MADU PILIHAN ISTRIKU (RUBBY)

MADU PILIHAN ISTRIKU (RUBBY)
Kekanak-kanakan


__ADS_3

Anton melaju dengan cepat, membawa Rubby ke klinik terdekat dari restaurant itu.


"Cepetan dikit, bisa ngga?" omel edra padanya, dengan terus memeluk Rubby yang masih belum sadar.


"Kalau kekencengan jalanya, nanti malah kelewatan kliniknya. Muter disini susah, Bapak...."


"Ngga usah ke klinik... Ke Rumah Sakit aja langsung."


"Ya... Baiklah, asal diem dulu. Saya mau fokus nyetir," balas Anton.


Edra lalu diam, hanya terus mengelus pipi Rubby, dan merayunya bangun.


Tiba di Rumah Sakit, edra langsung menggendong Rubby kembali, dan membawanya ke IGD.


Beberapa perawat menyambutnya, dan mendorong Rubby kedalam, lalu memeriksa keda'anya, seraya menunggu Dokter datang.


"Pak... Tunggu dokternya datang, ya. Sambil coba, Ibu dibangunin. Kalau dari tensi, dan yang lain normal, tapi coba nanti kita tes urin."


"Tes urin? Untuk apa?" tanya edra.


"Hanya untuk memastikan, Ibu sedang hamil, atau hanya terkena Magh saja." balas perawat itu.


Edra menunggu beberapa lama, dan Rubby mulai bergerak bangun.


"Mas... Dimana kita? Mana Anton?"


"Kita di Rumah Sakit. Kenapa nanyain dia? Suami disini, malah nanyain yang lain." jawab edra, setengah marah.


Rubby menghela nafas, dan dengan datar, melambai ke suaminya.


"Mas... Sini,"


"Kenapa?"


"Sini dulu, sebentar!" omelnya.


Edra menghampiri, lalu sekuat tenaga, Rubby mencubit pinggang edra.


"Auuuwh... Sakit, sayang. Kenapa sih?"


"Udah dibilang... Itu rekan bisnis, masih aja dicemburuin. By ngga enak kalau dia tersinggung. Cari sana, cepetan minta ma'af."

__ADS_1


"Kenapa minta ma'af?" tanya edra.


"Katanya udah tua, kelakuan masih kayak bocah sih, Mas... Ya Allah..." ucap Rubby dengan mengusap wajahnya.


"Itu rekan kerja, bukan selingkuhan. Dan sebelum By berangkat ketemu dia, By nelpon Mas, tapi ngga diangkat. By Wa, tapi ngga dibaca. Apalagi salahnya? Terus, kenapa Mas bisa tahu By disana, kalau Wa aja ngga dibaca? Ayo ngaku? Jangan-jangan, Mas yang lagi janjian sama cewek disana? " omel Rubby, bertubi-tubi.


"Mana ada? Udah jelas, By yang ketangkep basah. Kalau ngga Mas ngikutin, mana Mas tahu."


"Jadi... Mas selama ini sering ngikutin By, ngga kekantor?" tanyanya, dengan mata membulat, dan begitu marah.


Edra mulai gugup, terutama ketika melihat mata Rubby, yang membuatnya mundur beberapa langkah. Untung saja, Dokter masuk, dan membuat mereka diam sejenak.


Pov Rubby.


Marah seketika, ketika aku mengetahui kenyata'an, jika Mas edra lah yang mengikuti ku beberapa hari ini. Yang membuatku takut, dan bahkan terbawa mimpi.


Ingin aku mencubit perutnya, hingga menyentil ginjalnya sedikit. Karna entah kenapa, beberapa minggu ini aku begitu membencinya. Benci, bahkan malas untuk melihat wajahnya.


"Permisi... Dengan, Ibu Rubby?"


"Iya, Dok... Saya sendiri." jawab Rubby.


"Apakah, tadi perawat saya sudah memberikwn wadah, untuk memeriksa urin?"


"Ini... Ma'af, tadi ada kedala sedikit." sahut perawat dari belakang.


"Baiklah, saya mau ambil semple urinya dulu," ucapku, dengan perlahan turun dari brankar.


"Sini, Mas bantu..." tawar Mas edra.


"Ngga usah... Duduk aja disana, renungin kesalahanya. Makin males, lihat nya." omelku.


Aku melangkah kekamar mandi, dan mengambil sample urin ku, ku lihat ada testpack disebelah botol itu.


"Apa disuruh test juga?" gumamku, lalu mengambil sample sendiri untuk test pack itu.


Lima menit aku menunggu, ku angkat testpecknya, dan melihat hasilnya.


Terkejut bukan main, ketika melihat garis dua yang terlihat disana. Karna terlalu senang, tak sadar aku menjerit sekuat tenaga, dan berjingkrak dikamar mandi.


Mas edra mendengarnya panik, hingga mendobrak pintu kamar mandi, karna terlalu khawatir, namun justru menemukan ku yang sedang kegirangan.

__ADS_1


"Sayang... Kenapa?" paniknya.


"Hah? Engga... Ngga papa," jawabanku menggantung, lalu kelaur dari kamar mandi, memberikan hasil testpacknya pada Dokter.


Aku lalu duduk, dengan tersenyum gembira, membiarkan Mas edra dengan rasa penasaranya yang semakin menjadi. Ia menggaruk-garuk kepala, lalu duduk disampingku, nenatapku heran karna tersenyum sendiri.


"Baiklah... Kita sudah lihat hasilnya, selamat ya, Bu." ucap dokter padaku.


"Selamat untuk apa, Dok?" tanya Mas edra.


"Loh... Bapak, ngga dikasih tahu?"


"Engga...." geleng Mas edra.


Dokter kembali tersenyum melihat tingkat kami, dan memperlihatkan hasil itu padanya.


Matanya terbelalak, seakan tak percaya, namun kanyata'anya seperti itu. Ia melonjak kegirangan, lalu memeluk dan menciumku. Aku ingij menolaknya, namun tak ingin menghancurkan perasa'anya.


"Ya Allah, kenapa aku begitu membenci laki-laki ini sekarang," batinku.


Setelah dokter memberiku resep vitamin, Mas edra menggandeng ku keluar, dan mencari taxi.


"Kenapa pakai taxi, mobil kemana?" tanyaku.


"Hmmm... Mas pakai motor, ke restaurant tadi."


"Motor siapa? Beli baru? Demi apa? Demi jadi detektif, buat nyelidikin gerak gerik istrinya? Mas-mas, udah tua, Mas. Kenapa sih, main begituan. Curiga, By selingkuh? Ngga usah beegitu, sempet mikir kesana atau membayangkan aja engga. Anak udah Empat, Mas.... "


"Ya... Mas gitu karna cemburu. Wajar kan? Sejak pulang dari luar kota, sikap By berubah sama Mas. Cuek, jutek, dideketin aja ngga mau. Makanya.... Mas curiga."


"Astaghfirullah, Ya Allah, Mas... Keterlaluan, deh."


"Lagian... Biasanya kalau hamil, By maunnya deket-deket, lah ini, malah benci banget. Kenapa?"


"Au lah.... Ngga tahu, yang jelas... By sekarang benci, benci banget sama Mas. Sama semuanya, semua tentang Mas." ucapku lantang, lalu naik taksi yang telah Ia pesan.


Mas edra ikut kedalam taksi itu, namun duduk didepan, karna menghindari kemarahan ku yang begitu berlebihan. Dan hanya sesekali menatap kebelakang, memperhatikan ku yang sedang mengelus perutku dengan begitu bahagia.


Pov edra.


"Apakah ini, termasuk sebuah sydrom kehamilan. Atau hanga bawa'an bayinya? Lantas, kenapa dia begitu membenciku dikehamilan yang ini? Apa salah ku padanya?" gumamky dalam hati.

__ADS_1


Akhirnya sebuah misteri dalam hidupku beberapa minggu ini terungkap. Aku telah salah kaprah dengan sifat Rubby, selama ini. Bukan karna ada pria lain, melainkan Ia sedang mengandung. Betapa bodohnya kelakuan ku ini.


"Tetap sehat para kesayangan ku, semoga yang ini, hadir sesuai dengan harapanmu. Memiliki Diana baru dalam hidupmu, meskipun Diana lama, sejatinya tak akan pernah terganti dihati kita. Sebenci apapun kamu padaku sekarang, aku tetap mencintaimu, meskipun aku harus menangis dan mengemis perhatian padamu, mulai dari sekarang." batinku, dengan perasa'an yang campur aduk sekarang.


__ADS_2