MADU PILIHAN ISTRIKU (RUBBY)

MADU PILIHAN ISTRIKU (RUBBY)
Cemburu buta


__ADS_3

"Winda... Bagaimana menurutmu, jika Ibu berubah. Sepertinya, sekarang sedang begitu mmbenci saya?" tanyaku pada Winda ketika dikantor.


"Mungkin... Ibu hanya lelah, atau sedang datang bulan, Pak? Karna biasanya, wanita datang bulan sering ngga stabil emosinya, apalagi Ibu sedang sibuk mengurusi anak dan perusaha'an." jawabnya padaku.


"Entahlah.... Biasanya, meskipun datang bulan. Ah... Entahlah, membuat saya curiga saja."


"Curiga.... Tentang apa? Atau... Bapak curiga jika Ibu punya laki-laki lain?" tawanya terbahak-bahak.


"Kenapa tertawa?"


"Ma'af, Pak. Kalau menurut saya, tak mungkin."


"Kenapa tidak? Ibu masih muda. Dia Sepuluh tahun lebih muda dari saya. Atau... Karna saya sudah tua?" tanyaku, dengan menatap wajahku sendiri dikaca.


"Pak... Bapak cemburu sama siapa sebenarnya? Ibu ngga akan mungkin selingkuh. Begitu banyak lelaki tampan, dari semua kalangan, pernah mencoba mendekati Ibu, tapi Beliau tak menanggapinya."


"Itu dulu, sebelum Ia sepandai sekarang. Sudahlah, saya sedang curiga. Kirim detektif swasta untuk mengawasinya sekarang. Laksanakan!" perintahku.


"Ba... Baik, Pak." jawabnya dengan gugup, lalu pergi meninggalkan ku dengan sejuta pertanya'an yang begitu menyiksa didada.


Aku masih penasaran dengan sikapnya, ku ambil ponselku dan menelponya.


"Assalamualaikum, sayang."


"Wa'alaikum salam. Kenapa, siang-siang nelpon?"


"Ngga papa, rindu aja. Ngga boleh?"


"Au ah... By lagi males, males ngapa-ngapain. Jemput si kembar aja Mas bima sendirian."


"By... Sayang, kenapa sih? Kenapa jutek banget sama Mas? Mas kangen loh, Dua minggu ngga ketemu." rayuku.


"Baru Dua minggu, biasanya juga sama-sama terus. Udah lihh, By lagi males nih. Pengen nonton drakor, nanti kan ketemu."


"Yaudah... Assalamu'alaikum."


"Kumsalam," jawabnya singkat, lalu menutup telponya.


"Masih seperti itu, dan lebih jutek. Kenapa membuatku kesal? Kenapa?" tanya ku, gemas.


Seharian aku tak fokus kerja, tak ingin melakukan apapun. Bahkan, aku ingin menjadi detektif untuk istriku sendiri. Mencari tahu, kebenaran yang terjadi, tentang perubahan dalam dirinya sekarang.


Aku mengambil jaketku, dan meminjam motor Gusti, untuk mengawasi istriku selama beberapa hari.


"Aku tak memerlukan jasa detektif lagi. Lebih puas jika turun tangan sendiri." gumamku.


Menggunakan motor sport gusti, misi ku mulai dengan cara mengawasi gerak geriknya dari luar rumah. Namun, untuk hari ini tak ada yang mencurigakan, hingga aku mutuskan pulang kekantor, setelah Tiga jam mengawasi rumahku sendiri.

__ADS_1


Pov Author.


Edra sudah hampir seminggu mengawasi istrinya sendiri, hingga gerak geriknya dicurigai Rubby, yang melihatnya ketika sedang menyiram tanaman.


"Bik... Bik inah!" panggilnya.


"Iya, By, kenapa?"


"Itu, dari kemaren, By lihat ada orang itu mengawasi rumah. Siapa, ya? By jadi takut. Teringat, Bang ramlan dulu."


"Bibik juga ngga tahu, By. Siapa, ya?"


Mereka saling melempar tanya, namun tak ada jawaban sama sekali. Rubby ingin memberi tahi edra, namun, ketika sudah memegang ponsel, melihat nama nya saja Ia ingin marah. Sehingga, tak jadi dilakukanya.


"Kenapa ngga jadi nelpon?" tegur Bik inah.


"Ngga tahu lah... Lihat nama sama fotonya diponsel saja, sudah malas, ingin memarahinya." jawab Rubby.


"Kenapa sih? Sudah seminggu kalian begini? Kasihan edra,"


"By ngga tahu, By hanya kesal melihat wajahnya, bau badanya, dan semua tingkahnya."


"Ntah lah, By... Aneh-aneh saja kamu ini." ujar Bik inah, lalu meninggalkanya.


"Aku kenapa?" batin Rubby bertanya-tanya.


Sudah waktunya menjemput si kembar, dan Rubby menaiki taxi online kali ini, karena Mas bima izin membawa mobil untuk keluarganya pulang kampung.


"Tidak ada yang mencurigakan. Tapi, harus tetap aku ikuti." gumam edra.


Selepas menjemput sikembar, dan membawanya pulang. Rubby kembali keluar, dengan pakaian rapi, menggunakan taxi yang sama.


Edra terus mengikutinya, hingga sampai ke sebuah Restaurant, langganan keluarga mereka. Rubby turun dari taxi, disusul edra yang turun dari motor, dan mengikutinya dari belakang.


"Bertemu siapa Dia, siang-siang begini?" gumanya lagi.


Dilihatnya, Rubby menghampiri seorang Pria muda, dengan tubuh gagah dan tegap. Bersalaman dengan senyuman yang begitu ramah, dan mengobrol dengan akrabnya, bagai sepasang kekasih yang lama tak bertemu.


"Apakah dia yang mengalahkan pesonaku dimatamu? Baiklah, ku akui, Ia memang masih muda dan lebih gagah dari ku. Tapi, apakah itu incaranmu? Aku kan bisa ngeGym," omelnya, dengan melihat diri sendiri.


Makin lama, edra melihat mereka semakin akrab. Hingga membuatnya semakin terbakar api cemburu yang menggebu-gebu. Karna tak tahan, edra menghampiri mereka dengan emosi.


"By...." panggilnya, lalu menarik tangan istrinya itu.


"Aauwh... Sakit, Mas. Mas kenapa kesini?" tanya Rubby.


"Kalau ngga kesini, ngga akan ngelihat kamu janjian sama cowok."

__ADS_1


"Ya... Emang, By janjian disini sama Dia." jawab Rubby.


"Perkenalkan, saya Anton." ucap pemuda itu.


"Ngga usah kenalan. Lancang kamu, ngajak ketemu istri orang sembarangan. Tahu kan, dia punya suami, dan anaknya udah Empat?" tanya edra dengan penuh emosi.


"Ma'af, kami janjian karna..."


"Udahlah... Jangan ganggu istri saya lagi, atau..."


"Atau apa, Mas?" potong Rubby.


"Ayo pulang," tarik edra.


"Obrolanya belum selesai," jawab Rubby.


"Pulang, atau..."


"Atau apa?" tanya Rubby lagi.


"Ma... Ma'af, saya ngga mau ikut campur dengan urusan ini." sahut anton.


"Loh, ini gara-gara anda loh. Jangan coba-coba lari dari tanggung jawab." tunjuk edra pada anton.


Rubby meraih tangan edra, "Mas, jangan asal tunjuk orang. Ngga sopan,"


"Dia, yang ngga sopan. Ngajakin ketemuan istri orang. Kamu lagi, kenapa mau diajak keluar sama Dia?" omel edra pada Rubby.


"Mas... Ini ngga seperti yang Mas fikirin." sela Rubby, dengan memegangi kepalanya yang mulai sakit.


"Nyatanya begini kok... Pantes, By kayaknya lagi benci banget sama Mas... Ternyata ada cowok ganteng lagi cari perhatian." omel edra.


"Pak... Kami janjian disini, karna mau ngomongin bisnis. Bukan janjian ngedate."


"Bisnis? Kenapa By ngga ngasih tahu? Biasanya, kalau memang bisnis, pasti nelpon."


"Mas... By nelpon, tapi ngga diangkat. By fikir Mas rapat. Aduh, kepala By gliyengan." keluh Rubby, lalu jatuh kepelukan anton.


"Ya Allah, By kenapa jatuhnya kearah sana?" omel edra lagi.


"Ya Allah, Pak... Namanya jatuh pingsan, mana bisa direncanain jatuh nya mau kemana?" balas Anton.


Edra lalu meraih nya, dan menggendongnya, membawanya keluar.


"Waduh... Pakai motor lagi," lirihnya.


"Pakai... Mobil saya saja. Biar saya antar."

__ADS_1


"Kamu yang nyetir, saya dibelakang sama istri saya."


"Ya... Iyalah, Pak. Ngga mungkin juga, saya yang dibelakang." jawab anton, yang mulai kesal.


__ADS_2