MADU PILIHAN ISTRIKU (RUBBY)

MADU PILIHAN ISTRIKU (RUBBY)
Bertanya-tanya


__ADS_3

Pov Rubby.


"Itu mereka kenapa lagi lah ya... Kenapa ngga ada akurnya?" gumamku, saat Kak dee berlalu dari hadapan mataku.


Aku menghampiri Mama, dan meletak kan teh itu diatas meja nya.


"By... Kamu jangan seperti Diana, ya. Lihat itu, sama Mama mertuanya ngga sopan. Mentang-mentang hartanya banyak, Dia merasa Mama hanya numpang hidup sama Dia." omel Mama mirna.


"Iya, Ma... Semoga aja," jawabku dengan senyum getir.


Aku memperhatikan setiap gerakan Mama mirna, setiap nada bicaranya, dan tatapan matanya. Tidak ada sama sekali tersirat wajah jahat ataupun mengerikan seperti yang Kak dee bilang. Tapi, semua hanya Kak dee dan Mama yang tahu, apa rahasia yang mereka berdua simpan selama ini. Hingga mereka bagaikan musuh bebuyutan yang tak akan pernah bisa berdamai hingga salah satu dari mereka mati.


"By..." panggil nya pelan, dan tenang. Setenang air danau dikampungku. Tapi, tak tahu seberapa dalam dan ada apa dibalik ketenangan itu.


"Iya Ma... Ada apa?"


"Kapan mau nginep dirumah Mama? Edra sudah bilang kan?"


"Iya, Ma... Mas edra sudah bilang. Tapi, By sama Mas mau pulang ke kampung dulu karna Abang mau nikah. Jadi setelah dari sana, baru By sama Mas nginep dirumah Mama." jawab ku.


"Haruskah pulang kampung dan mengesampingkan keinginan Mama?"


"Ma... Maaf, Ma. Tapi ini pernikahan Abang by. Dan hanya sekali seumur hidup, jadi By harus kesana. Sudah beberapa tahap dalam kehidupan nya yabg By lewatkan. Tapi, kalau kerumah Mama kan bisa kapan aja," jelasku.


"Ya... Hanya itu saja, Mama mau pulang. Dan Kamu... Mama tunggu minggu depan dirumah Mama." balas Mama, yang kembali menggunakan data datarnya. Lalu keluar dari rumah setelah menghabis kan teh nya.


Aku segera menghampiri Kak Dee dikamarnya, karn ingin menanyakan. Sesuatu.


Tok... Tok... Tok!


"Kak... Tidur?" tanya Ku.


"Engga By... Kenapa? Kakak lagi baca buku."


"Nggapapa... By bosen aja dikamar, jadi pengen ngobrol."


"Owh... Sini, duduk samping Kakak." lambai nya padaku.


Aku menurutinya. Segera ku langkahkan kaki ku menghampiri dan duduk disebelah tempat tidurnya, dan memulai pembicara'an.

__ADS_1


"Mau nanya apa, By?"


"Ehmm... By sadar By orang baru disini. Tapi, By penasaran. Apa yang buat Kakak dan Mama begitu dingin satu sama lain. Orang lain memang ngga akan tahu tentang kalian. Tapi, By benar-benar menyimpan tanda tanya selama ini." ucapku panjang lebar.


"Menurutmu sendiri... Mama mirna bagaimana? Sejak awal bertemu." Kak dee balik bertanya padaku.


"Hmmm... Awal sekali bertemu, Mama adalah orang yang benar-benar elegan bagi By. Begitu anggun, begitu perfectionist. Semua yang ada dalam dirinya itu benar-benar sempurna. Tutur katanya pun halus...."


"Halus... Tapi mematikan. Kita harus pandai menyerap semua yang Ia katakan. Kita harus benar-benar pandai memilah, mana pujian dan mana yang sindiran."


"Tapi kenapa dengan By beda rasanya?"


"Kamu baru By... Bukankah, awalnya Mama begitu membencimu? Tapi sejak mendengar kamu hamil, Dia berubah. Kamu jangan terkecoh,"


"Kak... Tolonglah, By hanya ingin tahu. Jika By tahu semuanya, By akan menghindari nya Kak."


"Kamu harus tahu sendiri... Tunggu saja. Karna Kakak tak mau membicarakan ini semua."


"Kenapa lagi? By sepulang dari kampung diminta Mama kesana loh, nginep beberapa hari katanya."


"Hmmm... Baguslah, Kakak akan butuh bantuan kamu nanti."


"Ya.... Nanti, kalau kamu sudah disana." jawab Kak dee dengan santai.


Aku perlahan merasa terabaikan dan tak digubrisnya. Hingga aku kesal, dan keluar dari kamar itu.


"Ngambek?" tanya Kak dee.


"Tau, Nanya..."


"Udah mau jadi Ibu loh... Nanti gimana ngurus anak kalau ambekan?" tanya kak dee dengan tersenyum lucu.


"Au aaaah...." jawab ku.


Aku bergegas pergi kekamar, dan merebahkan tubuhku. Ku elus perutku yang mulai membesar itu.


"Makin lama... Kenapa makin aneh sih, masa bawa'an bayi juga. Pengen tahu aja gitu, kenapa dengan Kak Dee sama Mama. Mereka bertengkar dalam kediaman dan keanggunan masing-masing. Ngga kayak di drama mertua dan menantu yang berantem itu." gumam ku.


Tanpa sadar aku tertidur dalam rasa penasaran itu, hingga tak terasa, sudah tengah hari.

__ADS_1


"By... Bangun." ucap Kak dee.


"Hmmm... Kenapa?"


"Ngga anter makan siang Mas edra?"


"By males, By pengen tiduran aja. Ngga tahu kenapa," jawab ku, dengan nada lemas.


Kak dee memeriksa jidat dan tengkuk leherku.


"Eh iya, anget loh. By kenapa, demam?"


"Engga... Lemes aja. Kakak aja yang anter makan buat Mas. Kakak kelihatan sehat."


"Ya Allah... Kamu ini, udah makan belum? Tadi ngga minum vitamin ya? Apa gimana?"


"Kak... Jangan ngomel, ini By lemes. Nanti Kakak omelin By pingsan lagi."


"Yaudah... Kakak diem. Kakak minta Bik Inah antar makanan kesini, ya. Kakak mau ke kantor Mas dulu," ujar Kak dee padaku.


"He'emh... Hati-hati," pesan ku padanya. Dan setelah Ia pergi, aku kembali tidur, sembari menunggu makanan ku datang.


Pov Diana.


"Bik Inah... Tolong antar makan siang buat Rubby. Dan tolong, dikontrol vitamin nya ya. Saya mau kekantor Bapak dulu." ucap ku pada Bik Inah.


Setelah Ia meng'iyakan, Aku segera kekamar, dan mengganti pakaianku untuk menuju kantor Mas edra.


Dengan setelan kemeja dan celana berwarna coklat susu, ku pakai Wig ku yang berwarna senada dengan rambut panjang dan bergelombang. Tak lupa, ku pakai lipstik merah merona, agar lebih segar untuk dipandang.


Ku langkahkan kaki menuju mobil, dimana Mas Bima sudah menunggu disana.


"Loh... Ibu yang pergi?" tanya nya.


"Iya... By ngga enak badan. Ayo berangkat, keburu lewat jam makan. Bapak punya magh," perintahku.


Mas Bima menurutinya, lalu menginjak gas dengan kecepatan sedang, hingga akhirnya sampa dikantor Mas edra.


Aku turun, memperhatikan kantor yang besar dan luas itu. Ku hela nafas panjang. Dan mulai memasuki lingkungan perusaha'an yang sudah susah payab dibangun oleh almarhum Papa mertuaku itu.

__ADS_1


"Hhhh... Perusaha'an ini, siapa sangka... Untuk mempertahankan nya dalam genggaman Mas edra, Harus mengorban kan Satu nyawa. Dan bahkan aku hampir saja menjadi korban kedua...." gumamku, sa'at menuju ruangan Mas edra.


__ADS_2