
Aku memggandeng Kak Dee, memasuki setiap lorong dirumah sakit itu, menuju ruangan dokter Pribadi Nya.
"Assalamualaikum, Dok," ucap Kak Dee, memasuki ruangan tersebut.
"Oh, Dee. Bagaimana? Siap kemo hari ini?" tanya Dokter.
"Siap," jawab Kak Dee, dengan antusias.
"Kamu sepertinya semangat sekali hari ini, Dee?"
"Ya... Bagaimana tidak, sekarang ada yang selalu memperhatikan saya, dan merawat saya sepenuh hati, Dok," ujar Kak Dee, dengan menggenggam tangan ku.
"Wah... Energi positif seperti nya. Baiklah, kita cek lab darah nya dulu, ya. By bisa tolong ambil kan sempel darahnya, dan bawa ke Lab?" tanya Dokter padaku.
"Bisa, Dok. Sebentar,"
Aku mempersiap kan alat pengambilan darah, dan memulai menusuk lengan Kak Dee, dan mengambil darahnya.
"Sakit, Kak?" tanya Ku.
"Ngga terasa lagi, By. Mungkin sudah terlalu kebal." Jawabnya.
Aku hanya mengangguk, dan menyelesaikan tugasku. Setelah itu, langsung ku tutup bekas suntikan itu, dengan kasa dan hypafix.
"By, bawa sample nya ke Lab ya, Kak." pamit Ku.
Aku membawa nya ke Lab, dengan do'a agar Leukimia Kak Dee, tidak makin parah.
"Permisi, Mba. Mau nganter ini," ucap Ku dengan memberikan rujukan dokter.
"Tunggu satu jam ya, Mba," jawab Perawat dengan menerima Nya.
Aku dengan sabar menunngu, sambil memainkan hp ku. Ku scrol beranda FB ku, dan melihat beberapa status Bang Halim, yang sedang sibuk dengan usaha baru nya.
"Alhamdulillah, usaha travel Abang lancar. Semoga berkah ya, Bang," lirih Ku, dengan bahagia.
Beberapa fotonya pun sudah ku beri emot Love, dan ku beri komentar penyemangat untuk nya.
"Terimamasih, By. Semoga kamu disana baik, sehat, dan bahagia." balas Bang halim.
"Mba, udah selesai." panggil Perawat padaku.
"Oh, iya, Mba." jawab Ku. Segera ku ambil hasil Lab itu, dan memberi kan nya pada Dokter.
"Dok, ini hasilnya,"
__ADS_1
"Oke... Makasih, By."
Setelah membaca hasil Lab, raut wajah Dokter pun berubah menjadi serius.
"Dok... Kenapa?" tanya Kak Dee.
"Dee... Maaf, dosis Kemo mu, harus dinaik kan. Kankermu, semakin ganas menyebar. Apakah kamu, merasakan ada bagian tubuh yang semakin sulit, digerak kan?"
"Tidak, Dok. Hanya saja, semakin sering mengeluarkan darah saat sikat gigi dan mimisan."
"Baiklah, mari kita mulai kemo nya. By, sedang tidak hamil kan?"
"Hah... Tidak, Dok. Kenapa?"
"Reaksi kimia yang akan diracik, akan bisa mempemgaruhi kehamilan, kamu tahu, kan?"
Aku hanya mengangguk paham, dengan instruksi Dokter.
"By, tunggu diluar saja. Biar Kakak bersama Dokter dan perawat yang ada." ucap Kak Dee, dengan pakaian Kemo nya.
"Ta... Tapi, Kak."
"Patuh, By!" jawab Nya, dengan nada membentak.
Aku melihat jelas, betapa Kak Dee kesakitan saat obat mulai mendarat disekujur tubuhnya.
Ia terlihat menggigil, dan meringkung menahan sakit dan mual yang luar biasa. Hingga beberapa saat kemudian, Aku mendengarnya muntah dengan parah.
"Kak... Bagaimana By bisa diam disini, sedang Kakak menderita disana? Tapi By hanya bisa patuh, saat Kakak membentak By, Kak," ujar Ku, dengan Air mata yang sudah menganak sungai, saat melihat penderitaan Kak Dee, didalam ruangan itu.
Aku begitu khawatir, hingga sesak dada ku saat menangisi nya. Hingga telpon ku berdering, karna Mas Edra menelpon ku.
" Hallo, Mas, "
" Hallo, By. Kenapa? Kamu menangis?"
"Mas... Kak Dee, ngga ngijini By masuk ruangan Kemo. Dia takut, kalau reaksi kimia dari Kemo itu, bisa mempengaruhi kesehatan By, Mas. By ngga tega lihat Kak Dee," ucap Kh, dengan tangis yang semakin menjadi.
"By... Hey, tenanglah. Aku tahu, Dee itu orang yang kuat. Buktinya saja, Dia bisa menangkis tangan Mama Mirna saat ingin menamparmu, kan."
"Iya, Mas. Tapi, Kak Dee terlihat begitu kesakitan, By ngga tega."
"Oke, sayang. Sekarang kamu tenang, ya. Nanti kan sekeluarnya dari ruangan, Dee akan kembali dalam perawatan mu. Tenang, ya."
"Iya, Mas. Udah ya, Mas. Kak Dee udah selesai, mau By beresin dulu," ucap Ku dengan menutup telpon.
__ADS_1
"Udah, Dok?" tanya Ku pada Dokter.
"Udah, By. Bantu Dee, membereskan Dirinya, ya."
Aku menyeka air mata ku, dan segera berlari menghampiri nya.
"By, kamu kenapa nangis?" tanya Nya, padaku.
"By... Khawatir, Kak. Lihat Kakak kesakitan dari luar. Kakak sampai muntah-muntah tadi,"
Kak Dee memegang lengan ku, dan memberi Ku pengertian.
"Maaf, sudah membuatmu khawatir. Ini semua demi kabaikan mu, By. Kakak ngga mau, reaksi kimia yang ditimbulkan dari obat racikan itu, mempengaruhi mu."
"Iya, Kak."
Aku membantu nya untuk bangun dari tempat tidur. Dan membimbingnya mengganti pakaian.
"Kakak, masih pusing, By. Bisa dorong Kakak pakai kursi roda?" pinta Nya pada Ku.
"Bisa, Kak. By ambil kursi nya dulu," ucap Ku, lalu pergi meninggalkan nya.
Setelah semua selesai. Ku dorong Kak Dee menuju mobil, dan pulang kerumah.
Kubaring kan tubuh lemahnya, dan ku berikan beberapa obat lagi, seperti saran dokter.
"Sudah sesakit ini, tapi tidak juga membuat Kakak sembuh, By. Kakak bosan," ucapnya, dengan bulir air mata yang mulai terjatuh.
"Kak, Kakak ngga boleh gitu. Kakak harus kuat, bukan nya Kakak pengen lihat By punya anak?"
"Tapi, kapan By? Apakah Kakak masih bisa bertahan, setidaknya satu tahun lagi? Jujur, tubuh Kakak sudah mulai lemas, bahkan bangung tidur saja begitu sulit, By."
"Kak, Kakak pasti bisa. Kakak ngga mau kan, lihat By nanti di bully Mama Mirna? Kakak harus kuat demi By ya, Kak."
Kak Dee, hanya mengangguk dan melanjutkan tidurnya.
Aku mengelus rambutnya, dan membersihkan tubuhnya dari keringat yang keluar, akibat menahan rasa sakitnya yang begitu luar biasa.
"Kak... Sabar ya. By janji, akan berusaha sekuat mungkin, agar secepatnya bisa hamil," bisik Ku padanya dan segera keluar, setelah yakin jika tidurnya pulas.
Aku menuju dapur, untuk mengambil makan siangku, dan bertemu Bi Nunik disana.
"Wah... Yang jadi Nyonya muda enak, ya. Hidupnya kaya mendadak, orang tua sama Kakaknya dikasi mobil, dikasi modal. Kayak jual diri aja," sindir Nya pedas.
"Maksudnya?" tanya Ku dengan menatap nya tajam.
__ADS_1