, persiapan makan malam. By mandi'in Maliq dulu, ya. Nanti kalau By mau mandi, kasih Bibik lagi."
"Eh, iya, udah sore ya? Yaudah, By mandiin Maliq dulu,"
Malam tiba, aku menemani Maliq bermain didepan tv, dengan seluruh mainan yang diberikan Bundanya. Begitu banyak, hingga sepertinya aku ingin membuat taman bermain sendiri untuknya.
"Assalamualaikum," ucap Mas edra, yang baru pulang.
"Wa'alaikum salam," jawabku, yang langsung menyambutnya.
"Nih... Buat By," ucapnya dengan memberi setangkai bunga mawar kecil.
"Kok tumben?"
"Ngga boleh? Dulu Mas pernah bawain, tapi kata By ngga usah 'kan, gara-gara Kakak alergi,"
"Ya Allah sayang... Kok By sekarang curiga'an gitu? Ngga percaya, sama Mas? Karna Mas memang ngga pernah romantis?"
"Jujur, Iya...." jawabku, lalu kembali pada Maliq.
Mas edra hanya menatapku, dan masuk kekamar, untuk mandi dan mengganti pakaianya.
"By udah shalat? Sini, bair Maliq sama Mas."
"By lagi ngga shalat. Mas, kenapa Mas ke kamar itu terus?"
"By ngga suka? Biar nanti dipindah semua."
"Bukan ngga suka. Hanya saja ada perasa'an tersendiri sa'at By masuk kesana. Mas tidak menyimpan rahasia kan?"
"Rahasia apa? Ngga ada. Itu hanya perasa'an By saja." jawabnya.
Aku berusaha tak ambil pusing, berusaha cuek dengan semua keada'an. Dan menikmati semua yang ada didepan mataku. Bermain bersama suami dan anak ku.
Ke'esokan harinya, aku sengaja ikut Mas edra kekantor, karna diminta oleh Mas Thomas, untuk mempelajari tentang pemberkasan, dan tentang perusaha'an. Setidaknya, itu ilmu dasar yang harus ku pelajari.
__ADS_1
Dengan Maliq ditangan Winda, aku dan Mas edra mempercepat proses pembelajaran, meskipun Mas edra juga sedang menangani beberapa proyeknya.
"Mas... By ke kamar mandi dulu, ya."
"Iya... Jangan lama-lama,"
"Iya... Emang By ngetem dulu apa?" balasku.
Aku melangkah kembali keruangan Mas edra, tapi sesuatu menghentikan langkahku. Beberapa orang yang tak kukenal membicarakanya dan aku.
"Enak ya, Bapak. Kuburan istrinya belum kering, udah santai aja sama yang muda. Padahal, kalau gue yang kehilangan, bisa nangis tiga hari tiga malem gue."
"Ya, gimana lagi bro... Hidup itu harus terus berjalan. Duka dan menangis, seminggu aja udah ilang, apalagi laki-laki. Istrinya udah dua, kan.... Apalagi yang dipikir."
Mataku nanar memandangi mereka, berjalan menghampiri dan ingin menegur. Tapi, sebuah tangan menarikku, membawaku kepelukanya. Ya, itu tangan Mas edra.
Aku menatap kearahnya, dan Ia dengan emosi, menahan telingaku dengan kedua tanganya.
"Tutup telingamu, dan jangan dengarkan... Ingat itu." ucapnya padaku.
Aku hanya mengangguk, dan semakin membenamkan wajahku didadanya.
Pov Author.
"Pak... Pak edra disini?" ucap salah satu dari mereka.
"Sudah puas berbicara? Apa ada yang menggaji kalian lebih untuk membicarakan tentang kehidupan kami?"
"Ma'af, Pak, kami hanya mengemukakan pendapat."
"Itu hanya pendapat kalian, sebagai orang yang tidak tahu apa-apa. Bukan pendapat orang yang memahami posisi seperti saya. Kalian mau mencoba berada diposisi ini? Pasti tidak. Kalian bisa membicarakan yang lain. Tapi jangan keluarga saya, atau kalian, akan kehilangan semua kebangga'an untuk keluarga kalian sendiri." ucap edra. Dengan nada yang pelan, namun tetap menusuk kehati.
Mereka lalu membubarkan diri. Dan pergi ke ruangan masing-masing.
Edra melepaskan pelukanya pada Rubby. Jangan dengarkan, tutup telinga rapat-rapat terhadap sesuatu yang menyakitkan. Karna jika kamu membawanya hingga ke hati, maka kamu sendiri yang akan sakit." ucapnya dengan tatapan tajam.
Rubby hanya mengangguk. "Mas kenapa, kesini?" tanyanya.
Edra menyentil kepala Rubby, tukkk.
"Mas kira kamu nyasar, makanya mau Mas jemput. Tapi, kalau difikir-fikir, masa iya nyasar. By udah lebih dari setahun bersama Mas."
"Kan mending nyasar disini, ketemunya masih sama karyawan sini, daripada nyasar ke hati pria lain, nanti Mas susah nyarinya." ledek Rubby, dengan berlari kecil meninggalkan edra, yang terbengong karna kata-katanya.
__ADS_1