
Pov Aledra.
Hari ini, aku menemani Rubby dalam proses persalinanya, meskipun datang sedikit terlambat.
Rubby kesakitan hingga lemah, namun Ia bertahan sekuat tenaga agar bisa kuat, dan melahirkan bayi kami secara normal. Sedang Diana, Ia tak sanggup melihatnya dan pamit keluar untuk shalat.
"By... Sakit sayang?" tanya ku.
"Iya, Mas... Sakit sekali. Menjalar kemana-mana rasanya." ucapnya, dengan duduk disofa, lalu memeluk tubuhku dari depan.
Aku terus mengusap punggungnya, dan membelai rambutnya, sedang Bik inah, terus mengelap keringat yang bercucuran dari dahinya.
"By... Kalau ngga kuat, operasi aja, ya?"
"Ngga mau, maunya normal aja. Caesar sakit, By takut. Bentar lagi kok, ini udah di induksin."
"Oke lah, nanti kalau By ngga kuat bilang ya. Biar langsung diurus prosedurnya."
"Iya, Mas...." lirihnya.
Rubby berpindah posisi, tidur miring ditempat tidurnya, dan aku tetap mengelus punggungnya untuk membantunya rileks.
"By mau minum?" pintanya.
"Ini, minum dulu banyak-banyak, biar ngga kekurangan cairan." bujuk ku.
Rasa sakitnya seperti semakin menjadi, karna ku lihat Ia semakin pucat bahkan meninju dinding yang ada didekatnya.
"By jangan tinjuin dinding, nanti tanganya memar,"
"Engga... Pelan kok, daripada Mas jadi pelampiasan, ntar By dosa." jawabnya polos.
Seorang perawat memeriksa, dan aku tak tahu memeriksa apa. Aku hanya bisa menggenggam tanganya sa'at itu.
"Bu... Nanti kalau udah terasa, cepet bilang ya?"
"Iya, Sus..." jawab Rubby.
"Terasa apa?" tanyaku.
"Udah... Mas ngga akan ngerti, cuma By sama perawatnya yang faham," sanggah nya, lalu aku pun diam.
Aku masih menunggunya beberapa jam, dan belum ada perubahan, sedang aku bolak balik kekamar mandi karnar mulas, hingga akhirnya Ia merasakan sesuatu.
__ADS_1
"Mas, panggin dokternya kesini," ucapnya.
"Iya, Mas panggil," jawabku, lalu berlari menemui Bik inah yang menunggu diluar.
"Bik... Tolong tungguin By, saya panggil dokter." pintaku.
Bik inah, tanpa menjawab apapun langsung masuk, dan membenarkan posisi Rubby.
"Gimana By, sudah terasa?" tanya Dokter yang datang dengan santai.
"Hey... Istriku sedang kesakitan, tapi anda dengan santai dan tertawa menghampirinya, tak punya hati," gerutuku dalam hati.
Mereka mengambil posisinya masing-masing, begitu juga aku, yang duduk dikursi, disamping tempat tidurnya, menggenggam tanganya, dan terus mengusap rambutnya.
Aku berusaha menenangkanya, meskipun aku sendiri tak tenang sa'at ini.
"By... Perlahan mengejan, kamu yang merasakan waktunya. Oke," instruksi dokter.
Perlahan Rubby mulai mengejan, sesuai waktu yang Ia rasa pas. Ia menggenggam tangan ku begitu kuat, sampai rasanya jari ku akan patah. Beginikah kekuayan wanita sebenarnya.
"Dok... Kenapa rasanya ngantuk," ucap Rubby, yang perlahan memejamkan matanya.
"Tidurlah kalau bisa tidur. Paling nanti, By bangung kaget, karna waktunya mengejan lagi," ledek Dokter.
"Kenapa dimatikan, Dok? Rubby kepanasan," omelku.
"Sengaja, kalau panas, By ngga akan ngantuk," balasnya. Aku sedikit kesal, namun ucapan dokter itu masuk akal.
Frekuensi Rubby mengejan semakin sering, tapi seolah kehabisan tenaga, hingga aku yang menangis melihatnya.
"Assalamualaikum," ucap Pak hadi, yang masuk keruangan membawa Satu Cup cendol yang begitu menyegarkan.
Ia duduk santai, disudut kamar itu, dengan menyeruput cendolnya. Rubby melihatnya, dan meneguk ludah, "Mas, pengen itu." ujarnya.
"Ya Allah, By. Itu dimana carinya?" tanyaku.
"Didepan ada, Dra." jawab Pak hadi.
"Bapak tanggung jawab, beli'in." pintaku padanya.
Akhirnya, dengan langkah malas, Pak hadi menuruti perintahku, dan keluar mencari cendol tersebut.
*
__ADS_1
*
*
"Nih, cendolnya," letak Pak hadi, disampingku.
"Mas suapin ya sayang," ucapku padanya.
Perlahan aku menyuapinya, sesuap demi sesuap, dilanjutkan dengan mengejan nya.
"Mas... Ngga puas," keluhnya.
"Lah terus gimana?" tanya ku bingung.
"Gini aja deh," ucap Rubby, yang mengambil gelas cendol itu dari ku, dan meminumnya sebanyak yang Ia mau.
"Jangan kebanyakan, nanti keselek," tegurku.
"By... Kok gitu?" heran Bik inah.
Rubby tak bergeming, hanya menarik nafas panjang, lalu mengejan sekuat tenaga, dengan cendol didalam mulutnya, dan... "Oeeeeek, Oeeeek," tangis Bayi memecah keheningan dalam ruangan ini.
Rubby lalu menarik nafas lega, dan mengunyah kembali sisa makanan yang ada dalam mulutnya itu.
"Akhirnya, keluar juga. Selamat Pak Edra, dapet jagoan." ujar sang Dokter padaku.
Aku terharu hingga menangis, lalu mencium kening Rubby, yang justru sedang santai menikmati minumanya.
"Terimakasih sayang, kamu telah memberikan jagoan kecil, pada Mas, dan Kak Dee." ucapku.
"Iya... Sama-sama, Mas." jawabnya santai.
"Ternyata begini perjuangan wanita sa'at melahirkan. Mempertaruhkan nyawanya demi buah hati kami, yang telah Ia kandung selama Sembilan bulan. Begitu mengharukan bagi ku, meskipun aku melihat Rubby justru sangat santai sekarang."
Tak lama kemudian Diana masuk, dan aku membawa bayi itu padanya.
" Hay ganteng. "sapanya, " Selamat ya, Mas. Meskipun bukan dari rahimku, tapi dari rahim Rubby, tak apa kan? Mas tetap bahagia 'kan? " ucapnya padaku, yang cukup membuat hati ku bergetar.
Diana tersenyum. Aku selalu mengagumi hatimu yang entah terbuat dari apa Dee. Aku selalu mensyukuri kehadiranmu di hidupku. Kau dan Rubby bagaikan kesempurnaan yang tak dapat aku ingkari di hidupku.
Aku pun mencium kening dee, hangat seperti cintanya yang tulus.
"Iya, Dee... Terimakasih, kalian semua kesayanganku. Kita besarkan Maliq bersama-sama. Anak ini milik kita," balasku padanya.
__ADS_1
Aku membawa Maliq kembali pada Rubby, setelah mengadzaninya. Karna Dokter akan melakukan Inisiasi Menyusui Dini untuk Bayi mereka.