
Pov Rubby.
"Bibik kenapa menangis? Begitu sakit kah kata-kata Kak dee?" tanya ku padanya, yang sedang memeluk sebuah foto.
"Itu foto siapa? Coba By lihat?"
Bik inah lalu memperlihatkan foto itu padaku. Aku menatapnya, dan benar, sosok yang ku temui kemarin adalah suami Bik inah, Pak hadi.
"Ini 'kan, Bapak yang kemarin By temuin,"
"Kalian ketemu dimana, By?"
"Di... Rumah Sakit Jiwa, Bik." jawabku.
Bik inah terkejut dengan pernyata'nku. "By... Dia.....?"
"Kayaknya Engga, Bik. By tahu, sepertinya beliau hanya berpura-pura. Tapi, apa alasanya?"
"Pura-pura?"
"Iya... Dia masih paham dengan Kak dee, dan mereka membahas tentang masalah itu. Ngga tahu masalah apa. Bibik tahu?"
"Ya... Bibik tahu. Bahkan masih teringat jelas dalam ingatan Bibik hingga sekarang." jawabnya.
Bik inah lalu menceritakan semua kejadian itu menurut versinya, yang mana cerita itu berpihak pada Kak dee, dan menekan kan bagian kejahatan Mama mirna.
Aku terkejut, dan tak menyangka, jika Wanita seanggun Beliau, ternyata juga sejahat itu.
Bik inah menyelesaikan ceritanya, dan mengusap air matanya yanh kembali mengalir.
"Bibik yang sabar. Yang meninggal, jangan terlalu dikenang. Ikhlaskan, dan buat diri Bibik sendiri bahagia dengan jalan Bibik. Itu lah cara agar Almarhum anak Bibik, juga tenang."
"Iya... Bibik akan berusaha lebih kuat lagi,"
Aku berdiri, dan berjalan kembali menuju kamarku. "Oh iya, Kak dee besok siang mau ngajak Bibik ke suatu tempat. Bibik mau 'kan?"
Bik inah hanya mengangguk, dan tak mengeluarkan kata-kata lagi.
"By... Kenapa dikamar Bik inah?" tanya Mas edra, mengagetkan ku.
"Eh... Mas udah pulang, udah lama?" tanya ku, lalu mencium tanganya.
"Udah... Kakak mana?"
"Kakak dikamar, istirahat. Yuk Mas mandi, By kangen bau badan Mas." rayuku, sambil merangkulnya kekamar.
Aku membantunya membuka baju satu persatu, karna kebiasa'an baru ku itu, Mas edra memakai Dua baju dalam sekarang. Yang satu khusus untuk ku, karna baju bagian luar pasti kotor, dan banyak kuman.
__ADS_1
"Nih... Jatahmu," ledeknya padaku.
Aku begitu senang menerimanya, langsung ku peluk dan ku ciumi dengan hangat.
"Mas kan disini, peluk Mas aja sih, kenapa harus keringetnya." ucapnya padaku.
"Mas... Ini bisa By peluk kapan aja, karna By sadar diri, Mas itu punya Dua istri, dan By ngga boleh egois untuk memilik Mas sendiri. Jadi, selama Mas sama Kak dee, By bisa peluk ini kalo dedek bayi kangen." balasku.
"Ya Allah sayang, Mas kirain kamu memang aneh," ledeknya sambil tertawa terbahak-bahak.
"Ish... Ngeledek bisanya. Mas... By bebasin Bang ramlan ya? Boleh? Kasihan dia,"
"Kasihan?"
"Iya... Bapak sama Bu lurah udah dipecat ternyata. Jadi mereka karna malu kabur kekota. Takutnya, tanpa Bang ramlan, mereka terlunta-lunta."
"Hah? Mereka disini? Jangan-jangan, dia yang mau menabrakmu tadi?"
"Mas, Ih... Jangan suudzon. Udah sana, temuin Kak dee. Sepertinya lagi banyak fikiran."
"Ngga mau bermanja dulu?"
"Engga... Udah ada bau nya, jadilah buat temen tidur." balasku. Dan Mas edra lalu keluar dari kamarku.
Pov edra.
"Dee..." tegurku, yang melihatnya masih membaca buku.
"Mas, kenapa kesini? Bukanya dengan Rubby?"
"By nyuruh kesini katanya, Dia merasa ada yang aneh dengan mu, kenapa? Memikirkan sesuatu?"
"Ah... Anak itu, kenapa tahu semua tantangku. Ngga ada, Mas. Hanya memikirkan perusaha'an saja. Ada beberapa proyek, yang sedikit terganggu," jawabku beralasan.
"Benar? Bukanya itu urusan Thomas dan Rara?"
"Ya... Meskipun itu urusan mereka, tapi perusaha'an itu juga milik ku, jadi aku harus tetap mengetahui isi didalamnya 'kan?"
"Ya... Kamu betul. Oh iya, kapan jadwal kemo mu?"
"Esok lusa, kenapa? Mau nemenin?"
"Ya jelaslah, sejak By hamil 'kan, semua menjadi kembali lagi ke aku. Kalau begitu, besok Mas lembur lagi ya. Biar lusa bisa libur. Sekarng kita tidur yuk, Mas capek banget."
"Engga sama By?"
"Engga, dia katanya udah dapet keringetnya jadilah. Mungkin masih mau tidur sama Ibu," jawabku, lalu memejamkan mata.
__ADS_1
Paginya, semua berkumpul dimeja makan seperti biasa. Begitu juga Ibu dan Halim beserta istrinya.
"Dra, Diana, hari ini Ibu pamit ya? Ibu mau bantuin Halim saka Fitri buka toko."
"Hmmm... Pulang? Edra baru mau ambil libur untuk nemenin kalian jalan-jalan. Setelah Diana kemo tentunya," jawabku.
"Ngga usah lah. Fokus saja sama Diana dengan pengobatanya. Karna juga, niatnya nanti Ibu mau adakan Do'a bersama untuk mendo'akan Almarhum orang tua Halim." ucap Ibu.
"Oh iya? Apa. Saja yang dibutuhkan dalam acaranya? Karna Edra sekeluarga ngga bisa datang, edra bantu keuangan aja ya, Bu?"
"Eeeeh... Ngga usah, uangnya ada. Ngga usah repot-repot. Nanti, kalau ada waktu senggang, adakan saja acaramu sendiri Dra, kan bagian tubuhnya ada padamu."
"Oh... Baiklah, Edra akan mengusahakanya. Ya, Ibu tahu sendiri kondisinya bagaimana."
"Iya... Ibu mengerti." jawabnya.
Selesai sarapan, aku membantu mereka membereskan barang sejenak, dan melepas mereka pergi kembali kekampung, lalu aku sendiri berangkat kekantor ku.
Pov Author.
Selepas kepergian Edra, Diana duduk ditaman kecilnya, dan tak disangka, Bik inah datang menghampirinya dengan pakaian rapi.
"Dee... Bibik sudah siap," ucapnya pada Diana.
Diana menyunggingkan senyumnya, lalu kekamar untuk berganti pakaian. Tak lupa Ia berpamitan pada Rubby.
"By... Kakak pergi, ya. Kamu dirumah baik-baik,"
"Kakak mau kemana? By ikut, boring dirumah sendirian,"
"By, Kakak cuma sebentar, ngga lama. Lagian ngga akan ada siapa-siapa kemari. Satpam Kakak suruh standbye didepan. Kalau malas masak tapi laper, delivery aja." pesan nya.
"Iya... Tapi janji jangan lama-lama, pegel tiduran mulu,"
"Iya... Yaudah, Kakak pergi dulu, ya. Assalamualaikum,"
"Wa'alaikum salam," jawab Rubby.
Diana dan Bik inah lalu menaiki mobil, dengan Mas bima didalamnya, yang siap mengantar mereka kemana. Saja.
"Mas, RSJKO ya," pinta Diana. Dan Mas bima meng'iyakan nya.
Sepanjang perjalanan, wajah Bik inah terlihat begitu tegang, Ia menahan tanya, marah, dan juga begitu rindu dengan sosok yang akan Ia temui. Ya, lelaki itu adalah Pak Rahadi, suaminya yang sudah pergi tanpa jejak selama Lima tahun ini.
Entah alasan apa membuatnya pergi jauh sa'at itu. Membuat semua permasalahan mengambang tak jelas penyelesaianya. Dan sekarang, Diana memintanya kembali, untuk menjadi saksi kunci dari permasalahan itu. Kau kah Ia?.
Itu yang menjadi pertanya'an terbesar dalam benak Diana sa'at ini.
__ADS_1