MADU PILIHAN ISTRIKU (RUBBY)

MADU PILIHAN ISTRIKU (RUBBY)
Perhatian kecil


__ADS_3

Mas edra lalu mengambil maliq, dan menimangnya. Sedang aku, mendekapnya dari belakang.


"Mas... By salah, By memang durhaka sama Kakak. By nyesel, Kakak pasti kecewa," tangis ku pecah.


"Kenapa? Kenapa menyesal? By ngga salah."


"Bahkan Mas sendiri marah sama By sa'at itu."


Mas edra membalik badan, "Sayang, sa'at itu Mas kalut, kamu tahu itu. Dan sekarang ngga usah menyesali apapun yang terjadi. Kita ngga tahu, apa yang terjadi dengan Kakak setelah itu. By hanya menegur dan memberi pendapat."


Aku hanya diam, dan mengusap air mataku, tak mampu menatap matanya. Namun, Ia jari telujuknya mengangkat dagu ku, dan mengarahkan padanya, tepat didepan mata.


"Kalau menyesal, Mas juga begitu menyesal, terutama dengan kejadian lalu, yang bahkan Mas ngga bisa membelanya dihadapan keluarga yang menganggapnya depresi. Tapi, By, Kakak itu orang yang kuat. Lebih kuat dari duga'an kita. By faham itu. Sekarang, hapus air mata By, kembangkan senyuman By, jangan pernah ada air mata lagi kecuali air mata bahagia kita. Karna Kakak pasti ngga akan mau melihatnya."


Aku mengangguk dan kembali memeluknya.


"Makan siang Mas mana?" tanya nya padaku.


"By ngga bawa, tadi kan perginya kekantor Kakak bukan kesini. Kesini nya mampir aja."


"Lah terus? Mas laper loh," keluhnya.


Aku mendekatkan telinga keperutnya, lalu terdengar bunyi.


"Ah... Laper betulan, makan yuk, tapi dikantin bawah. By juga laper, kaykanya kalau bisa beradu, sudah bikin konser perut kita," candaku.


"Maliq gimana?"


"Ya dibawalah, Mas... Mana bisa Maliq ditinggal. Disentuh orang lain aja ngga mau," jawabku.


Mas edra lalu menggandengku, dan kami berjalan kebawah.


"Pak... Biar Maliqnya saya bawa, nantiĀ  susah makan nya," tawar Winda.


Dengan ragu Mas edra memberikan nya pada Winda, perlahan tapi pasti.


"Wah... Ngga nangis, amazing." kagum ku. "Tapi, Mba winda, ikut kami ya, takutnya rewel, nanti malah ganggu orang sekantor." pintaku.


Winda pun menurtiku, dan mengikuti kami dari belakang. Mengasuh Maliq dengan begitu telaten.


"Bapak sama Ibu makan aja dulu, biar saya disini. Saya udah duluan tadi," ucapnya.

__ADS_1


Aku dan Mas edra memesan makanan kami, dan menunggu makanan datang. Aku mengotak atik isi tas hingga sesuatu jatuh kebawah.


"Aish, jatuh pula."


"By cari apa?"


"Cari mainan kesuka'an Maliq, yang dari Bundanya. Dia paling seneng main itu." jawabku, dengan menurunkan kepalaku dibawah mencari benda tersebut.


Pov edra.


"Dasar ceroboh, kalau seperti itu mencarinya, bisa kejedot nanti." gumamku dalam hati. Lalu, aku meletakan tangan ku diujung meja, persis dimana kepala Rubby berada.


"Auuuwh..." lirihku, sa'at Rubby mengangkat kepalanya.


"Lah... Mas kenapa?" tanya nya polos.


"Bapak tadi naruh tanganya diujung meja, buat ngelindungin Ibu, biar ngga kejedot." tawa Winda, terkikik.


"Ooowh... Pantes rasanya lain, ma'af ya, Mas,," godaku padanya, dengan menciumi tanganya yang sakit.


Makanan datang, aku dan Rubby mulai bersantap bersama. Sebuah moment yang jarang terjadi sejak kelahiran Maliq, terutama setelah Bundanya meninggal.


"By maunya, perusaha'an itu dipegang sama Mas thomas aja lah. By ngga ngerti. Tapi, nanti by minta buat perusaha'an itu jadi donatur Yayasan, atas nama Kakak, boleh kan?"


"Boleh lah, boleh banget malahan." jawabku.


Aku mengusap kepalanya yang kini semakin mantap berhijab itu. Wajahnya yang semakin bersih, memberikan kesan tersendiri bagiku.


Kamu, kamu adalah takdirku sekarang. Takdir yang tanpa ku duga dan ku rencanakan, namun kini berada didepan mata. Kamu yang mengisi hari-hariku sekarang. Membuat hatiku bahkan tak sempat sedikitpun kosong, meskipun pernah kalut karna kepergianya. Kamu, bidadari tanpa sayap, yang tak akan lagi kulepaskan, biar sedetikpun.


"Mas...." ucapnya, membuyarkan lamunan ku.


"Hah, kenapa?"


"By udah kenyang, By pulang, ya?"


"Kenapa pulang? Enakan disini temenin Mas. Katanya mau belajar tentang perusaha'an?"


"Siapa bilang? Ngga ada ish... Udah ah kenyang," jawabnya, lalu mengambil maliq dari Winda.


"Yaudah, hati-hati..." jawabku, sa'at Ia mencium tangan.

__ADS_1


Aku menatapnya pergi bersama Maliq, sampai Ia hilang dari pandanganku.


"Lihat Win, Dia yang mengubah dunia saya sekarang. Dia yang memegang kendali penuh atas hati ini. Bersama Maliq,"


"Iya, Pak... Saya do'akan, semoga Bapak dan Ibu selalu langgeng, dan mesra seperti ini."


"Mesra? Apa itu mesra?"


"Hah? Mesra itu seperti Bapak memperlakukan Ibu tadi. Memberi tangan Bapak sebagai alas agar Ibu tida terantuk ujung meja. Itu adalah sebuah perbuatan kecil, tapi sarat akan makna." jawab Winda. Meyakinkan ku.


"Benarkah? Wanita akan senang diperhatikan seperti itu?"


"Apa Nyonya tidak pernah diperlakukan begitu?" tanya Winda lagi.


"Win, Diana adalah wanita yang kuat dan mandiri. Bahkan, ketika saya perhatian dengan penyakitnya, justru Ia marah, karna merasa dikasihani. Makanya, sebagaimanapun mencoba, saya akan selalu bersikap dingin, agat Diana merasa memang dirinya harus kuat, menurut Dia sendiri. Tahu kan maksudnya?


"Sangat tahu, Pak. Dan Ibu Rubby, adalah orang yang berbeda. Meskipun cuek, tapi senang dengan perhatian kecil bukan?"


"Ya... Sepertinya begitu. Teringat sa'at kamu menyarankan untuk memberikanya bunga. Ia sangat bahagia, tapi Ia tak mau menerimanya lagi, karna tahu Dee alergi."


"Berikan kembali, buat Ibu bangkit dari keterpurukanya. Sepertinya, Ibu sedang menyimpan sebuah penyesalan mendalam sa'at ini."


"Ya... Saya tahu, saya pun pernah menceritakan sama kamu, Win."


"Iya... Saya ingat. Ibu masih muda, dan fikiranya masih labil. Dalam hal ini, Bapak lah yang harus mengayominya."


"Iya... Saya tahu, dan saya faham. Apa ide mu?"


"Ide buat apa?"


"Ide menaklukan hati Rubby,"


"Bapak lebih faham itu. Seperti bagaimana cara Bapak menaklukan hati Nyonya dulu,"


"Baiklah... Saya akan mengajak nya kembali pacaran." jawabku antusias.


"Hah?"


"Iya, jelas.... Karna dari awal, kami belum pernah pacaran sama sekali. Bahkan, waktu perkenalan pun terlampau singkat. Hingga rasanya, saya tak faham apapun tentang Dia. Dan sekarang, saya tertantang, untuk menaklukan hatinya."


Winda hanya tersenyum dan menggelengkan kepala melihat tingkahku hari ini. Entahlah, apa yang Ia fikirkan. Yang jelas, aku begitu bersemangat mearaih hati Rubby seutuhnya untuk ku.

__ADS_1


__ADS_2