MADU PILIHAN ISTRIKU (RUBBY)

MADU PILIHAN ISTRIKU (RUBBY)
Adu argumen


__ADS_3

Pov edra.


Aku terbelalak dengan kata-katanya barusan. Ingin aku menjawab, namun aku ingin fokus ke shalat subuhku terlebih dahulu.


Setelah shalat subuh, baru aku datangi beliau, dan menanyakan maksudnya.


"Ma'af, Pak lurah... Apa maksud bapak bicara seperti itu pada saya?"


"Kamu yang apa maksudnya sama saya? Kamu kenapa memfitnah anak saya, hingga masuk penjara? Merasa kurang hebat kamu dari Ramlan, hingga harus merebut Rubby dengan cara seperti itu?" ucap pak Lurah, dengan nada tinggi.


"Ma'af... Kenapa saya yang harus memfitnah Ramlan? Dan kenapa saya yang harus merebut Rubby dari nya. Rubby istri sah saya, dan kami sudah menikah hampir Satu tahun ini." jelasku.


"Tapi kenapa harus memfitnah anak saya, dan memasukan nya kedalam penjara? Salah dia pada anda?"


"Sepertinya... Istri anda tak menceritakan semua secara terperinci bukan? Dia hanya menceritakan versi nya saja?"


"Bukan kah begitu nyatanya? Apa maksud anda, istri saya berbohong?"


"Sepertinya begitu. Sayangnya, Hp Rubby pun sudah dihancurkan istri Bapak. Padahal... Semua bukti ada disana,"


"Saya tidak percaya... Mana mungkin istri saya bisa seperti itu, Mengada-ada anda. Saya bisa menuntut anda nanti!" ancamnya.


"Dengan alasan apa? Fitnah? Bukan kah istri anda yang sering memfitnah istri saya?"


"Anda ini...! Anda sudah merasa jadi orang hebat, hanya karna anda mempunyai banyak uang?"


"Apakah anda juga sudah merasa hebat, ketika anda memiliki jabatan penting dikampung ini? Jika anda mau menuntut, saya tunggu anda dipengadilan. Ajukan saja, jika anda menang, saya akan dipenjara. Dan jika saya yang menang, Ramlan akan kecewa dan semakin stres, jabatan anda akan dicopot dengan paksa, dan kalian bahkan akan mendapat nama buruk dikampung ini. Bukankah, itu kesialan bertubi-tubi bagi kalian. Dan ingat, itu bukan salah Rubby lagi. Tapi murni salah kalian sendiri. Assalamualaikum.... " pamitku, dengan menyunggingkan senyum secerah menyari yang mulai bersinar.


Aku kembali kerumah Ibu, untuk membantu mereka semua berberes semua sisa pesta kemarin.


"Dra... Sudah lah, tak usah ikut membantu, sudah banyak orang yang bekerja. Sini saja, ngobrol sama Bapak." panggil Bapak mertuaku.


"Ngga papa Pak... Lagian, Edra capek kalau harus diem terus. Bergerak gini, cari keringat kan sehat." sahut ku dari kejauhan.


"Biar sih Pak... Biar Mas edra ngerasain, susahnya kerja berat. Biasanya kan, dikantor aja." sambung Rubby.


"Kerja berat diluar itu, terasa lebih ringan, jika harus dikantor besar yang menguras isi otak By. Apalagi, Edra adalah seorang direktur. Pasti pusing, dengan ribuan karyawan."


"Iya, Pak... By ngerti, By cuma ngeledek aja tadi." balasnya.


"Mas... Ngeteh dulu, ini udah By buatin mupung anget," teriaknya padaku.

__ADS_1


Aku menghampirinya, dan mulai meminum teh ku.


"Pak... Lihat penampilan anaknya, suka ngga?" tanya ku pada Bapak, dengan melirik Rubby.


"Suka sekali, apalagi jika seterusnya begini. Cantik anak Bapak,"


"Bapaaak... Jangan ngeledek, By baru belajar, nanti gara-gara malu, By lepas lagi gimana?" rengek By.


"Jangan Ih... Masa cuma karna diledek Bapak, langsung mau lepas. Ngga baik, ngga istiqamah. Mas ngga suka," balasku.


"Iya... Ma'af. Mas, tadi Mama nelpon nanyain kapan pulang,"


"By jawab apa?"


"Nanti siang kata By."


"Kakak ngga nelpon?"


"Engga... Wa juga ngga ada. By takut ada apa-apa,"


"Justru, kalau ada apa-apa maka Ia akan memberi kabar. Kalau Kakak mu tak berkabar, itu tanda nya Ia sedang sangat baik-baik saja dengan hobi barunya," jawabku.


Mereka semua tertawa mendengar perkata'an ku. Dan mulai membalas canda'anku satu persatu.


" Dra... Lihat lah ini, album foto kecil Rubby. Bersama para tetangga dan sahabatnya." ucap Ibu, dengan menunjuk beberapa foto.


"Wahahahaha... Lucu sekali, menggemaskan ternyata." tawaku melihat fotonya.


"Ibu... Kenapa di keluarin, By malu. Ya ampun," omel By.


"Ngga papa lah sayang, sukur-sukur buat hiburan. Dan nanti, kalau anak kiga mirip kamu, Mas ngga kaget."


"Maksudnya... By jelek? Mas jahat iiiih,"


"Engga... Bukan begitu, maksudnya. Mas kan tinggi besar, dan kamu mungil. Gitu aja ngambek loh,"


Rubby hanya memanyunkan bibirnya menjadi beberapa Centimeter kedepan.


"Mas mau bawa ini deh... Mau kasih tahu Kak dee, buat hiburan dia nanti."


"Masss... Ngeselin! Kenapa By dibully disini," rengeknya yang mulai kesal.

__ADS_1


"Biarin lah By... Katanya By pengen buat Kak dee bahagia." ujar Ibu.


"Tapi ngga gitu juga... Itu harga diri By, Huaaaaaa!"


Ia semakin kesal, dan pergi memasuki kamarnya.


Aku menyusulnya kekamar, dan membujuknya dengan penuh cinta.


"Sayang...." ucapku dengan mengedipkan mata.


"Au ah... By kesel,"


"Ngga usah gitu ih... Kan sekali-kali, kita bisa bercanda gini, sama Ibu dan Bapak. Masa By gitu,"


"By udah berkemas? Biar Mas bantu,"


"Ngga usah... Udah dibantuin Ibu tadi, tinggal berangkat aja."


"Yaudah, kita pamit ke orang-orang disini yuk. Kita ucapin terimakasih, karna sudah membantu semua acara kita,"


"Itu 'kan tugas Bapak sama Ibu."


"Ya Mas pengen ngucapin sendiri, ngga papa kan? Sekalian, mau kasih bingkisan kecil buat mereka."


"Mereka disini kerja gotong royong Mas. Bukan minta digaji,"


"Mas tahu, Mas faham. Tapi mereka disini sudah sangat baik sama kita, makanya Mas mau kasih sebuah tanda terimakasih, supaya mereka makin senang 'kan,"


"Yaudah... Terserah Mas aja, yuk lah. Mupung mereka semua kumpul. Udah itu, kita pulang. Mama udah nunggu," ujarnya padaku.


Pov Rubby.


Akhirnya aku termakan lagi oleh bujuk rayunya. Aku menurutinya untuk memberi bingkisan dan tanda terimakasih pada semua tetangga dan sanak saudara yang sudah berjasa membantu kami untuk mengadakan pesta ini. Meskipun sebenarnya, mereka melakukan semua ini, atas dasar suka rela dan gotong royong.


"Mas mau ngasi berapa?" tanya ku.


"Seratus ribu lah perorang," jawabnya santai.


"Mas, yang ngerjain semua ada lebih dari Seratus Lima Puluh orang. Berarti, Mas ngeluarin lebib dari Lima Belas Juta buat mereka."


"Ngga papa lah... Sekali-kali, kan ngga setiap hari juga," jawabnya lagi.

__ADS_1


Suamiku, Madu ku, mereka sama-sama royal dalam keuangan. Hanya aku saja yang belum berani seperti mereka, karna aku saja masih menerima dari mereka semua, dan aku masih takut untuk menggunakanya selain untuk keperluan rumah, dan keluarga.


"Huuftzzzz... Terserah lah Mas... Asal kamu bahagia saja," gumam ku, seraya mengikutinya dari belakang.


__ADS_2